Beranda > Metafisika Pangan

 

bab delapan 

METAFISIKA PANGAN

“Tiada yang lebih sulit selain membangunkan seseorang yang sedang berpura-pura tidur lelap.”

—Uskup Desmond Tutu

 

“Semua makhluk bergemetaran menghadapi penganiayaan. Semua takut mati. Semua mencintai kehidupan. Lihatlah dirimu di dalam diri orang lain. Maka siapakah yang dapat engkau sakiti? Perbuatan jahat apakah yang dapat engkau lakukan?”

—Buddha

 

“Setiap orang, cepat atau lambat, pasti akan menerima sejumlah besar akibat-akibat.”

—Robert Louis Stevenson

 

Memakan Getaran-Getaran

Makanan hewani mengandung racun fisik dan metafisika. Racun fisik di dalam makanan hewani seperti lemak trans, patogen, pestisida, obat-obatan, dan residu hormon, selain merusak kesehatan tubuh kita, bisa juga mengganggu kita secara emosi dan kejiwaan. Suasana hati yang cepat berubah, mudah marah, dan hilangnya konsentrasi adalah efek samping yang terkenal dari obat-obatan dan zat kimia, dan daya dari zat-zat psikoaktif (yang mempengaruhi pikiran dan tingkah laku) dimana telah didokumentasikan dengan baik. Kita kini lebih memamahi apa yang telah Pythagoras ajarkan pada kita: bahwa menyantap makanan hewani akan menyebabkan efek-efek negatif terhadap kesadaran kita; satu biomekanisme yang diakui untuk hal ini adalah hormon seks testosteron. Ken Wilber, ahli teori kesadaran menulis, Kajian pada testosteron—di laboratorium, dari ragam budaya, secara embrio, dan bahkan apa yang terjadi pada saat wanita diberi suntikan testosteron karena alasan pengobatan—semuanya merujuk pada satu kesimpulan sederhana. Saya tidak bermaksud untuk bicara kasar, tetapi kelihatannya testosteron pada dasarnya memiliki dua unsur, dan hanya dua, yaitu dorongan utama: untuk bersetubuh atau membunuh.

Dan para pria terbebani dengan mimpi buruk biologis ini hampir pada sejak hari pertama, sebuah mimpi buruk yang hampir tidak bisa bayangkan oleh wanita (kecuali jika mereka diberikan suntikan testosteron karena alasan pengobatan, yang mendorong mereka menjadi tidak terkendali. Seperti yang dinyatakan oleh seorang wanita, “Saya tidak dapat berhenti memikirkan tentang seks. Tolong, bisakah Anda menghentikannya?) 1 

Kajian-kajian telah berulang kali menunjukkan bahwa tingkat testosteron yang tinggi terkait kelakuan merusak yang agresif, yaitu tidak sabar, dan mudah marah.2 Sebagai tambahan, sekarang dipahami bahwa pola makan yang tinggi lemak hewani dan rendah serat nabati mengarah pada penyimpanan dan konsentrasi hormon seks seperti testosteron di dalam tubuh. Serat sayur-sayuran, biji-bijian, dan makanan nabati lainnya mengikat hormon ini untuk bersirkulasi dan “menjaganya dalam pengendalian”3 melalui GPHS (globulin pengikat hormon seks), yang bertambah dengan pengasupan makanan nabati. Neil Barnard menulis, Dalam Kajian Penuaan Pria di Massachusetts, yaitu sebuah kajian luas dan terus menerus terhadap pria separuh baya dan yang lebih tua di daerah Boston, para peneliti menemukan bahwa para pria dengan tingkat GPHS yang lebih banyak dalam darah mereka akan menjadi kurang mendominasi dan agresif. Ini bisa menjadi semacam acuan bahwa pola makan yang lebih baik dapat membuat Anda menjadi mudah-bersepaham-dengan pasangan.4 

Riset juga telah menunjukkan bahwa anak-anak dengan kekurangan gizi yang sering ditemukan dalam pola makan yang rendah sayur-mayur, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan akan lebih cenderung bersikap antisosial dan kejam begitu mereka beranjak dewasa.5

Di luar tingkat fisik biomekanisme ini, seperti tingkat hormon, racun, dan nutrisi, terdapat kekuatan metafisika yang bekerja meskipun itu terabaikan namun akan tetap bekerja. Racun-racun metafisika —yaitu getaran-getaran terkonsentrasi dari teror, kesedihan, frustrasi, dan keputusasaan yang terserap ke dalam makanan-makanan ini—adalah sesuatu yang tak kasat mata dan benar-benar tidak dikenali oleh ilmu pengetahuan konvensional, namun getaran-getaran tersebut bahkan mungkin akan lebih mengganggu kita daripada racun-racun fisik karena getaran-getaran itu bekerja dalam tingkat perasaan dan kesadaran yang merupakan dimensi yang lebih penting dari diri kita dibanding dengan kendaraan fisik kita.

Dengan membeli atau memesan produk hewani, kita secara langsung menyebabkan kesengsaraan dan menyebarkan benih-benih kekejaman dan keputusasaan. Sungguh naif untuk berpikir bahwa benih-benih tersebut akan menghilang begitu saja ke dalam lapisan udara tipis. Teror, kesakitan, dan frustrasi yang kita timbulkan terhadap makhluk berperasaan, yang tubuh dan pikirannya tersiksa diluar dari apa yang bisa bayangkan, yaitu daya luar biasa yang sangat mempengaruhi kita, penyebab dari siksaan itu dalam berbagai cara. Ketika kita memberi makan sel-sel yang kita gunakan untuk berpikir dan merasakan dengan daging dan sekresi dari hewan-hewan yang diteror ini, kita akan menyerap getaran-getaran ketakutan, penyakit, dan kekejaman, tidak peduli cara apapun yang akan kita gunakan untuk menyamarkannya dengan kata-kata agar enak didengar atau bisa alihkan perhatian.

Para ahli fisika mulai melirik kebenaran yang telah diutarakan oleh para suci dan mistik selama berabad-abad, bahwa dunia yang tampak pada kita melalui indra kita adalah fenomena getaran. Energi yang bergetar dalam rentang tertentu menjadi terlihat oleh kita sebagai “materi” dan getaran-getaran di luar rentang itu, meskipun tidak harus berarti terlihat oleh indra kita, namun tetap saja ada. Apabila kita berdiri di dalam ruangan yang sunyi dan gelap, sebagai contoh, kita mungkin saja tidak melihat atau mendengar sesuatu, tapi jika kita menghidupkan radio atau televisi, kita akan tiba-tiba menyadari akan musik, percakapan, iklan, dan acara-acara TV yang telah ada bersama kita di dalam ruangan tersebut yang tidak terasa sebelumnya karena kita tidak memiliki peralatan untuk merasakannya. Dengan cara yang sama, kita bisa memandang sebuah telur dan menganggapnya hanya sebagai sebuah benda materi, tetapi jika kita memiliki peralatan intuisi yang diperlukan, kita bisa menjadi jauh lebih sadar bahwa telur itu adalah sebuah entitas yang bergetar. Meskipun pikiran kita bisa saja tertutup dari melihat, meraba, atau merasakan telur itu sebagai sebuah sistem energi getaran, tubuh kita yang juga adalah sebuah sistem getaran, dan akan terpengaruh olehnya pada tingkatan getaran utama. Tubuh kita akan mengetahui getaran apa yang ia makan, demikian juga pikiran kita pada tingkat lebih mendalam yang melampaui kesadaran intelektual kita.

Kita semua mungkin pernah berada pada suatu tempat yang indah tapi jika diri kita pada saat itu sedang marah, iri hati, atau ketakutan, atau jika orang-orang yang bersama kita juga demikian, maka kecantikan fisik tidak ada artinya. Sebaliknya juga demikian. Kegembiraan, kemuliaan, welas asih, energi tinggi, dan getaran murni dapat mengubah lingkungan fisik manapun menjadi sebuah surga, dan ketakutan atau kemarahan dapat menjadikan surga apapun (misalnya, Bumi kita) menjadi sebuah neraka atau penjara. Ketidakmampuan kita untuk mengenali, menghargai, dan melindungi keindahan spektakuler yang tiada habisnya dari Bumi kita dan makhluk-makhluknya telah disebabkan oleh ketidakpekaan batin kita terhadap frekuensi energi yang bergetar—kebebalan yang membuat kita tidak menjerit atau menangis sewaktu kita menggigit roti sosis atau roti lapis daging keju.

Pada tingkat frekuensi getaran, tubuh kita mengenali dan bereaksi terhadap getaran-getaran dari lingkungan dan berbagai situasi, hubungan, emosi, dan terutama dari apa yang kita makan. Telah diketahui dengan baik selama beberapa generasi bahwa susu dari ibu yang sedang marah atau terganggu akan sering membuat bayinya sakit. Sementara itu kebanyakan ilmuwan masih terus membatasi penelitian mereka pada penjelasan materialis tentang fenomena secara fisika modern, sebagai contoh, dengan menunjukkan bahwa materi adalah energi dan bahwa kesadaran adalah fundamental, yang akan jauh lebih fundamental daripada energi-materi. Prinsip ketidakpastian maupun efek pengamat, yang merupakan dasar bagi fisika kuantum,6 menandakan bahwa wujud energi-materi tidak dapat dipisahkan dari kesadaran dan tidak terkondisikan oleh kesadaran; alam semesta pada dasarnya bukanlah jasmaniah, tetapi merupakan sesuatu yang timbul dari kesadaran intelektual, kesadaran naluriah. Sebagai contoh, Max Planck, bapak teori kuantum pemenang Hadiah Nobel, menulis, “Semua materi berasal dan hidup hanya berdasarkan suatu kekuatan... Kita harus menganggap bahwa di balik kekuatan ini ada Pikiran sadar dan kecerdasan. Pikiran ini adalah matriks dari segala materi.”7

Tiga hal jelas ini, yaitu kesadaran, energi, dan materi, pada akhirnya secara perlahan-lahan diakui sebagaimana adanya: suatu kesatuan. Kesadaran dan energi-materi saling mengondisikan, saling menembus, dan saling tergantung dengan cara-cara yang paling mendalam dan penuh misteri. Kesadaran adalah hal utama dan penting, dan apa yang tampak sebagai energi-materi pada akhirnya merupakan perwujudan dari kesadaran. Misalanya, Kesadaranlah yang pada akhirnya dapat menyembuhkan; banyaknya keragaman metode penyembuhan bisa dilihat sebagai plasebo, seperti yang telah dijelaskan oleh Andew Wei secara panjang lebar dalam Health and Healing, karena itu semua bekerja hingga pada tingkatan dimana sang pikiran mempercayai mereka, yaitu dari shamanisme, herbal, akupunktur hingga pembedahan dan obat-obatan.8 Beberapa bentuk penyembuhan rohani telah mengenali kebenaran dasar ini, namun institusi yang dibangun oleh kebudayaan kita masih mencerminkan prasangka materialis dan reduksionis yang besar dari dasar mentalitas kita yang telah menjadi tidak peka oleh praktik yang terus-menerus belangsung sejak masa kanak-kanak, dimana telah menghalangi kesadaran dan kepekaan kita selama mencicipi santapan harian kita.

Begitu kita menjadi semakin sadar akan energi dan getaran-getaran ini, kita akan melihat secara langsung keterkaitan antara kesadaran dan materi. Kehidupan kita di tingkat fisik adalah penggambaran dari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan kita—kesadaran kita. Beberapa orang yang intuisinya lebih kuat mungkin jauh lebih peka terhadap informasi energi halus ini dibandingkan kebanyakan orang awam; inteligensi alamiah mereka merasakan getaran-getaran energi dalam berbagai situasi dan individu, dan mereka bisa secara langsung mengetahui kesadaran yang menimbulkan situasi tertentu, atau yang mewujud sebagai suatu kelompok atau individu. Sebagai contoh, para pengamat sering kagum melihat kijang dan singa berehat dalam jarak yang dekat satu sama lain dan merasa heran bagaimana kijang bisa secara rutin merasakan kapan singa-singa itu berbahaya dan kapan mereka kenyang. Sudah diketahui bahwa orang-orang yang intuitif, demikian juga dengan kucing, anjing, babi dan banyak satwa lainnya, peka terhadap getaran perasaan dan niat yang mereka serap dari orang-orang, dan bahwa mereka mempunyai akses terhadap informasi yang terlupakan oleh kebanyakan kita.9

Jika kita melihat permasalahan lain pada telur, daging babi asap, atau keju yang kita beli dan makan, kita melihat dengan jelas bahwa itu adalah perwujudan getaran kehidupan dari kekejaman, kekerasan, perbudakan, teror, dan keputusasaan. Kesadaran yang tersiksa dari satwa dan kesadaran yang mengeras dari manusia yang menyiksa makhluk hidup yang berperasaan dan mengeksploitasinya demi uang telah bercampur dan menciptakan suatu “makanan” yang beracun pada tingkat tertinggi. Makanan tersebut menimbulkan kekacauan dan penyakit pada dimensi fisik, mental, emosi, kerohanian, dan sosial dari keberadaan kita. Jika kita bisa melihat telur, produk susu, dan daging hewan yang diproses, dengan mata tercerahkan yang dapat melihat melampaui penampilan fisik, kita akan merasa takut dan ngeri karena gagasan yang menyebabkan kesengsaraan seperti itu, apalagi benar-benar menyajikannya sebagai makanan kepada orang-orang yang kita kasihi dan juga pada diri kita.

Banyak budaya mengakui bahwa makanan yang dipersiapkan dengan cinta kasih dan perhatian penuh kepedulian pada hal-hal yang kecil adalah lebih sehat daripada makanan yang dipersiapkan dengan sikap acuh tak acuh atau, bahkan lebih buruk lagi, dengan kejengkelan atau kemarahan. Untuk alasan ini, sebagai contoh, dalam biara Zen, hanya biksu-biksu yang paling senior dan yang meditasinya telah maju sekali yang diperbolehkan untuk menyiapkan makanan di dapur biara. Di India, para ibu telah didorong selama berabad-abad untuk memasak dengan suasana hati penuh kasih, tenang, dan meditatif sehingga makanan yang mereka sajikan untuk anak-anak mereka akan memelihara mereka tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan kerohanian. Mereka percaya bahwa energi alam semestalah, atau prana dalam makanan, yang memberi kita energi. Medan getaran dari orang yang menyiapkan makanan adalah juga sebuah bentuk prana dan dapat menaikkan atau menurunkan getaran kesehatan makanan. Ada banyak budaya dan agama lain yang mengakui bahwa makanan adalah sebuah keberadaan penting dari energi dan kesadaran, dan bahwa apabila makanan itu dipersiapkan dengan cinta kasih, penuh perhatian, dan rasa syukur, maka getaran ini akan memberkahi dan mendukung para penerima makanan yang beruntung menyantapnya.

Juga diketahui secara luas bahwa ketika makanan dimakan dengan sikap penuh perhatian dan penghargaan, itu akan lebih bergizi dibandingkan jika dimakan dengan keadaan pikiran yang kacau, tergopoh-gopoh, atau kesal. Guru Zen Buddhis, Thich Nhat Hanh menulis dalam Peace Is Every Step (Damai Adalah Setiap Langkah), sebagai contoh, “Berkontemplasi pada makanan kita sejenak sebelum makan, dan makan dengan pikiran penuh perhatian dapat memberi kita banyak kebahagiaan.”10. Tradisi kaum yogi dan biara telah lama mengakui manfaat dari makan secara penuh perhatian dan doa sebagai sebuah bentuk meditasi, berada sepenuhnya pada saat makan yang ada sekarang, dan berkontemplasi pada asal makanan dan berterima kasih padanya. Praktik ini dipercaya untuk meningkatkan energi dan nilai nutrisi dari makanan kita dengan lebih membuka diri kita terhadapnya.

Makan adalah suatu tindakan menghubungkan. Meskipun kita makan sendirian, kita tidaklah sendirian. Makanan yang kita makan menghubungkan kita dengan segala irama, kekuatan, dan kelimpahan alam serta alam semesta kita, dan dengan kehadiran dari mereka yang memelihara dan mengumpulkan makanan yang sedang kita makan. Ladang, hutan, lautan, sungai, kehidupan liar, petani, dan penjual bahan pangan, semuanya ada bersama kita dan menjadi bagian dari kita sewaktu kita mengunyah dan mencerna makanan tersebut. Orang-orang yang kita pikirkan saat kita sedang mengunyah dan mencerna makanan kita akan menjadi bagian dari kita juga. Secara lintas-budaya, makanan adalah peristiwa ikatan dan persekutuan sosial. Ketika kita sedang makan bersama baik sebagai keluarga atau komunitas, dan terutama jika kita melakukannya dengan sikap apresiasi terhadap makanan dan kesempatan untuk berkumpul, maka kita telah memperkuat tali ikatan pemahaman dan cinta kasih di antara kita.

Jika kita mengonsumsi makanan hewani, semua unsur dari energi dan kesadaran ini akan terhapus oleh kekejaman dan ketakutan yang melekat pada getaran dari makanan yang kita santap itu. Thich Nhat Hanh mengatakannya secara terus terang: 

Ketika kita makan telur atau ayam, kita akan mengetahui bahwa telur atau ayam juga bisa mengandung sejumlah besar amarah. Kita sedang memakan amarah, dan karenanya kita memperlihatkan kemarahan... Jadi sadarilah. Berhati-hatilah terhadap apa yang Anda makan. Jika Anda memakan amarah, Anda akan menjadi dan mengekspresikan sikap amarah. Jika Anda memakan keputusasaan, Anda akan mengekspresikan keputusasaan. Jika Anda memakan frustrasi, Anda juga akan mengekspresikan frustrasi.11 

Karena adanya getaran kekerasan, ketakutan, dan keputusasaan yang begitu kuat dan nyata di dalam seonggok makanan hewani, maka ketika kita menyiapkan makanan tersebut, kita tidak akan mungkin bisa melakukannya dengan penuh perhatian, tetapi akan lebih bersifat mekanis dan secepatnya, agar bisa menghindari munculnya kepekaan alamiah kita. Kita cenderung menyantap makanan ini dengan cara yang tidak terhubungkan juga. Untuk mempertahankan kepura-puraan kita bahwa kita lupa akan horor nyata yang disajikan di piring kita, kita melahapnya dengan cepat dan membuat diri kita sibuk agar teralihkan pikirannya. Makanan cepat saji dan industrialisasi adalah hasil yang dapat dipahami dari memakan makanan hewani selama periode waktu yang lama. Kesibukan dari budaya kita yang agresif dan orientasi telah membuat kita memandang ke arah luar yang berakar secara historis dan yang sedang berada dalam ketidaknyamanan kita, dengan cara kita memperlakukan satwa yang kita makan, dan kekerasan yang kita tanam terhadap penderitaan mereka.

Makanan, sebagaimana semua zat fisik lainnya, adalah energi dan getaran, dan merupakan sebuah perwujudan dari kesadaran, dan meskipun penting untuk menyiapkan, memakan, dan berbagi makanan secara penuh perhatian, kita dapat melihat bahwa adalah penting untuk memandang lebih mendalam dari hal ini, ke sumber yang sebenarnya dari makanan kita. Ketika kita memicu kekerasan dan perbudakan pada saat membeli makanan itu, maka secara tak terelakkan kesadaran terhadap kekerasan dan perbudakan ini akan tertanam di dalam mental dan jasmani kita, menumpulkan perasaan kita dan melemahkan upaya kita untuk menyiapkan dan menyantap makanan secara penuh perhatian dan penuh syukur. Materi, energi, dan kesadaran adalah tidak terpisahkan, dan kekejaman yang dimasukkan secara tidak terhindarkan ke dalam makanan hewani adalah racun terkuat yang tak dapat dikenali, dimana selain dapat merusak kesehatan fisik kita, tapi juga merusak kesehatan emosi dan kerohanian kita. 

Dengan Mata Malaikat

Makanan hewani juga adalah racun bagi kita dan dunia kita untuk alasan lainnya. Seperti halnya kita harus mengeraskan dan menghilangkan kepekaan diri kita untuk memproduksi dan memakannya, budaya kita harus menghasilkan orang-orang yang kejam untuk memanipulasi dan membunuh makhluk yang malang itu. Ketika kita menjadikannya sebagai tujuan untuk memelihara sifat kejam dan tanpa belas kasih dalam diri beberapa orang, kita semua merasa disakiti. Dengan berkomplot untuk berpura-pura bahwa kita tidak mengetahui kesakitan yang kita sebabkan itu, kita telah mematikan perasaan belas kasih, kecerdasan, dan kreativitas anak-anak kita dan semua orang.

Kita menghilangkan rasa belas kasih kita di sirkus, rodeo, pacuan, kebun binatang, dan tempat lainnya dimana hewan-hewan dikurung dan dipergunakan sebagai hiburan kita. Dalam tempat-tempat seperti ini kebanyakan adalah kekerasan dan kekejaman tersembunyi dari pandangan umum. Jika kita berkontemplasi pada tempat-tempat ini secara mendalam dan mendidik diri kita, bagaimanapun juga hakikat kekerasan yang ada ini akan menjadi nyata dan terasa mengganggu. Cara satu-satunya, sebagai contoh, untuk membuat satwa yang tidak dijinakkan seperti gajah, kera, harimau, lumba-lumba, singa laut, dan orka (sejenis paus) melakukan permainan atau bekerja adalah dengan menimbulkan kesakitan dan ketakutan melalui pemukulan dan kejutan listrik, dan/atau melalui pengurangan makanan. Pelatih sirkus diajarkan untuk menguasai gajah dengan memukul mereka dengan pengait, beruang berdansa karena dari masih bayi mereka dipaksa untuk berdiri di atas piringan logam yang panas sementara “pelatih” mereka memainkan musik, dan lumba-lumba akan bermain ketangkasan karena bila tidak mereka akan menderita sakit akibat kelaparan. Kebun binatang memenjarakan satwa-satwa yang tak berdosa, membeli dan menjual mereka untuk meningkatkan pendapatan dan jumlah bayi satwa, yang sejauh ini merupakan atraksi yang paling menguntungkan, sementara satwa yang lebih tua biasanya berakhir di fasilitas “kebun berburu” di mana mereka ditembak untuk dipiala oleh para olahragawan di jarak tembak. Kita menumpulkan rasa kepekaan kita ketika kita memakai hewan untuk pakaian, perabot, perhiasan, dan produk-produk lainnya. Ini menutup kesadaran diri kita terhadap horor dan kesengsaraan yang menimpa para makhluk hidup untuk menghasilkan produk itu. Dan kita melumpuhkan empati kita di dalam riset ilmiah dan pendidikan, di mana kita saling mengajari bahwa penderitaan satwa hanyalah memiliki sedikit konsekuensi. Mungkin itu dimulai dengan proyek menetaskan telur ayam di sekolah, dan berlanjut melalui pembedahan kodok di laboratorium biologi, dan mencapai puncaknya pada jutaan satwa yang disiksa oleh para peneliti yang bekerja untuk lembaga militer, industri, ilmiah, dan pendidikan.

Yang mendasari budaya mematikan nurani ini, tentu saja, adalah makanan-makanan kita, kegiatan utama sosial kita. Dan untuk membuat makanan tersebut, kita harus menjalani proses lebih lanjut dalam mematikan nurani dengan memilih dan membeli produk hewani. Setiap kali kita membuat keputusan membeli telur, cairan, atau daging hewani, kita telah memaksakan pemutusan hubungan antara konsumen dan apa yang dikonsumsi. Ketika kita merogoh dompet kita dan membayar daging atau sekresi satwa, pada saat itu kita secara langsung merangsang terjadinya aksi kekerasan, ketakutan, perbudakan, kematian, dan penyebaran polusi beracun. Pada saat itu benih-benih kekerasan telah benar-benar ditabur. Kita adalah bos mafia yang membayar penembak untuk membunuh, meskipun kita tidak menggunakan pisau, tetapi baju putih kita tetap terciprat.

Jika kita dapat memandang dunia yang kita tinggali ini dengan mata malaikat, yaitu dari sosok makhluk yang tercerahkan secara intuisi, dan melihat getaran energi lebih dari sekedar bentuk fisik saja, kita akan melihat bahwa perang dan kekerasan di atas Bumi dihasilkan dari sekumpulan tempat yang amat luas di mana proses mematikan nurani berlangsung: tak terhitung banyaknya dapur, tempat makan, pemondokan, hotel, restoran, resor, kafetaria, aula penginapan, gerai cepat saji, supermarket, kedai, gerai daging, mal, gerai es krim, gerai camilan, kapal, tempat berkemah, tempat pacuan, tempat piknik, sirkus, pusat pertemuan, pameran, sekolah, stadion olahraga, gereja, kasino, penjara, basis militer, wisma perawatan, sekolah perawatan, rumah sakit, kebun binatang, dan institusi mental, di mana daging hewan, telur, dan produk susu dibeli dan dijual, dipersiapkan dan dimakan. Belas kasih dimatikan dan kebenaran tidak dipedulikan di dalam hampir setiap rumah, pusat perbelanjaan, dan institusi dalam budaya kita. Sebelum kita bisa memandang satwa tersebut dengan sebagaimana adanya, kekuatan-kekuatan yang tak dapat dielakkan ini akan terus mengembangkan penolakan dan kekerasan dalam setiap pola yang tampaknya sangat tidak mencurigakan. Bila kita tidak dapat melihat hal ini, dan tetap mengasumsikan bahwa jalan kehidupan kita adalah waras, berperikemanusiaan, terhormat, dan ramah, ini hanya akan menunjukkan betapa butanya diri kita.

Malaikat intuisi kita memeriksa dunia kita secara teliti, ia akan melihat berjuta-juta tempat proses mematikan nurani ini di seluruh komunitas kota, daerah pinggiran kota, dan desa yang kita bangun. Malaikat juga akan melihat sejumlah besar pusat-pusat bergetar yang memancarkan ketakutan, kekerasan, horor, dan frustrasi: puluhan ribu pabrik peternakan, rumah jagal, kandang ternak, tempat penggemukan hewan, perikanan, dan kegiatan penangkapan ikan di mana hewan-hewan diperbudak, disiksa, dan secara sadis dibunuh hingga miliaran ekor setiap tahun. Kebanyakan kegiatan memenjarakan dan membunuh ini hingga puluhan bahkan ratusan ribu individu, dan meskipun jumlahnya banyak sekali, tapi tetap tersembunyi dari pandangan umum. Kapal-kapal kematian besar yang mengapung bekerja di lautan yang jauh. Di luar kota, fasilitas pengolahan daging hewan dengan sengaja ditempatkan jauh dari jalan utama dan pusat hunian, dipagari agar orang banyak tidak bisa masuk. Nama-nama dagang disamarkan dan diungkapkan dengan halus, seperti papan nama “Produk Protein Carolina” yang pernah saya lihat di sebuah gedung besar yang kelihatannya tidak menyenangkan dan terletak jauh dari jalan raya. Namun, bagi malaikat intuisi kita, mereka sama sekali tidak tersembunyi, tetapi berkembang hebat, menjulang tinggi di atas lahan, intensitas dan volume penderitaan yang bergemuruh di dalam dinding mereka menggelembung tinggi sebagai medan getaran duka cita, teror, panik, dan keputusasaan yang mengganggu. Bentuk pikiran tentang penyiksaan, dominasi, dan perbudakan yang memancar telah menggelapkan langit, menyebar ke komunitas sekeliling, mencemarkan medan energi dan medan kesadaran yang menghubungkan kita semua, manusia dan satwa juga. Energi negatif yang sangat besar dan tak berkurang ini, keputusasaan dan kesakitan dari berjuta-juta individu sensitif yang dikurung dan dibunuh demi memuaskan kerakusan kita, boleh jadi adalah pencemaran terserius yang pernah kita sebagai manusia ciptakan. Akibat-akibatnya menyebar melalui jaringan yang rumit dan luas dari pikiran, energi, dan kesadaran yang membentuk hubungan kita manusia dengan sesama, dengan satwa dan alam, dan dengan anak-anak kita, impian kita, dan aspirasi kita.

Banyak orang telah memahami implikasi tragis dari pencemaran medan getaran Bumi oleh penderitaan yang mendalam dari sesama satwa kita. Tolstoy, sebagai contohnya, menulis bahwa sepanjang kita masih memiliki rumah jagal, kita akan tetap memiliki medan perang. Menurut pemenang Hadiah Nobel, novelis Isaac Bashevis Singer, “Sepanjang orang masih menumpahkan darah makhluk tak berdosa maka tidak akan ada kedamaian, kebebasan, dan keserasian di antara masyarakat. Penjagalan dan keadilan tidak dapat tinggal bersama.” Charles Fillmore, salah seorang pendiri Unity School of Practical Christianity (Sekolah Persatuan Kristen Praktis) di Kota Kansas, menulis hal berikut pada tahun 1903, Beberapa tahun yang lalu di San Fransisco banyak orang menderita sakit keras karena memakan daging yang dibeli dari toko tertentu. Para dokter menyelidiki dan mereka menemukan bahwa daging dari lembu tertentu adalah penyebabnya, dan diduga bahwa lembunya dalam keadaan sakit. Penyelidikan lebih lanjut menyatakan bahwa praduga ini merupakan sebuah kesalahan—hewan itu luar biasa sehat dan kuat—ia sebenarnya begitu kuat dan bertenaga sehingga ia memperjuangkan hidupnya selama lebih dari satu jam setelah percobaan pembunuhan terhadapnya dimulai. Ia berada dalam keadaan gila karena teror dan amarah; matanya memerah, dan mulutnya berbusa sewaktu sang penyembelih mencoba membantainya. Para dokter memutuskan bahwa rasa marah dan teror dari lembu inilah yang meracuni dagingnya sama halnya seperti susu dari ibu yang sedang marah, yang kita ketahui pasti akan membuat bayinya sakit.

Contoh ini adalah sebuah kondisi berlebihan yang ada dalam bentuk lebih halus dalam semua daging hewan yang dijual sebagai makanan di pasar-pasar kita. Sebelum mereka dibunuh, hewan-hewan malang ini dianiaya terlebih dahulu dengan cara-cara yang hampir susah digambarkan. Kunjungilah kurungan pengiriman, kereta-ternak, tempat penyimpanan ternak, dan rumah pengemasan, jika Anda menginginkan bukti dari penderitaan yang dialami hewan-hewan malang ini di lapangan. Dan semua penderitaan yang begitu hebat ini, lewat hukum getaran mental simpatik, ditransfer ke dalam daging orang-orang yang memakan tubuh hewan-hewan tersebut. Rasa takut yang tak tergambarkan, teror dari mimpi buruk, dan banyak gangguan di perut dan usus yang dialami orang-orang mungkin bisa dilacak pada sumber yang tidak dicurigai ini.12 

Fillmore seratus tahun yang lalu pernah menulis pada masa yang kelihatan pelik, ketika kita sebenarnya bisa melacak daging pada hewan tertentu. Eric Schlosser, pengarang Fast Food Nation, mengatakan bahwa dalam salah satu dari hamburger-hamburger kita mungkin terkandung daging dari puluhan hewan berbeda, dari berbagai tempat di belahan Bumi ini. Penderitaan yang dialami hewan-hewan ini tentu saja jauh lebih buruk lagi dewasa ini, dengan adanya kurungan yang ekstrem, manipulasi obat-obat yang aneh, dan penyembelihan mengerikan yang dipraktikkan oleh pabrik peternakan yang diindustrialisasikan. Dan ketika kita dapat membahas secara hati-hati masalah kolesterol dan residu hormon buatan di dalam makanan hewani ini, maka kesengsaraan belaka yang akan kita makan beserta efek racunnya yang tidak pernah secara serius dipertimbangkan. Kita dibutakan oleh budaya materialisme kita, yang tumbuh secara alami dari kebiasaan makan kita.

Pada tahun 1910 Fillmore menguraikan gagasan awalnya secara panjang lebar dengan menulis: 

Setiap hewan akan berjuang untuk hidupnya. Lalu akan jadi seperti apakah kondisi mental hewan-hewan yang secara kejam dijejalkan ke dalam kurungan dan mobil yang penuh sesak, dan akhirnya dicabut nyawanya di tengah lingkungan yang mengerikan? Apakah akan menjadi lain kecuali bahwa seluruh kesadarannya diresapi oleh getaran kekerasan dari teror yang beraksi dan terus bereaksi dalam seluruh wahana kehidupan hewan tersebut dengan apa yang terjadi pada mereka? Anda mengira bahwa Anda memakan suatu benda materi yang disebut daging, tapi sebenarnya tidak ada materi yang seperti itu di dalam kenyataannya. Bagi indra luar Anda, daging itu mungkin tampak sebagai suatu massa yang mati dan kaku, tetapi seandainya mata jiwa Anda terbuka, Anda akan melihat arus mental yang merembes ke dalam setiap atom, yang beraksi dan terus bereaksi satu sama lain dengan cara yang liar dan membingungkan, seperti hewan yang tubuhnya membentuk satu bagian. Anda membawa masuk ke dalam kuil Anda elemen-elemen yang akan mengganggunya, elemen-elemen yang sulit untuk Anda selaraskan. 13 

Sekalipun kita mencoba menyiapkan dan memakan makanan hewani secara perlahan dan penuh perhatian, meski pada tampilan dan pikiran kita tenang namun apa yang sedang kita siapkan dan makan akan terasa mengusik rasa welas asih alami kita terhadap makhluk-makhluk hidup lain. Dengan menodai hewan, kita menciptakan medan energi yang menodai diri kita dan memblokir tujuan kita di Bumi ini: yaitu untuk membuka kebijaksanaan, kasih, dan pemahaman. Sebaliknya, kita telah menjadi agen keburukan dan kematian, melayani kepentingan para konglomerat industri raksasa dan perusahaan yang didirikan terutama untuk memaksimalkan keuntungan dan kekuasaan yang terpusat pada diri mereka semata. Dan kita telah mengeraskan diri kita sendiri dan anak-anak kita, yang seperti spons polos, menyerap sikap dan kepercayaan kita kemudian menurunkannya ke anak-anak mereka sama seperti apa yang dilakukan oleh orang tua dan kakek nenek mereka. 

Kedok dan Ketakutan

Pengerasan psikologi kita adalah sebuah tameng yang melindungi diri kita dari perasaan sedih dan menderita yang harusnya kita rasakan secara alami. Itu membuat kita semakin kurang sensitif dan menutupi sifat sejati kita. Dengan pemikiran ini, terasa sangat menarik untuk menguji keberhasilan hebat dari kampanye iklan kumis susu yang ampuh dan mahal, yang dihasilkan dan dipromosikan oleh pemerintah kita lewat Fluid Milk Promotion Act of 1990.14 Kumis susu bisa dilihat sebagai kedok prototipe, dan kampanye ini memberitahukan kita secara mendalam bahwa untuk menyiksa hewan dan memakan daging serta sekresinya kita harus mengenakan sebuah kedok. Kumis susu putih kecil itu memicu sebuah pengakuan tanpa sadar bahwa produk susu menutupi kekejaman parah, namun kebaikan yang berhubungan dengan warna putih memberikan rasa lega emosional yang sangat kita harapkan. Dengan bekerja pada tingkat tanpa sadar dari simbol prototipe, industri susu jadi mempromosikan produknya dengan mengeksploitasi dua perasaan bertentangan kita yang mendalam tentang makanan hewani, yang ditandai dengan kedok, dan mengubah dua perasaan bertentangan tersebut ke dalam perasaan lega psikologis atau perasaan terharu dengan menunjukkan kedok kumis susu sedang dipakai oleh dewa-dewa kebudayaan kita: figur-figur yang paling terkemuka di bidang atletik, hiburan, ilmu pengetahuan, dan politik. Kedok itu mewakili budaya kita yang menutupi penderitaan tersembunyi dibalik industri susu dan dominasinya yang brutal terhadap wanita, dan karena ini adalah hal terakhir yang kita ingin dukung dan ambil bagian, kita berpura-pura lupa akan penderitaan yang ada.

Bayangan kekerasan yang tak terlihat ini menghasilkan medan energi yang tak tertahankan di dalam kebudayaan kita. Semua peneliti hewan mengetahui bahwa ketakutan adalah salah satu emosi yang paling kuat dan mendasar untuk semua hewan (termasuk kita), dan ketakutan ekstrem adalah kenyataan yang tak terhindarkan bagi hewan-hewan di pabrik peternakan dan rumah jagal. Albert Schweitzer, yang menghimbau kebaikan terhadap hewan, menulis, “Rasa sakit adalah tuhan yang lebih mengerikan . . . daripada kematian itu sendiri.15 Dengan menimbulkan sejumlah besar rasa sakit akut dan sakit kronis pada hewan yang kita makan, kita menghasilkan rasa takut akut dan kronis yang sama besarnya. Kita memakan teror dan dengan demikian menjadi terpesona olehnya, terpikat oleh hal seram, aneh, dan kasar. Kesukaan kita pada darah, kematian, teror, dan kekerasan adalah sebuah manifestasi dari bayangan yang ditekan dari kebrutalan dan pembunuhan besar-besaran terhadap hewan, yang diperhalus dan digambarkan ke dalam ekspresi di berbagai media massa dan hiburan populer yang tak terhitung jumlahnya. Kekerasan dan horor di film, novel, dan musik mempesona dan memikat kita hanya karena kita secara teratur terus memakan kekerasan dan horor sehingga semua itu menjadi terlibat. Pisau, pedang, dan senjata yang hadir di berbagai media populer mencerminkan pembunuhan dan tembakan senjata api yang membisingkan selama 24 jam di rumah-rumah jagal dan pisau panjang yang membunuh hewan-hewan di sana dan memotong-motong dagingnya untuk konsumsi kita. Meskipun kita menyembunyikan dan menekan kekerasan itu dari hidangan kita, kekerasan itu muncul di layar film dan televisi kita, tidak bisa dipungkiri, mempesona dan begitu menarik bagi kita.

Dengan merayakan dan menanam unsur teror dan kekejaman di media, kita telah menabur benih yang sama tersebut ke dalam kesadaran kita dan semua itu berbuah dalam bentuk kekerasan yang lebih jauh. Meningkatnya kekerasan di media, khususnya televisi, diyakini berhubungan dengan meningkatnya kekerasan pada anak-anak yang menonton TV. Kekerasan yang kita praktikkan terhadap hewan demi makanan, diperhalus dan digambarkan lewat media TV sebagai bentuk kekerasan terhadap orang-orang, yang kemudian menjadi kekerasan oleh anak-anak, terhadap hewan sebagai target yang paling gampang dan rentan untuk diserang. Memancing, berburu, menyiksa hewan piaraan, dan menangkap hewan liar adalah beberapa cara anak-anak mengekspresikan budaya kekerasan yang asing ini, yang selanjutnya mengesahkan praktik kekerasan terhadap hewan yang paling mudah diserap—menyembelih dan memakannya. Hubungan antara kekerasan anak–anak terhadap hewan dan kekerasan terhadap manusia nantinya, sekarang sudah terbukti dengan baik, lagi-lagi ini merupakan sebuah pengingat lain dari prinsip Pythagoras bahwa penganiayaan kita terhadap hewan dengan tak terhindarkan akan kembali mengenai diri kita sendiri sebagai kekejaman terhadap sesama dan penderitaan yang tiada tara. 

Membina Welas Asih

Siklus kekerasan yang dimulai dari meja makan kita jelas berkumandang di tengah keluarga kita, masyarakat kita, dan di seluruh relasi kita, mendesir hingga ke dalam medan kesadaran bersama kita. Seandainya kita mempunyai penglihatan jelas seperti layaknya malaikat, kita pasti bisa melihat kekerasan itu bergaung di seluruh planet dengan cara dan dalam dimensi yang tak terhitung. Siapakah diri kita, dan siapakah semua makhluk serta penjelmaan ini pada akhirnya, semua itu adalah kesadaran. Kesadaran memanifestasikan kendaraan, yang adalah pewujudan suci bagi ekspresi, pertumbuhan, dan pengembangan kesadaran. Kita semua adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, dan kita semua mempunyai tujuan dan kontribusi unik untuk dilakukan. Ide bahwa kesadaran hanyalah sebuah fenomena kedua dari materi semata-mata hanyalah sebuah pembalikan yang salah. Ini adalah mitos dari materialisme yang telah diciptakan dan dipropagandakan oleh mentalitas dominasi yang dangkal, diteror dan meneror untuk mempertahankan kebutaannya terhadap rasa sakit tetapi melepaskan pemahaman akan saling keterkaitan antara semua kehidupan serta hakikat semua makhluk yang pada dasarnya adalah spiritual. Tidak ada makhluk yang hanya sekedar benda materi atau objek belaka, dan dengan demikian tak ada makhluk yang pernah bisa menjadi sebuah komoditas atau barang kepemilikan. Kita semua adalah manifestasi misterius yang tanpa batas dari kesadaran, dan kedewasaan spiritual yang adalah suatu kebangkitan dari pembatasan-pembatasan yang melumpuhkan dari materialisme dan separatisme, yang ditemani oleh perasaan kasih serta welas asih bagi semua makhluk.

Ide ini telah diucapkan dengan jelas oleh para mistik, orang suci, dan orang bijak dari semua tradisi dan budaya sejak zaman dahulu. Dua orang suci pada zaman 2.500 tahun yang lalu di India–Mahavira, pendiri tradisi Jain, dan Buddha Gautama–telah menjelaskan kebutuhan spiritual fundamental untuk mengembangkan sikap ahimsa, atau tidak melukai, dalam hubungan antara pengikut mereka dengan hewan maupun manusia. Buddha bersabda, misalnya, di sutra Mahaparinirvana, “Memakan daging akan menghancurkan sikap welas asih yang agung.”16 Penyair suci Buddhis Tibet pada abad ke-12, Milarepa, menyanyikan, “Dengan membiasakan diri berkontemplasi pada kasih dan welas asih, saya telah melupakan semua perbedaan antara diri saya dan yang lain.”17 Mistik Kristen abad ketujuh, Santo Isaac dari Suriah, bertanya,  

Apakah hati yang dermawan itu? Itu adalah hati yang terbakar oleh kasih untuk semua ciptaan, untuk semua orang, untuk burung-burung, untuk hewan-hewan liar... untuk semua makhluk hidup. Ia yang mempunyai hati seperti itu takkan bisa melihat atau memikirkan makhluk lain dengan tanpa meneteskan air mata karena welas asih yang besar telah mengisi hatinya; sebuah hati yang lembut akan menjadi tidak bisa tahan bila melihat atau mengetahui segala penderitaan dari orang lain, bahkan penderitaan paling kecil yang ditimbulkan pada suatu makhluk. Itulah kenapa orang-orang seperti itu tidak pernah berhenti berdoa untuk hewan-hewan... karena tergerak oleh rasa kasihan tanpa batas yang menguasai hati mereka dan telah menyatu dengan Tuhan.18 

John Wesley, pendiri Methodisme pada abad kedelapan-belas menulis, “Saya percaya dalam hati saya bahwa iman dalam Yesus Kristus bisa dan akan membimbing kita melampaui perhatian khusus untuk kesejahteraan umat manusia ke perhatian yang lebih luas untuk kesejahteraan burung-burung di halaman kita, ikan-ikan di sungai, dan segala makhluk hidup di muka Bumi.”19

Orang sufi suci Islam abad ke-19 Misri berkata, “Jangan pernah berpikir orang lain lebih rendah dari kalian. Bukalah mata batin, dan kalian akan melihat Satu Kemuliaan yang bersinar dalam semua makhluk.”20

Albert Einstein mengatakannya dengan jelas seperti ini: 

Seorang manusia adalah bagian dari keseluruhan, yang kita disebut “Alam Semesta”, satu bagian yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia mengalaminya sendiri, pemikiran dan perasaannya, sebagai sesuatu yang terpisah dari yang lainnya—sejenis khayalan optis dari kesadarannya. Khayalan ini adalah sejenis penjara bagi kita, membatasi diri kita pada keinginan pribadi dan pada kasih untuk beberapa orang yang terdekat dengan kita. Tugas kita harusnya membebaskan diri kita dari penjara ini dengan meluaskan lingkaran welas asih kita untuk merangkul semua makhluk hidup dan seluruh alam ini dengan segala keindahannya.21 

Dengan memutuskan cengkeraman materialisme yang membutakan ini, kita bisa melihat benang halus yang menghubungkan kita semua satu sama lain. Kita semua tahu bahwa pikiran dan perasaan mempunyai kekuatan. Kita telah melihat, di dalam kehidupan pribadi dan sosial, betapa efektifnya sebuah perasaan yang kuat dan pikiran yang jernih dalam memanifestasikan sebuah hasil—karena sebuah medan energi yang tercipta akan menarik yang lainnya dengan kecenderungan getaran yang sama, menguatkan lebih lanjut bentuk pikiran yang diberi energi itu. Medan energi ini akan terus mereproduksi yang sejenis. Ini adalah nyata, sebagai contoh, Adolf Hitler mengerti kekuatan dari medan pikiran terhadap kesadaran massal, dan bahwa rekan-rekannya dengan sadar menggunakan simbol-simbol, semboyan-semboyan, dan pikiran yang terfokus untuk menciptakan sebuah medan getaran menaklukkan dan keangkuhan yang sangat menarik bagi jutaan orang, ironisnya, mungkin ini adalah masyarakat yang paling berpendidikan dan nampak rasional pada masa itu. Keesaan kesadaran manusia juga telah dipertunjukkan dengan cara-cara yang positif, dan pengaruh dari orang-orang yang tergabung dalam pemikiran penuh kasih dan doa untuk perdamaian telah terdokumentasi secara luas. Beberapa peneliti menyebut efek ini sebagai “efek Maharishi”, karena orang-orang yang dilatih dalam Meditasi Transendental telah melakukan banyak eksperimen terhadap efek tingkat kejahatan dan indikator sosial lainnya dari kota-kota tertentu yang ditargetkan, dan dihasilkan oleh sekelompok meditator yang memancarkan sebuah medan perdamaian dan harmoni yang terfokus.22 Hasilnya cukup mengesankan dan berarti. Beberapa peneliti, seperti Larry Dossey, M.D., telah mendokumentasikan dan menyelidiki efek doa terhadap penyembuhan jasmani.23 Penggunaan ilmu pengetahuan materialistis untuk membuktikan apa yang sudah kita ketahui ini adalah ironis. Materialisme telah menutupi dan mengabaikan kebenaran bahwa kita semua terhubung, lebih dari sekedar objek materi terpisah dengan otak yang menimbulkan kesadaran, kita adalah kesadaran tanpa batas yang bermanifestasi sebagai makhluk hidup dalam ruang dan waktu. Bukti-bukti untuk ini berlimpah, baik dari ungkapan orang-orang yang tercerahkan secara spiritual maupun dari dalam hati, pikiran, dan pengalaman hidup sehari-hari kita sendiri, jika kita membuka mata kita dan melihatnya! Pengaruh dari berdoa (kesadaran) yang tak dapat dipungkiri dalam meningkatkan penyembuhan fisik hanyalah salah satu contoh dari hal ini.

Dengan demikian, pencemaran medan kesadaran bersama kita oleh penderitaan mendalam yang dirasakan oleh miliaran hewan yang dibunuh untuk dijadikan makanan, adalah fakta yang tidak dikenali yang menghalangi kemajuan sosial kita dan secara luar bisa memberikan sumbangan pada kekerasan manusia dan peperangan yang terus terjadi di seluruh dunia. Dengan bergabung bersama untuk berdoa dan membayangkan perdamaian dunia tentu saja merupakan sebuah gagasan mulia, tetapi jika kita terus makan di atas penderitaan tetangga kita, kita akan menciptakan sebuah doa yang monumental dan berkelanjutan untuk kekerasan, teror, dan perbudakan. Ini adalah doa atas perbuatan kita, dan ini adalah kenyataan yang dialami oleh miliaran makhluk sensitif yang ada di dalam kekuasaan kita dan tidak diperlakukan dengan baik.

Sebelum kita mulai menjalani doa untuk perdamaian dan kebebasan dengan memberi perdamaian dan kebebasan itu juga kepada mereka yang rentan di tangan kita, kita tidak akan pernah menemukan perdamaian maupun kebebasan. Kegembiraan, kasih, dan kelimpahan selalu tersedia untuk kita, dan akan selalu hadir di dalam kehidupan kita sampai pada tingkat di mana kita mengerti bahwa mereka diberikan kepada kita sebagaimana kita memberikan mereka kepada yang lainnya. Harga yang harus kita bayar untuk kasih dan kebebasan itu adalah contong (cone) es krim, bistik, dan telur kopyok (eggnog) yang biasanya kita makan. Secara mental kita terkondisikan untuk memisahkan makanan kita dari hewan dengan tanpa pikir panjang telah disiksa untuk menghasilkannya, tapi medan getaran yang tercipta oleh pilihan makanan kita akan mempengaruhi kita secara luar biasa meski kita berpura-pura untuk mengabaikannya atau tidak. Berlatih makan dengan penuh perhatian akan menerangi hubungan-hubungan tersembunyi ini, membersihkan pikiran, hati, dan perbuatan kita, serta menghilangkan kedok dan pelapis batin sehingga hal itu akan menjadi cukup jelas terlihat.

 

Referensi

1.     Ken Wilber, A Brief History of Everything (Boston: Shambhala, 1966), p. 4.

2.     D. Olwens, et al.”Circulating Testosterone Levels and Aggression in Adolescent Males: A Causal Analysis,” Psychosomatic Medicine, 50, 1988, pp. 261–272.

3.     Neal Barnard, Eat Right, Live Longer (New York: Crown Books, 1993).

4.     Ibid.

5.     Jianghong Liu, et al., “Early Nutrition and Antisocial Behavior,” American Journal of Psychiatry, November 2004. See www.newstarget.com/006194.html, also www.usc.edu/uscnews/stories/10773.html.

6.     The Heisenberg uncertainty principle is based on the realization in the 1920s that light manifests as a nonlocal continuous wave or as discrete particles depending on the choice and will of the observer. There is inherent uncertainty in observation of small particles because it is impossible to discern simultaneously and with high accuracy both the position and the momentum of a particle such as an electron or photon. The very act of observing and measuring inherently changes the nature of the particle wave. The observer effect is based on the realization by researchers (not just in the “hard” sciences such as physics, but also in anthropology and other social sciences) that the act of observation necessarily influences whatever is being observed. The apparent subject/object split is increasingly seen to be illusory. For more information on these ideas, see Fritjof Capra, The Tao of Physics and The Turning Point; Gary Zukav, The Dancing Wu Li Masters; Ishtak Bentov, Stalking the Wild Pendulum; Fred Alan Wolf, Mind Into Matter; Amit Goswami, The Self-Aware Universe: How Consciousness Creates the Material World; and others.

7.     Cited in Gregg Braden, “Living in the Mind of God,” Horizons Magazine, February 2003, p. 9.

8.     Andrew Weil, Health and Healing (New York: Houghton Mifflin, 1998), pp. 199–254.

9.     See J. Alan Boone, Kinship With All Life (New York: HarperCollins, 1954), as well as previously cited books by Rupert Sheldrake.

10.   Thich Nhat Hanh, Peace Is Every Step (New York: Bantam, 1991), p. 24.

11.   Thich Nhat Hanh, Anger (New York: Penguin Putnam, 2001), pp. 15–16.

12.   Charles Fillmore, “As to Meat Eating,” Unity Magazine, October 1903.

13.   Charles Fillmore, “Flesh-Eating Metaphysically Considered,” Unity Magazine, May 1910.

14.   Wendy Melillo, “Doctor’s Group Blasts Milk Ads,” Adweek, May 7, 2001, p. 8.

15.   “Reverence,” Albert Schweitzer Fellowship Quarterly, Fall 1997, p. 27.

16.   Shabkar, Food of Bodhisattvas, translated by the Padmakara Translation Group (Boston: Shambhala, 2004), p. 60.

17.   Lobsang Lhalungpa, tr., The Life of Milarepa (New York: Penguin, 1977), p. 154.

18.   Cited in Andrew Linzey, Animal Theology (Urbana and Chicago: University of Illinois Press, 1995), p. 56.

19.   J. R. Hyland, God’s Covenant with Animals: A Biblical Basis for the Humane Treatment of All Creatures (New York: Lantern, 2000), p. xii.

20.   Misri, quoted in Ellen Kei Hua, ed., Meditations of the Masters, cited in Andrea Wiebers and David Wiebers, Souls Like Ourselves (Rochester, MN: Sojourn Press, 2000), p. 42.

21.   Albert Einstein, letter dated 1950, quoted in H. Eves, Mathematical Circles Adieu, 1977.

22.   Michael Dilbeck, et al., “Consciousness as Field: The Transcendental Meditation and TM-Siddhi Program and Changes in Social Indicators.” The Journal of Mind and Behavior, Winter 1987.

23.   See Larry Dossey, Healing Words: The Power of Prayer and the Practice of Medicine (New York: Harper, 1994); also Reinventing Medicine (New York: HarperCollins, 1999).

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Pola Makan Perdamaian Dunia