Beranda > Dominasi Terhadap Kaum Feminin

 

bab tujuh 

DOMINASI TERHADAP KAUM FEMININ

Dapatkah seseorang menghargai sesama makhluk sebagai barang milik, investasi, sepotong daging, atau ‘apapun,’ tanpa bertindak kejam terhadap makhluk ciptaan itu?”

—Karen Davis1

 

“Susu sebenarnya diperuntukkan bagi keturunan hewan tersebut, bukan untuk diambil paksa oleh manusia. Anaknya mempunyai hak untuk menikmati susu dan kasih sayang dari induknya, akan tetapi manusia yang keras hati telah dipengaruhi oleh materi dan pandangan yang dangkal yang telah mengubah fungsi yang sebenarnya, sehingga anaknya tidak mendapatkan cinta ibunya dan bergembira dalam keindahan hidup ini.”

—Rabbi Abraham Kook, Ketua Rabbi dari Israel, 1865–1935

 

“Perbuatan yang salah terhadap sesama akan mengakibatkan sanksi yang berat.”2

—Mary Baker Eddy 

 

Mimpi Buruk Perusahaan Susu

Ada dua kategori produk hewani yang paling banyak kita konsumsi selama ini, walaupun sebenarnya itu bukanlah makanan untuk manusia: produk susu dan telur. Setelah melihat proses produksi susu dan telur, banyak orang berpendapat bahwa proses ini lebih kejam dan beracun dibandingkan dengan proses peternakan yang hanya diambil dagingnya saja. Sapi dan ayam sering disiksa dalam waktu yang lama dan akhirnya dibunuh pada saat produktivitas mereka menurun.

Produk susu menimbulkan permasalahan yang sangat besar dan rumit. Sistem perbudakan sapi perah menimbulkan kerugian bagi manusia dalam beberapa hal, jadi dampak kerusakan dari kegiatan ini telah meluas hingga ke dampak fisik karena mengonsumsi susu. Meskipun banyak orang telah berhenti minum susu demi alasan kesehatan, penting sekali untuk melihat latar belakang dari tragedi yang terus terjadi ini, kebenaran ini telah ada sepanjang masa: kita tidak bisa memetik kebebasan dan kesehatan setelah menaburkan benih perbudakan dan kekejaman.

Pada dasarnya, susu sapi diperuntukkan untuk anak sapi, bukan untuk manusia. Kitalah satu-satunya spesies yang meminum susu spesies lain, dan kita juga satu-satunya spesies yang tetap meminum susu sampai dewasa. Sepertinya kita takut untuk menjadi dewasa dan meninggalkan rumah. Mungkin kita sangat merindukan saat-saat balita, sewaktu ibu kita menyusui dengan penuh kedamaian, dan apabila ibu kita tidak punya lagi, maka kita akan meminum susu dari ibu apapun, seperti dari induk sapi yang harus kita bunuh bayinya. Tindakan manusia membunuh dan memakan hewan adalah tindakan yang bertentangan dengan alam, begitu juga dengan meminum susu. Mereka merahasiakan kekejaman di balik peternakan sapi perah, juga menutupi harga yang sebenarnya dari hamburger murah dan biaya untuk menyediakan protein hewani yang ada di mana-mana yaitu keju, krem, susu, dan mentega.

Di alam liar, kita tidak akan bisa mendekati sapi yang sedang menyusui untuk mendapatkan susunya, seperti di negara Asia di mana sapi-sapi hidup secara alami di padang rumput atau di hutan. Sapi jantan akan melindunginya dan mengusir kita. Jika kita berhasil menyingkirkan sapi jantannya, induknya juga tidak semudah itu membiarkan kita mengisap susunya. Kita harus bersaing dengan anak sapi, pemilik sah dari susu itu, menyingkirkan anaknya dahulu dan memegang induknya dengan benar, baru dapat memerah susunya. Ini suatu rangkaian pekerjaan yang sangat sulit untuk dilaksanakan.

Hanya karena tradisi mendominasi yang kejam ini sehingga manusia dapat meminum susu sapi, perbuatan yang licik dan tidak sehat itulah intinya. Produk-produk susu di pusat perbelanjaan kita adalah hasil manipulasi dan kekejaman manusia atas sapi selama berabad-abad—simbol kebrutalan dari sistem mesin pemerahan susu, baik dalam skala besar maupun kecil. 

Memaksa Sapi untuk Memproduksi Susu

Sapi sekarang ini dipaksa untuk memproduksi susu melebihi jumlah yang dapat mereka lakukan secara alami. Hasil seperti itu hanya dapat dicapai dengan dua manipulasi—meracik makanan dan hormon.3 Di alam liar, sapi seperti makhluk mamalia lainnya akan memproduksi susu setelah melahirkan anak, lalu mereka akan menyusui selama tujuh bulan. Awalnya susu keluar kurang lebih sepuluh pon setiap hari, mencapai puncaknya hingga dua puluh lima pon setiap hari, kemudian semakin berkurang menjadi sepuluh pon dan berhenti ketika anak sapi mulai mengonsumsi makanan padat. Sedangkan pada peternakan sapi perah saat ini, anak sapi segera dipisahkan dengan induknya sehingga menyebabkan kesedihan mendalam bagi keduanya. Induk sapi dipaksa untuk memproduksi susu 90 sampai 110 pon susu setiap harinya selama tujuh atau delapan bulan. Sapi perah hamil pada usia yang relatif belia apabila dibandingkan dengan di alam bebas, dan terus dibuat hamil bahkan di saat mereka masih mempunyai susu dari kehamilan sebelumnya. Karena terus didesak untuk menghasilkan susu yang banyak secara tak normal, kesehatan sapi-sapi tersebut cepat sekali menurun. Masa kehidupan sapi sebenarnya bisa mencapai usia dua puluh lima tahun, tetapi di peternakan, setelah empat tahun diperah habis-habisan sampai tidak bisa lagi memproduksi susu, sapi tersebut akan dibunuh secara brutal untuk dijadikan daging hamburger, dikuliti dan menjadi makanan hewan.

Eksploitasi yang terus menerus terhadap induk sapi perah membuat susunya sangat tidak sehat untuk manusia. Lagipula seperti yang telah dijelaskan, manusia memasukkan racun ke dalam susu sapi yaitu zat pertumbuhan IGF-1, kasein, estrogen, hormon soporifik, laktosa, pus, bakteri, parasit, dan zat tambahan kasomorfin. Inilah racun yang memeras sapi dengan paksa: penggunaan hormon pertumbuhan, hormon pemacu susu, antibiotik, obat penenang, dan makanan yang penuh pestisida.

Yang disebut susu sapi organik mungkin mengandung lebih sedikit kandungan racun, tetapi tetap tidak sesuai untuk kita, mengingat susu sapi sebenarnya diperuntukkan hanya untuk anak sapi, bukan untuk manusia. Bagaimana induk sapi tersebut mampu menghasilkan susu yang demikian banyak? Mereka dipaksa mengonsumsi makanan kolesterol dan disuntik dengan berbagai hormon, yaitu: estrogen, progesteron, prolaktin, dan testosteron. 

Para konsumen susu tidak dilindungi oleh paparan hormon, karena peraturan mengenai hal tersebut tidak ketat. Seperti ketika Mason dan Singer membeberkan keadaan di Pabrik Ternak, pihak Administrasi Pangan dan Obat-obatan bersama dengan Departemen Pertanian datang untuk membela dan melindungi pihak peternakan, bukannya membela konsumen, lingkungan maupun hewan.4 Satu lagi contoh ketika Kanada dan seluruh pemerintah Eropa melarang penggunaan rBGH, hormon gabungan untuk melipatgandakan susu dan pertumbuhan sapi, milik Monsanto. Pihak FDA dengan patuh menyetujuinya pada tahun 1985. Sejak saat itu hormon tersebut tetap digunakan pada sapi perah, walaupun telah terbukti secara ilmiah bahwa hormon tersebut memicu risiko kanker pada konsumen maupun sapinya.5

Peternakan sapi juga sudah lama menemukan bahwa jika sapi diberikan makanan yang penuh kolesterol, mereka akan memproduksi susu lebih banyak. Tentu saja sapi di alam liar adalah hewan herbivora dan tidak akan memakan daging makhluk hidup, susu, atau telur yang menjadi satu-satunya sumber kolesterol, kolesterol tidak ada pada tumbuh-tumbuhan. Tetapi peternakan susu sapi, seperti peternakan hewan lainnya harus menekan biaya industri mereka dengan “memperkaya” makanan dari daging sampah, produk dari ikan, burung, mamalia lainnya, termasuk daging sapi lain, bahkan daging anak mereka sendiri. Semua ini tidak diungkapkan, namun ini merupakan prosedur standar dari proses pemerahan susu sapi sepanjang tahun.

Menurut Tom Rodgers, seorang mantan peternak sapi perah, bahkan peternak susu kecil-kecilan pun “memperkaya” makanan tersebut untuk memacu pengeluaran susu supaya mereka dapat bersaing secara ekonomi.6 Setiap ekor sapi dipaksa untuk melahirkan dengan tujuan untuk diambil susunya. Anaknya yang berlebihan harus dibunuh dalam usia satu sampai dua tahun, atau dijual sebagai daging sapi muda. Pada akhirnya bagian tubuh mereka akan berakhir di mesin penggiling, dicampur dengan jeroan dan bagian-bagian tubuh yang tidak berguna dari ikan, babi, unggas, bangkai hewan jalanan, hewan uji coba laboratorium, anjing jalanan yang disuntik mati, kucing, kuda, dan hewan lainnya, kemudian dimasak sebagai bahan dasar lalu ditambah jagung, gandum, kacang kedelai serta biji-bijian lainnya untuk dijadikan sebagai pakan bagi sapi-sapi. Sapi-sapi secara rutin dipaksa memakan sapi lainnya yang kemungkinan besar itu adalah daging dan organ anaknya sendiri di dalam makanan itu.

Alasan satu-satunya praktik ini berhenti sekarang karena adanya penyakit sapi gila sebagai akibat langsung dari praktik peternakan yang gila ini. Walaupun FDA melarang pemberian makanan daging kepada hewan sejenis seperti: sapi makan sapi, mereka tetap memakan babi, ayam, kalkun, ikan, anjing, dan hewan lainnya. Mengingat reputasi FDA yang kurang bertindak dan memeriksa dengan tegas, sepertinya masih ada beberapa yang terus dipaksa menjadi kanibal.

Ini adalah tindakan terselubung yang kejam, memalukan serta aneh di balik penampilan susu. Semata-mata hanya dianggap bisnis saja, tidak ada yang mempertanyakannya, karena jumlah hewan telah dikurangi oleh industri susu untuk mencapai hasil produksi terbanyak dengan harga terjangkau. (Dan dari pihak USDA menjamin akan menampung susu yang kelebihan produksinya.7) Keseluruhan industri ini—baik pemasok—maupun penyalur keduanya mencerminkan kemerosotan keberadaban intelektual yang telah hilang untuk berinteraksi satu sama lain. 

Racun Dalam Susu

Seperti yang kita bahas sebelumnya, bahan kimia, pestisida, fungisida, pupuk, dan logam berat terkumpul di sel tubuh sapi, terutama di jaringan lemak dan organ dalam. Sapi perah bukan hanya menerima racun yang disemprot pada biji-bijian dan jerami yang mereka makan, tetapi juga racun yang terkandung di dalam makanan gilingan yang berasal dari daging hewan lain. Mereka dipaksa untuk memakan makanan itu. Semua racun itu terkumpul di susu mereka, karena susu mempunyai kandungan lemak yang tinggi dan racun selalu melekat pada lemak. Produk susu, terutama mentega, keju, krim, dan es krim jelas merupakan makanan yang tidak sehat dan berbahaya untuk dikonsumsi, terutama untuk anak-anak dan wanita hamil atau wanita menyusui.

Selain itu, secara alami susu sangat rentan terhadap racun. Alam tidak pernah menyetujui kita meminum susu dari keturunan spesies lain, terutama sapi. Susu sapi hanya sesuai bagi kebutuhan anak sapi di mana berat badan mereka berlipat ganda pada usia empat puluh tujuh hari, mereka bisa mencapai tiga ratus pon dalam empat belas minggu, juga bisa menyuplai empat ekor anak sapi yang sehat. Susu sapi mengandung tiga kali lebih banyak protein daripada susu manusia, dan mengandung lima puluh persen lebih banyak lemak. Susu anjing memiliki kandungan yang hampir sama dengan milik manusia. Susu sapi terlalu buruk, terutama bagi anak kecil yang sedang mengembangkan otak, sistem saraf, dan jaringan lainnya.

Anak manusia bukanlah anak sapi! Otak dan sistem saraf bayi akan berkembang baik dengan gizi dari susu manusia. Protein utama di dalam susu manusia adalah laktalbumin yang memiliki berat molekul 14 K. Angka tersebut sempurna dalam membangun saraf manusia yang sensitif. Bahan dasar protein dari susu sapi adalah kasein yang mempunyai berat molekul 233 K8. Teksturnya awet dan lengket, ia digunakan sebagai pelekat di cat, juga sebagai lem tripleks, dan menjadi pelekat label di botol.9 Sempurna sekali bagi pembentukan jaringan tubuh anak sapi tetapi menyebabkan kerugian yang tak terkirakan bagi tubuh manusia. Kasein adalah protein yang besar dan berat, sulit bagi anak manusia (maupun orang dewasa) untuk mengurainya, sehingga menimbulkan banyak sisa asam sewaktu memprosesnya, dan banyak masalah serius terjadi dalam kasus anak kecil.

Kita bukan hanya peduli pada gejala penyakit sehubungan dengan produk susu, termasuk mual, sakit telinga, sakit tenggorokkan, pilek, demam, kurang darah, kencing manis, amandel, radang usus buntu, berbagai alergi, infeksi kelenjar membran, diare, kembung, dan kejang.10 Kami juga peduli akan kerusakan yang terjadi di awal perkembangan jaringan tubuh anak kecil yang dipaksa diberi makanan dan minuman dari produk susu. Dapatkah jaringan manusia yang sensitif membangun sistem tubuh dan otak secara sempurna dengan lem kasein dan mencerna begitu banyak lemak yang diperuntukkan bagi anak sapi? Ini seperti kita sedang mencoba membuat lukisan yang halus dan sempurna dengan memakai kuas cat rumah! Tentu saja ini akan mempengaruhi perkembangan psikologi dari anak-anak kita—dengan hormon sapi, racun, dan kesengsaraan di balik susu yang akan mempengaruhi kepekaan anak-anak. Betapa tragisnya kita merusak dan mencemari kepekaan yang menakjubkan dari tubuh manusia di usia yang masih kecil, menurunkan kemampuannya dalam menyalurkan energi spiritual, kebijaksanaan, dan cinta kasih, serta mungkin memadamkan kemampuannya untuk merasakan kelembutan dari saling keterhubungan satu sama lain yang diciptakan untuk mengaktifkan panca indra, menjelajah, dan berbahagia. Apabila kita terus mengonsumsi produk susu sampai dewasa, ini akan menimbulkan tragedi.

Pada tingkat yang lebih dalam, memaksa anak kecil mengonsumsi produk susu akan menjadikan pikiran mereka mudah dipengaruhi dan tubuhnya berada dalam getaran yang mengerikan akibat kesedihan, penderitaan, kepanikan, dan ketakutan yang dialami oleh induk sapi baik di peternakan biasa maupun organik. Keseluruhan bisnis susu merupakan suatu pencurian: Dengan paksa merampas anak sapi dari ibunya dan mencuri susu induknya dari anak sapi. Kita menjadi sangat tidak sensitif atas kekejaman itu karena semua ini benar-benar kejam. Mungkin dalam konteks yang lebih luas, itulah yang membentuk budaya kita yang suka menindas, membatasi, dan mengeksploitasi kaum wanita dan perbedaan hak wanita.

Induk dari semua mamalia merasa sangat tertekan jika anaknya yang baru lahir dalam bahaya dan akan mengerahkan segenap kekuatannya untuk melindungi anaknya. Ibu manusia sangat mengetahui perasaan ini, dan betapa hancurnya dia apabila anaknya dipisahkan darinya. Cinta kasih ibu akan mengorbankan nyawanya sendiri untuk anaknya. Kita dapat melihat bagaimana induk anjing, beruang, gajah, monyet, rusa, singa, ikan paus merawat anaknya. Semua induk makhluk mamalia berkarakter keibuan. Tapi bagi para ilmuwan, pembisnis peternakan, atau ahli agama yang menolak dan mengabaikan masalah ini, hanya menunjukkan betapa merosotnya intelektual dan kepekaan mereka akibat kurang beradab dan hilangnya kemampuan untuk berinteraksi satu sama lain.

Di antara seluruh mamalia, sapi mungkin merupakan induk yang paling besar rasa keibuannya: lihatlah dari kelembutan dan sorotan matanya yang sabar, caranya mencintai anaknya, menjilat dan memberikan susu serta memperhatikan bayinya, juga bagaimana ia menjerit dengan keras ketika anaknya dibawa pergi darinya. Dia tidak bisa melawan tangan-tangan yang mencuri bayinya, atau berbicara dengan bahasa kita untuk memberi tahu betapa sakit perasaannya. Akan tetapi semua kejadian itu dapat dilihat dan didengar dengan jelas. Kita mengabaikan penderitaannya dan penderitaan anaknya—ratusan, ribuan, bahkan jutaan kali—kita mengabaikan sifat kemanusiaan kita. Ada pelanggaran yang mengerikan yang telah terjadi, pencurian susu dari anak sapi selama ribuan tahun, dan membangun peradaban yang mencuri susu, membunuh induk sapi dan anaknya. Kita kemudian mengadili semua perbuatan sadis ini berdasarkan mitos bahwa: Tuhan menjanjikan kita tanah dengan susu dan madu. Kekerasan pencurian susu dari induk yang diperbudak ini memunculkan benih peperangan, sebuah eksploitasi yang hampir tidak diungkapkan. Sekarang ini, kebudayaan kita mengambil susu secara terang-terangan, dan dipromosikan secara gencar ke seluruh dunia. Bagaimana kita dapat mengharapkan kedamaian ketika kita mempraktikkan kekerasan yang begitu memalukan dalam skala besar? 

Empat Jalur Menuju Neraka

Anak-anak sapi dipisahkan dari induknya dengan perlakuan brutal dan induk sapi telah menyadarinya. Hewan sangatlah sensitif, sudah banyak peradaban telah mengetahuinya dan para ilmuwan juga telah membuktikannya. Induk sapi sadar bahwa tangan-tangan yang mengurungnya, memerkosanya, dan memaksanya memproduksi susu tidak akan bertindak baik terhadap anaknya. Anak sapi yang dilahirkan akan menjalankan satu di antara empat jalur kiamat.

Jika dia betina mungkin dia akan dibesarkan seperti ibunya, menjadi budak untuk produksi susu. Dia akan dipisahkan dari induknya secepat mungkin supaya tidak menyia-yiakan susu ibunya yang laku di pasaran. Dia akan dicap. Biasanya memakai alat besi elektrik yang panas membara. Ini dijelaskan di buku teks mengenai managemen industri susu sapi: 

. . . baringkan anak sapi menyamping dan letakkan lututmu di atas lehernya. . . . Alat cap harus ditempelkan sekitar lima sampai dengan dua puluh detik. Waktu mungkin bisa lebih lama karena adanya pembakaran bulu rambut dan perlawanan dari anak sapi . . . pengecapan selesai apabila Anda mendengar suara decitan sewaktu alat diputar. Itu adalah suara ujung alat mengenai tulang tengkorak.11 

Menurut industri susu, sebagian besar anak sapi mempunyai “terlalu banyak” puting susu di dada mereka, dan puting yang “tidak kelihatan” tersebut akan mengganggu mesin pemerah susu. Puting itu akan dibuang tanpa obat bius, dijelaskan lagi di buku teks managemen industri susu: “Peganglah puting susu di antara jari jempol dan jari telunjuk Anda. Walaupun itu anak sapi tetapi saraf puting mereka telah berkembang sempurna. Anak sapi harus dipegang dengan benar sebelum proses ini Anda lanjutkan. Tarik puting susu keluar dan potonglah agak dalam dengan gunting.”12 Pengecapan, pemotongan ekor, dan pembuangan puting susu bukan saja menyebabkan penderitaan tetapi juga menimbulkan risiko infeksi dan menyebarkan penyakit. Tindakan itu dituding bertanggung jawab atas masalah virus leukemia pada sapi, yang menjangkit delapan puluh persen sapi perah di AS13 dan menurut penelitian Universitas Kalifornia, mungkin memicu ancaman kanker terhadap konsumen.14

Biasanya di alam bebas sapi betina muda tidak siap melahirkan anak pertama setidaknya tiga sampai lima tahun pertama. Akan terlalu lama untuk membiayainya tanpa mendapatkan susu darinya. Biaya makanan sapi mahal, jadi pemiliknya ingin mempercepat masa produksi, artinya harus menghamilinya secepat mungkin pada tahun pertama di mana ia masih merupakan anak-anak di usia manusia. Ini dapat terjadi dengan manipulasi hormon, dengan menyuntik estrogen dalam jumlah yang besar dan hormon lainnya seperti prostaglandin, yaitu hormon yang membuat suhu sapi menjadi panas ketika pekerja ingin menginseminasi mereka. Pada umumnya sapi tersebut akan dikurung di kandang pemerahan sepanjang tahun. Sering sekali dengan temperatur panas yang ekstrem dan tidak melakukan apapun kecuali makan dan berdiri di satu tempat, menjadi mesin penghasil susu. Dia akan diinseminasi dengan senjata sperma yang didorong kuat menerobos vaginanya dan ditembak. Sperma itu datang dari sapi penjantan khusus yang diperah—untuk spermanya—dan akan disembelih pada saat produktivitasnya menurun.

Segera setelah dia melahirkan, bayi sapi itu akan segera diambil darinya, dan dia akan diperah susunya dua atau tiga kali sehari oleh mesin pemerah susu. Bukan lagi sesuatu yang dilakukan olehnya, tapi menyusui merupakan hal yang dilakukan terhadap dirinya. Mesin-mesin itu sering kali menyebabkan goresan dan luka dan dapat menimbulkan radang kelenjar payudara, infeksi pada ambing, yang merupakan wabah dalam peternakan-peternakan sapi perah modern. Terkadang mesin pemerah susu juga menimbulkan kejutan-kejutan listrik yang mengakibatkan ketidaknyamanan dan ketakutan yang amat sangat. Sapi kemungkinan juga “dikucuri”, suatu prosedur rutin yang dilakukan terhadap beberapa ekor sapi setelah melahirkan untuk mengurangi penyakit-penyakit metabolisme di masa-masa awal menyusui. Bergalon-galon cairan padat nutrisi dipaksakan masuk melalui tabung sepanjang dua meter yang didorong masuk ke tenggorokannya. Dia mungkin basah kuyup jika cairan dipompakan terlalu cepat atau jika tabungnya tersangkut di batang tenggorokannya. Suatu prosedur serupa yang disebut pembilasan kemungkinan dipaksakan terhadap bayinya yang baru lahir, untuk mengasup kolostrum.

Segera setelah sapi mulai diambil susunya, dia diinseminasi lagi di “rak perkosaan” oleh senapan sperma. Dia kemudian hamil dan menyusui pada saat bersamaan, dan hanya akan dilepas dari mesin pemerah susu selama dua bulan terakhir masa kehamilannya. Segera setelah dia melahirkan, si bayi diambil kembali, dan dia kembali ke mesin pemerah susu dan diperkosa serta diinseminasi lagi.

Semua ini mengakibatkan penderitaan tak terkira bagi induk sapi, dan kesehatan mereka turun drastis. Asupan hormon laktogenik dan tinggi kolesterol dan jadwal pemerahan susu yang tidak alami mengakibatkan ambing sapi terluka dan sangat berat sehingga terkadang mereka terseret di tanah dan di atas kotoran mereka sendiri, menambah rasa sakit pada radang kelenjar payudara dan berujung pada penggunaan antibiotik yang berlebihan. Ambing mereka tertarik secara permanen jauh lebih memanjang dibandingkan yang seharusnya secara alamiah. Perbelangan kaki mereka bengkak dan sakit akibat berdiri terus-menerus di lantai keras. Setelah tiga sampai lima tahun, induk-induk sapi ini, budak-budak penghasil susu, terkuras dan dibawa pergi dalam truk-truk dengan muatan berlebihan untuk menghadapi penistaan terakhir, kebrutalan rumah jagal. Sebagian besar ternak yang terkapar” yang sampai di rumah jagal adalah sapi-sapi penghasil susu. Hewan-hewan ini terlalu lemah, berpenyakit atau terluka saat keluar dari truk. Tulang-tulang mereka mudah patah karena osteoporosis yang diakibatkan makanan tinggi protein dan produksi susu dalam jumlah besar yang dipaksakan. Perjalanan mungkin berlangsung selama beberapa hari tanpa makanan ataupun air melalui cuaca beku atau panas terik. Terkadang sapi-sapi menempel karena beku pada bagian dalam truk. Jika mereka tak sadar, hewan-hewan “terkapar” ini dikejutkan dengan cambuk yang luar biasa menyakitkan. Jika mereka masih juga tidak bisa bergerak, mereka ditarik dengan rantai, yang dalam proses ini terkadang sampai merobek kulit, merobek otot dan ikatan sendi, dan mematahkan tulang. Mereka tidak dimatikan secara manusiawi karena mereka hanya dipandang sebagai seonggok daging, dan bongkahan daging yang sudah mati tidak sepatutnya disembelih (hal ini sebenarnya terjadi, menurut kesaksian tertulis para pekerja di rumah jagal Gail Eisnitz). Mereka diseret ke lantai pembantaian, di mana tubuh mereka akan dirobek-robek untuk dijadikan daging burger, makanan hewan, makanan hewan peliharaan, kulit, gelatin, lem, dan produk-produk lainnya.

Skenario yang sama berlaku pada peternakan-peternakan sapi perah yang menghasilkan apa yang mereka sebut produk susu organik, kecuali bahwa makanannya adalah organik, ada pembatasan atas jumlah hormon dan racun-racun lainnya, dan mungkin ada tempat yang sedikit lebih luas di kandang penjara. Sapi-sapi tetap dibantai setelah beberapa tahun, dan mekanisme penetapan harga yang sama mengendalikan industri: untuk mendapatkan susu terbanyak dengan harga termurah. Sapi-sapi itu sendiri berharga sangat murah, karena memaksimalkan kehamilan mendorong produksi susu dan selalu ada anak-anak sapi lebih yang tersedia daripada yang dapat digunakan.

Hal ini membawa kita ke jalur kemungkinan kedua bagi anak-anak sapi yang dilahirkan di peternakan sapi perah: mereka mungkin langsung dibunuh setelah lahir jika permintaan industri daging anak sapi dan industri daging sapi sedang rendah. Renet yang ada di perut muda mereka bernilai untuk pembuatan keju. Kemudian tubuh mereka dicincang halus untuk makanan hewan, dan kulit mereka dijadikan kulit yang lebih mahal. Terkadang sapi hamil dikirim ke rumah jagal. Dalam hal ini, janin anak sapi yang keluar dari tubuh mereka ketika mereka disembelih harus dibunuh secara terpisah oleh para pekerja rumah jagal. Bayi-bayi yang tak terlahir ini dikuliti untuk diambil kulit lembut mereka dari tubuh kecil dan basah mereka, yang dijual dengan harga tinggi.

Jalur kemungkinan ketiga bagi anak sapi perah yang baru dilahirkan adalah dilelang ke industri daging anak sapi. Baik anak sapi jantan maupun betina dipaksa masuk ke jalan gelap dan menyedihkan ini ketika mereka tidak dibutuhkan di peternakan sapi perah (ini juga termasuk peternakan sapi perah organik). Penyiksaan yang dialami makhluk-makhluk malang ini selama masa hidup mereka yang singkat diketahui publik dan tercatat lengkap. Mereka dipaksa masuk ke peti kayu anak sapi dan dirantai lehernya segera setelah mereka tiba di industri daging anak sapi, hanya saat berumur beberapa hari atau beberapa minggu. Peti-peti kayu ini dibuat kecil, untuk membatasi sapi-sapi muda ini agar mereka tidak dapat bergerak, mengakibatkan otot-otot mereka tidak berkembang dan “daging” mereka lebih empuk. Mereka ditaruh di tempat gelap dan diberi makanan yang sengaja dibuat tanpa kandungan zat besi agar daging mereka menjadi pucat, yang menghasilkan harga lebih tinggi. Dengan panik, mereka akan mengisap atau menjilat besi apa pun, seperti paku-paku yang kebetulan terjangkau. Mereka menanggung pengurungan kejam ini, sering kali diselimuti oleh kotoran mereka sendiri. Kegembiraan alamiah dan sifat riang mereka dihancurkan oleh kesakitan dan keputusasaan akan situasi mereka. Makanan cair mereka dicampur dengan bahan kimia, obat-obatan, dan antibiotik, dan setelah tiga sampai empat bulan, mereka diangkut ke rumah jagal untuk dibunuh bagi pasar daging dan kulit anak sapi.

Jalur keempat bagi anak-anak sapi yang dilahirkan di peternakan sapi perah, jika mereka jantan, adalah untuk dilelang di industri daging dan dipelihara untuk diambil dagingnya. Dalam hal ini mereka akan menghadapi kesakitan amat sangat akibat pengebirian tanpa pembiusan saat mereka masih muda. Hewan-hewan malang ini juga kemungkinan diberi cap—terkadang berkali-kali, mengakibatkan luka bakar tingkat tiga yang teramat sangat menyakitkan—dan dibuang tanduknya, yang juga luar biasa menyakitkan. Mereka menghabiskan satu sampai satu setengah tahun dikandangkan atau digembalakan, tumbuh sampai ukuran yang menjadikan mereka menguntungkan untuk disembelih, kemudian dikirim ke area penggemukan untuk digemukkan.

Di area penggemukan, ratusan atau ribuan ternak yang sudah dikebiri dikumpulkan jadi satu selama beberapa bulan dengan sedikit atau tanpa atap sama sekali, di dalam kandang yang berbau busuk, dan diberi makan apa pun yang pengelola area penggemukan rancang untuk membuat mereka bertambah berat secepat dan semurah mungkin (ketika mereka dijual, si pengelola dibayar berdasarkan pon). Makhluk yang tak beruntung ini, hanya menjadi objek di dalam kompleks pengolahan daging, diberi steroid buatan pemacu pertumbuhan seperti Ralgro, Synovex, atau Rumensin agar mereka tumbuh menjadi jauh lebih berat dan jauh lebih muda daripada yang bisa terjadi dalam pertumbuhan alami mereka.15 Walaupun alaminya sapi adalah pemakan rumput dan tidak akan makan biji-bijian di alam bebas, pengelola area penggemukan, seperti pengelola peternakan sapi perah, menemukan bahwa memberi mereka makan biji-bijian akan mempercepat pertumbuhan dan keuntungan. Karena biji-bijian (terutama jagung, kacang kedelai, gandum, dan oat) relatif mahal, biji-bijian itu ditambahkan dengan bahan tambahan yang lebih murah untuk menambah berat ternak. Bahan tambahan makanan ternak yang dikenal luas adalah serbuk gergaji, debu semen, kotoran ayam, dan produk sampingan minyak bumi. Semua racun dalam biji-bijian, dan juga bahan-bahan lainnya, terkumpul dalam lemak dan daging sapi jantan. Bahan tambahan makanan lainnya yang sama tak menyenangkannya untuk direnungkan: daging cincang dan bagian-bagian hewan yang diperoleh dari pabrik pengolah sisa buangan jaringan hewan. Produk-produk hewan ini sangatlah tinggi kandungan racunnya, begitu pun lemak, kolesterol, dan protein hewaninya, yang membantu menghasilkan lemak berpola marmer yang membuat harga daging ternak menjadi lebih tinggi. Sapi muda tidak diizinkan bergerak, karena itu akan membakar kalori dan mengeraskan daging mereka. Industri peternakan juga telah menemukan bahwa jika hewan-hewan diberi antibiotik secara rutin dalam makanan mereka, mereka akan tumbuh lebih cepat, dengan demikian, menurut Persatuan Para Ilmuwan Peduli, lebih dari tujuh puluh persen antibiotik yang diproduksi di Amerika Serikat diberikan kepada hewan-hewan ternak yang dikurung.16 Antibiotik juga diberikan untuk membantu melawan infeksi-infeksi dan penyakit-penyakit yang mewabah dalam area penggemukan yang super padat di mana sapi-sapi dikurung. Sementara itu sangat lucu untuk membayangkan jika sapi-sapi menyeberangi sungai untuk menangkap ikan, tapi kebenaran yang janggal adalah seluruh populasi ikan telah dibantai baik di Samudra Atlantik maupun Pasifik oleh industri penangkapan ikan dengan jala-jala skala besarnya hanya untuk menyuplai ikan ke industri pakan ternak. Ikan mengandung lemak dan kolesterol yang sangat cocok untuk menggemukkan sapi-sapi yang tak beruntung berada di area penggemukan.

Setelah cukup gemuk, pengelola mengirim sapi-sapi jantan yang telah digemukkan ke rumah jagal agar daging mereka dapat dimakan oleh manusia dan herbivora lainnya, semuanya terkurung oleh operasi penggemukan-dan-pembunuhan yang mengerikan yang memenuhi dan mencemari seluruh planet ini. Lautan, ladang, padang rumput, hutan, jalan raya, kebun binatang, peternakan, sirkus, laboratorium, badan pengendali hewan, perusahaan pembiakan hewan peliharaan, dan sekolah-sekolah terkait dengan pabrik-pabrik pengolah sisa buangan jaringan ternak dan rumah-rumah jagal di dalam jaringan kekerasan ini, serta hewan-hewan yang didominasi atau dibunuh di tempat-tempat tersebut berkontribusi atas proses penggemukan sapi-sapi jantan ini agar mereka dapat menjadi objek pembunuhan yang menguntungkan. Daging mereka adalah rumah bagi kesengsaraan yang mencemari yang mungkin dapat mengutuk kita dengan berbagai cara jika kita mendukung industri ini dengan berlangganan pada kios-kios daging yang bertebaran di mana-mana yang membentuk kebudayaan kita.

Seluruh empat kemungkinan jalur yang mungkin dialami oleh seekor bayi sapi yang baru lahir di peternakan sapi perah adalah jalur-jalur siksaan dan kematian dini. Karena keluarga sapi di alam liar umumnya hidup dengan mudah selama dua puluh sampai tiga puluh tahun, maka peternakan ini, dalam membunuhi anak-anak sapi, sapi-sapi jantan, dan sapi-sapi perah di usia beberapa bulan sampai beberapa tahun, sungguh merupakan pembunuhan terhadap bayi-bayi dan anak-anak. Dalam hal ini, serupa dengan peternakan-peternakan yang mengurung dan membunuh domba, babi, ayam, kalkun, dan ikan: semua dipaksa untuk tumbuh cepat secara tidak normal dan dibantai di usia muda. Sama halnya, dalam peperangan kita menyerang satu sama lain, anak-anak menderita dan meninggal paling banyak, dan lebih dari sebelumnya mereka bahkan dipaksa untuk melakukan pembunuhan itu. Budaya makanan hewani meningkatkan dominasi dan eksploitasi terhadap perempuan dan kewanitaan, yang penuh dengan sumber kehidupan dan energi pemeliharaan, dan terhadap bayi-bayi dan anak-anak, yang penuh dengan energi kesucian dan pertumbuhan. 

Kedok Berkumis

Alat pemasaran yang tampak tak berdosa dan efektif, kumis susu dari industri peternakan sapi perah, sebenarnya merupakan sebuah kedok yang menyembunyikan praktik-praktik industri yang paling memuakkan dan paling tidak manusiawi yang dapat dibayangkan. Induk-induk yang jinak dan vegetarian ini serta anak-anak mereka yang malang dikuasai sejak lahir sampai mati, digemukkan secara tidak alami dengan daging hewan agar manusia dapat menggemukkan diri mereka sendiri dengan produk susu dan daging sapi. Orang hampir dapat berharap bahwa dengan pengorbanan mereka yang luar biasa, sapi-sapi penghasil susu paling tidak dapat menyediakan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Namun, keadilan yang lebih berat tak dapat dihindari: dengan membunuh mereka, kita membunuh diri sendiri; dengan memperbudak mereka, kita memperbudak diri sendiri; dengan membuat mereka sakit, kita membuat diri kita sakit.

Induk sapi seperti halnya semua mamalia menyusui, memproduksi sejumlah besar estrogen dalam susu mereka. Tidaklah sehat bagi manusia untuk mengonsumsi estrogen tinggi ini di usia berapa pun. Salah satu dampak yang jelas terlihat adalah tubuh anak perempuan yang didorong untuk tumbuh matang secara seksual secara tidak alami di usia muda. Rata-rata usia menstruasi pertama, bukanlah lagi sekitar tujuh belas tahun seperti di awal abad pertengahan sembilan belas, tapi sekarang adalah sekitar 12,5 tahun.17 Hal ini jelas dinyatakan secara mengejutkan di Jepang setelah Perang Dunia II. Hanya dalam rentang waktu satu atau dua generasi setelah produk-produk susu diperkenalkan di sana, usia rata-rata menstruasi pertama bergeser dari 15,2 tahun ke 12,5 tahun.18 Menurut peneliti Kerrie Saunders, “Warga pedesaan Afrika dan China tetap mempertahankan tradisi pola makan mereka yang sebagian besar terdiri dari makanan nabati, dan keduanya memiliki rata-rata awal pubertas remaja putri di usia tujuh belas tahun.19 Menstruasi pertama yang lebih awal secara tidak alami dalam budaya kita mengakibatkan penderitaan yang tak terhingga, dengan kehamilan remaja yang sebenarnya tak perlu, dilema dan perdebatan aborsi, tekanan fisik, psikologis, dan sosial yang tidak alami yang sebenarnya merupakan akibat dari kematangan seksual remaja-remaja putri kita yang terlalu awal, sama seperti yang kita lakukan pada sapi-sapi muda yang diperbudak di peternakan sapi perah.

Walaupun saat para wanita mengonsumsi produk-produk susu, menyebabkan pemerkosaan, eksploitasi, dan kematian hewan-hewan betina lain, pada saat yang sama mereka mungkin dianggap oleh kaum pria sebagai daging, hanya objek untuk dipakai. Ironisnya, sama seperti sapi-sapi yang dipaksa untuk memiliki kelenjar susu yang besarnya tidak alami dan bengkak untuk menghasilkan susu secara berlebihan untuk industri peternakan sapi perah, makanan yang dihasilkan itu mengakibatkan pembesaran kelenjar susu yang tidak alami pada para wanita yang mengonsumsinya—suatu ciri yang dihargai dalam budaya menggembala dan semakin menekankan status wanita hanya sebagai objek bagi mata kaum pria. Keterkaitan industri susu dan industri daging mengabadikan mentalitas menggembala patriarkat yang memandang baik hewan maupun wanita sebagai “daging”, untuk diperah susunya dan dimakan di satu pihak dan dimanfaatkan secara seksual di pihak lainnya. 

Terdapat bencana-bencana lain terkait dengan konsumsi produk-produk susu sapi oleh manusia. Charles Attwood, M.D., dan T. Colin Campbell, Ph.D., telah menuliskan, Penelitian-penelitian epidemiologi manusia telah benar-benar menghubungkan antara konsumsi protein hewani dengan berbagai penyakit kanker. Dari semua protein hewani, terdapat bukti eksperimen kuat bahwa kasein, protein dasar susu, khususnya mampu memicu perkembangan kanker . . .

Masalah-masalah lain apa saja yang terkait dengan susu dan produk-produk turunannya? Sebagian besar para ahli pengobatan alergi menekankan bahwa lebih dari separuh pasien mereka terindikasi alergi terhadap satu atau lebih protein-protein susu yang jumlahnya lebih dari dua puluh empat jenis protein. Gejala-gejala alergi mereka meliputi eksema, asma, infeksi telinga tengah, infeksi sinus, rinitis, gastroenteritis, dan alergi usus—kondisi-kondisi yang menyebabkan 80 sampai 90 persen kunjungan ke ruang praktik dokter . . . 20 

Delapan puluh sampai sembilan puluh persen kunjungan ke praktik dokter —tidaklah mengherankan bahwa produk-produk susu sangat dipromosikan oleh jejaring perusahaan obat-media-perbankan dan pola makan nabati sangat tidak dianjurkan.

Kandungan bakteri patogen yang sangat banyak yang diizinkan dalam susu pasteurisasi—lima juta bakteri patogen per cangkir, lebih dari dua ratus kali kandungan dalam biji-bijian, sayur-sayuran, buah-buahan, polong-polongan, dan kacang-kacangan jika tidak terkontaminasi dalam penanganannya21—merupakan tekanan yang terus-menerus terhadap sistem kekebalan tubuh dan memungkinkan naiknya risiko akan keseluruhan spektrum penyakit dan juga kanker dari berbagai jenis, khususnya kanker payudara dan prostat.22 Susu sapi mengandung sangat banyak nanah, yang tak terhindarkan karena tingginya jumlah bakteri dalam ambing sapi perah yang terluka parah, dan pasteurisasi tidak membendung masuknya arus bakteri patogen. Sebagian contoh susu pasteurisasi yang dibeli dan diujikan oleh Laporan Keamanan Konsumen (Consumer Reports) mengandung mikroba sebanyak 30 sampai 700 juta per cangkir!23 Bakteri-bakteri patogen ini, selain meningkatkan risiko radang lambung dan usus, radang tenggorokkan akibat bakteri streptokokus A, dan berbagai penyakit lainnya, juga diketahui meningkatkan kerusakan gigi, dan bayi-bayi yang tidur sambil mengisap botol berisi susu sapi diketahui berisiko giginya keropos sebagian atau bahkan seluruhnya!24 Menurut para peneliti yang dikutip oleh Frank Oski, M.D., konsumsi produk-produk susu berhubungan dengan diare, anemia akibat kekurangan zat besi, pendarahan usus, penyakit ginjal, eksema, bronkitis, alergi, asma, demam hay, nyeri tulang, bintik merah gatal, alergi terhadap penisilin, leukemia, sklerosis ganda, dan kerusakan gigi, serta diabetes, obesitas, dan penyempitan pembuluh darah yang disebabkan oleh tingginya kandungan lemak dan kolesterol.25

Protein dalam susu, khususnya kasein, yang sempurna untuk anak sapi, terlalu besar dan sulit bagi kita untuk dicerna. Anak sapi memiliki suatu enzim khusus, rennin, yang tak ada pada manusia, yang mengentalkan dan menguraikan kasein. Menurut peneliti nutrisi terkemuka T. Colin Campbell, “Protein susu sapi kemungkinan merupakan senyawa kimia tunggal penyebab kanker paling signifikan yang mengekspos manusia.”26

Selain itu, susu sapi sarat akan hormon pertumbuhan alami, yang mendorong bayi sapi yang baru lahir tumbuh beratus-ratus pon hanya dalam tahun pertama kehidupannya. Bahan pendorong-pertumbuhan ini, oleh para ilmuwan dinamakan 'insulin-like growth factor one / faktor pertumbuhan mirip insulin satu’ (IGF-1), yang secara molekul sama persis dengan IGF-1 dalam tubuh manusia yang mempercepat pertumbuhan kita sebagai anak-anak. Dosis berlebihan faktor pertumbuhan yang kita dapatkan dalam susu sapi menyebabkan kita tumbuh secara tidak alamiah, bukan saja dalam tinggi badan. Saya ingat, sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang terbiasa mengonsumsi produk-produk susu dalam jumlah banyak, gigi saya menjadi terlalu besar bagi mulut saya dan dokter gigi saya, ketika mengukur kawat yang diperlukan untuk meluruskan gigi-gigi tersebut, mengatakan,”Wah! Sepertinya kau punya gigi sapi!”

Bagi kaum dewasa, penelitian telah menunjukkan bahwa kelebihan IGF-1 akibat konsumsi produk-produk susu dapat meningkatkan risiko kanker.27 Karena kita tidak lagi dalam masa pertumbuhan, sebagai orang dewasa normalnya kita memiliki sedikit, jika ada, IGF-1 dalam darah kita untuk meningkatkan pertumbuhan sel-sel baru. IGF-1 yang masuk ke aliran darah kita ketika kita makan produk-produk susu mengakibatkan dampak yang serius. Mengingat bahwa dalam triliunan sel di tubuh kita, secara alami terdapat beberapa sel kanker yang muncul di sana sini sepanjang waktu, dengan sistem kekebalan yang sehat, sel-sel ini mudah ditemukan dan dihancurkan. Masuklah IGF-1 dari susu sapi. Faktor pertumbuhan ini seperti bensin yang disiramkan ke api, langsung menstimulasi pembelahan sel dengan pesat dalam pertumbuhan sel kanker dalam jumlah kecil dan mudah ditangani. Sistem kekebalan tubuh, yang telah bekerja keras mengatasi beban bakteri patogen dan racun-racun dalam produk-produk susu, mungkin tak mampu lagi mengatasi hal ini. IGF-1 dalam produk-produk susu sesungguhnya dapat menimbulkan kanker—akan tetapi tokoh-tokoh terkenal, termasuk para profesional kesehatan, yang muncul dalam kampanye iklan-iklan mahal mendukung kumis-kumis susu, mendukung industri susu! 

Telur: Lagi-Lagi Dominasi atas Feminitas

Sebagaimana halnya dengan produk susu, ketika kita membeli telur, kita mendorong pencurian dan kekerasan terhadap betina-betina yang teraniaya teramat brutal dan menyumbang pada pencemaran lingkungan, patologi sosial, dan penyakit. Dalam peternakan telur, prinsip-prinsip yang sama seperti yang telah kita bahas dalam industri peternakan sapi perah juga berlaku, bahkan jauh lebih ekstrem. Para betina yang peka ini dikelompokkan dan dianggap hanya sebagai mesin penghasil uang, terpenjara dalam kondisi yang penuh sesak, penuh tekanan, dan sangat kotor tak terbayangkan, telur-telur mereka dicuri—kemudian, ketika mereka tak lagi mampu berproduksi cukup banyak, mereka dibunuh dengan brutal.

Telur ayam beracun bagi manusia sebagaimana semua produk hewani lainnya. Pertama, mereka terbuat dari protein hewani, lemak jenuh, dan kolesterol, ketiganya merupakan penyumbat pembuluh darah, mengasamkan darah dan jaringan, merusak sistem kekebalan tubuh, dan membuat kondisi tubuh tertekan dalam berbagai cara, seperti yang telah dibahas sebelumnya. Telur, faktanya, merupakan paket-paket kolesterol paling tinggi yang dijual di supermarket. Kedua, telur mengonsentrasikan residu-residu pestisida, bahan kimia, hormon, dan bakteri yang berbahaya. Ketiga, mengonsumsi telur berarti mengonsumsi getaran-getaran penderitaan, seperti yang akan dibuktikan di bawah ini ketika kita melihat pada metode produksi telur.

Seperti semua hewan yang tubuhnya digunakan untuk menghasilkan makanan bagi meja makan kita, ayam dipandang tak lebih sebagai komoditas. Setiap ayam yang ada dalam proses penetasan telur sangatlah murah untuk diganti sehingga mereka sangat tidak bernilai dan diperlakukan sedemikian murahnya. Mereka menghabiskan hidup mereka dalam kandang-kandang baterai, penjara kawat sempit setinggi 35–40 cm dan 45–50 cm lebarnya, yang masing-masing dijejali dengan empat sampai delapan ayam betina berdesakan sehingga mereka bahkan tidak pernah dapat mengembangkan sayapnya. Kawat-kawat kandang itu mencabuti bulu-bulu mereka, membuat mereka telanjang, terluka, dan tak terlindungi.28 Kepala, sayap, atau paha mereka bisa saja tersangkut di antara kawat-kawat itu dan mengakibatkan kelaparan sampai mati, mayat mereka yang membusuk membebani ayam-ayam lainnya dalam kandang itu. Kaki mereka tertusuk dengan cara yang menyakitkan oleh kawat-kawat itu, yang bisa saja tertanam dalam daging mereka saat kaki mereka tumbuh di sekelilingnya. Kandang-kandang baterai itu disusun setinggi empat sampai lima baris, dengan kotoran dan air seni dari mereka yang ada di atas jatuh ke kepala dan tubuh unggas-unggas yang di bawahnya, yang akhirnya mendarat di lubang kotoran yang bau di mana beberapa ayam yang entah bagaimana berhasil lolos dari penjara mereka jatuh ke dalamnya dan mati perlahan-lahan.

Sama seperti industri peternakan sapi perah, industri telur didirikan di atas dominasi total terhadap feminitas, dan di atas manipulasi tubuh betina untuk memaksimalkan keuntungan tanpa memedulikan terjadinya kekejaman yang sangat keterlaluan. Dan karena ayam lebih kecil dan dianggap berderajat lebih rendah dibandingkan sapi, mereka dibantai dengan kejam bahkan secara lebih terang-terangan dalam pencarian akan telur-telur murah. Ayam-ayam betina secara rutin dipotong paruhnya, suatu tindakan yang menimbulkan trauma tak terkira di mana sekitar separuh dari paruh itu dipotong. Pisau panas membelah jaringan saraf yang paling sensitif di paruh-paruh mereka, menyebabkan kesakitan yang akut sehingga denyut jantung unggas meningkat sampai lebih dari seratus denyutan per menit. Banyak yang mati di tempat. Bagi mereka yang bertahan, kesakitan yang akut akibat tindakan ini bisa bertahan sepanjang hidup mereka dan mempengaruhi makan mereka. Ayam-ayam jantan tidak dibutuhkan, jadi para pekerja membinasakan mereka secara massal, baik dengan membuat mereka mati lemas dan meremukkannya dalam plastik sampah besar atau dengan melempar mereka hidup-hidup ke dalam mesin-mesin dengan pisau berputar seperti mesin pemotong kayu yang mengubah mereka menjadi makanan ayam instan atau pupuk. Ayam-ayam betina yang tak lagi menghasilkan cukup telur juga dimusnahkan dengan dilempar hidup-hidup ke dalam pisau berputar di mesin pemotong kayu.

Industri telur mengakui banyak penyakit dan sindrom yang sudah menjadi sifat sistem baterai: kelainan bentuk kaki dan lengan yang menyakitkan, maupun sayap dan kaki yang patah dan kusut, karena kandang kawat; kekurangan kalsium, maupun rahim turun dan menggelembung, karena dipaksa menghasilkan banyak telur secara tidak alami; osteoporosis pada ayam petelur kandang, yaitu kehilangan jaringan tulang yang secara langsung dihubungkan dengan perhentian gerak; sindrom lemak hati dan kepala bengkak karena kualitas dari udara dan makanan yang rendah dan dipaksakan hidup secara terus-menerus di tempat kotor dan tertekan; permasalahan paru-paru dan mata akibat udara penuh dengan amonia; kebutaan akibat patukan ayam sekandang yang putus asa; dan salmonela, di mana saluran telur ayam betina dikerumuni bakteri salmonela, menularkan penyakit kepada konsumen melalui telur.

Sudah terbukti dengan baik bahwa antibiotik diberikan pada dasarnya kepada ayam petelur di seratus persen industri telur untuk mengendalikan penyakit-penyakit karena bakteri yang tumbuh subur dalam keadaan kotor ini. Antibiotik juga diketahui meningkatkan produksi telur, tetapi, sama seperti pada makhluk-makhluk lainnya, termasuk manusia, antibiotik menambah permasalahan lain, karena ia mengganggu dan membunuh tumbuhan mikro di usus yang diperlukan untuk pencernaan dan pembersihan, sehingga melemahkan sistem kekebalan. Residu-residu pestisida beracun dari pakan ternak, residu antibiotik, dan residu hormon, zat-zat kimia, dan bakteri patogen semuanya terkonsentrasi pada lemak dan telur dari ayam-ayam betina ini, menjadikannya sangat tidak sehat untuk dikonsumsi.

Puluhan ribu ayam yang dijejalkan ke dalam satu naungan produksi telur tidak memiliki ruang untuk bergerak dan sama sekali tidak bisa membuat sarang, mendirikan tatanan sosial, atau mengekspresikan kecerdasan alami atau tujuan mereka dengan cara apa pun. Pencahayaan buatan dibuat hampir secara terus-menerus saat mereka dikurung, serta pakan ternak dan obat-obatan semuanya dibuat dengan satu tujuan saja: memangkas biaya dan memaksimalkan jumlah telur yang keluar dari rahim ayam dan menggelinding turun di dasar kandang kawat yang miring untuk diambil dengan cepat di atas ban berjalan. Dalam industri ayam modern, lebih dari 250 telur dihasilkan per tahun, dua setengah kali lebih banyak daripada jumlah yang dihasilkan ayam betina dalam keadaan alami. Secara alamiah, ayam petelur sangat teliti terhadap sarangnya dan sering memilih tempat yang cocok untuk meletakkan telurnya yang berharga sambil bekerja sama dengan ayam jantan. Ketika ia benar-benar bertelur di sarang yang dipersiapkan dengan hati-hati, itu “jelas bagi ayam betina sebagai momen yang penuh kebanggaan dan kepuasan”.31 Bandingkan dengan penjelasan proses bertelur ayam kandang berikut ini. 

Ayam betina di kandang baterai yang ketakutan mulai panik ketika ia sia-sia mencari tempat membuat sarang yang sesuai dan tersendiri di dalam kandang kawat yang terbuka dan penuh sesak itu; kemudian ia kelihatan melupakan lingkungannya, berjuang melawan kandang itu seolah-olah berusaha melepaskan diri. . . .

Coba bayangkan diri Anda sebagai ayam petelur; rumah Anda adalah kandang yang penuh sesak dengan lantai kawat yang menyebabkan kaki Anda terluka dan mengalami kelainan bentuk; tidak ada ruang untuk merentangkan kaki Anda atau mengepakkan sayap Anda yang menjadi lemah karena kurang latihan; tapi pada waktu bersamaan, Anda tak pernah bisa tenang karena selalu ada salah satu sahabat sekandang yang merana yang perlu bergerak; salah satu ayam lainnya selalu mengganggu Anda dan Anda tak bisa melepaskan diri—kecuali membiarkan ayam lain duduk di atas diri Anda; udara penuh debu dan bulu-bulu yang beterbangan yang melekat di sisi kandang yang terciprat oleh kotoran ayam penghuni kandang di tingkat atas; sulit untuk bernafas—ada bau busuk amonia yang mencekik di udara karena tumpukan-tumpukan kotoran di bawah kandang dan Anda sama sekali tidak merasa sehat; lalat-lalat tidak tertahankan meskipun insektisida disemprotkan di udara dan bercampur dengan makanan Anda—untuk membunuh larva lalat sebelum mereka cukup umur; makanannya—tak pernah hijau dan segar—jarang bervariasi dan rasanya selalu seperti rasa zat-zat aditif kimiawi dan obat-obatan yang diperlukan untuk menjaga Anda agar tetap hidup; pada akhirnya, meski keadaan Anda menyedihkan dan menderita, dan hiruk pikuk suara tersiksa beribu-ribu unggas yang menjeritkan penderitaan mereka bersama-sama, Anda mengeluarkan satu telur dan melihatnya menghilang dari pandangan Anda; tetapi sukacita dari membuat sarang, melahirkan, berkeok pada anak-anak ayam tidak ada—bertelur adalah ritual yang tak berarti, membuat frustrasi, dan melelahkan.32 

Seluruh kehidupan keluarga dan sosial yang alami dihancurkan. Ayam-ayam ini tidak mengenali induknya juga anak-anaknya, tidak mengenali pasangannya juga tidak mengenali tanah ataupun matahari. Mereka dilahirkan di perusahaan penetasan, dipotong paruhnya, kemudian divonis menjadi budak produksi telur yang dikurung.

Ketika populasi dari beribu-ribu ayam betina di industri telur sampai pada siklus akhir bertelur, ayam-ayam betina itu akan diberi gas atau dibunuh, karena tubuh mereka yang tersiksa memiliki sedikit sekali daging, yang tidak bernilai untuk bersusah-susah mengapalkannya untuk dijagal, atau mereka bisa dijagal untuk daging kelas rendah yang digunakan dalam sup ayam dan makanan hewan peliharaan. Meski demikian, sering kali ayam-ayam betina itu dipaksa berganti bulu terlebih dahulu, untuk mengejutkan tubuh mereka ke dalam siklus bertelur sekali lagi. Ini dilakukan dengan menahan makanan dan minuman dan mengatur kombinasi obat, termasuk hormon. Kelaparan yang dipaksakan ini bisa berlangsung hingga dua minggu, yang secara khusus membunuh banyak ayam dalam proses itu. Setelah mereka dipaksa berganti bulu satu atau dua kali, mereka akan segera dijagal untuk sup ayam, ayam-ayam itu secara kasar direnggut dari kandangnya, dilempar ke dalam truk-truk, dan kemudian dibawa pergi untuk membuat ruang bagi ayam-ayam budak gelombang berikutnya.

Kita mungkin bisa terlahir di neraka yang tidak ada yang lebih buruk lagi di alam semesta ini daripada menjadi ayam betina dalam industri peternakan telur. Di dalam yang disebut industri telur free-range (bergerak bebas), semua ayam betina umumnya dipotong paruhnya, sama seperti dalam pabrik-pabrik telur yang standar, dan semua ayam jantan dibunuh secara brutal saat dilahirkan. Ayam-ayam masih diperlakukan sebagai objek, didorong untuk berproduksi, dan dibunuh secara kejam ketika mereka tidak lagi menguntungkan. Istilah free-range secara mengejutkan memiliki sedikit nilai legal, sehingga tak ada peraturan yang mengatur besar ruangan yang harus dimiliki seekor ayam betina free-range, jadi meskipun kurungan mereka mungkin kurang ekstrem dibandingkan dengan kandang ayam baterai, namun mereka umumnya dijejalkan bersama-sama di dalam kandang berbau yang sangat besar di mana mereka tak pernah bisa melihat cahaya matahari.33 

Jaringan Pertalian

Sapi dan ayam betina dikuasai dengan kejam untuk menyediakan produk-produk yang sangat vital dan sehat untuk keturunan, komunitas, dan spesies mereka, tetapi menyebabkan penyakit, pencemaran, kelaparan, dan penderitaan jika dikonsumsi oleh manusia. Ketika kita mencuri susu dan telur mereka dan membunuh anak-anak mereka, kita membangun kondisi-kondisi untuk hal-hal yang sama yang akan terjadi pada diri kita. Nasib dari induk sapi dan ibu manusia, bayi sapi dan bayi manusia, akhirnya berjalan paralel. Jika kita membiarkan perusahaan mencuri, memakai, dan membunuh bayi sapi dan bayi ayam, itu akan terjadi pada bayi-bayi kita juga. Kenyataannya, itu sudah terjadi.

Pengaruh-pengaruh negatif dari mengonsumsi produk susu dan telur pada tingkat kesehatan individu berhubungan dengan akibat-akibat negatif terhadap ekosistem dunia dan kebudayaan kita. Segalanya bertalian; konsumsi produk susu dan telur berhubungan dengan: alergi, gangguan kulit, kanker, penyakit jantung, stroke, diabetes, dan daftar panjang penyakit lainnya; segudang produk dan prosedur yang dipasarkan oleh industri medis untuk melawan penyakit-penyakit yang mestinya tidak ada ini (semua ini merupakan sumber utama polusi dan hilangnya pemberdayaan); banyaknya keuntungan yang dikumpulkan oleh industri-industri agrobisnis, bahan kimia, farmasi, dan perbankan dari dominasi kita atas hewan-hewan betina; ketidaksetaraan dan ketidakadilan sosial yang dihasilkannya, menimbulkan elitisme dan konflik lebih jauh; pengaruh-pengaruh terhadap lingkungan hidup dan kesehatan manusia dari limbah peternakan, yang mencemarkan sungai, membunuh ikan, berkontribusi pada kanker manusia, dan menyebabkan kumpulan ganggang berbahaya (red tide) yang menimbulkan penyakit pernapasan; nyawa yang gugur dalam perang yang disebabkan oleh naiknya permintaan akan minyak dan karena rasa putus asa, sementara hak penggunaan air jatuh pada industri agrobisnis susu dan ayam yang kaya yang didanai oleh bank-bank AS di negara-negara Dunia Ketiga sementara orang-orang miskin menghadapi kehausan kronis dan air yang tercemar. . . .

Jaringan pertalian yang mengelilingi konsumsi kita akan produk susu dan telur adalah luas dan termasuk seluruh makhluk. Ketika kita mengonsumsi susu dan telur hewan-hewan lain, kita mengonsumsi rasa ketakutan dan keputusasaan mereka, mengonsumsi kekerasan di mana mentalitas patriarkat dipaksakan atas diri mereka secara sistematis. Jika kita melihat secara mendalam, kita akan melihat bahwa mentalitas ini membiakkan kekerasan dalam hidup kita juga. Pantaskah kita, yang merindukan kemurahan hati, kebebasan, dan sukacita, dan masyarakat yang lebih tercerahkan, yang mendukung perdamaian dan penghormatan terhadap bumi kita dan kekudusan seluruh kehidupan, menjadi agen kekerasan seperti itu? Jika kita membuat pertalian antara keinginan mengonsumsi produk susu dan telur yang dipengaruhi oleh kebudayaan kita dan kekejaman terhadap induk-induk yang rentan yang pasti akan diakibatkannya, maka kecerdasan dan welas asih kita jadi terpelihara, dan kita secara alami mulai mengambil pilihan-pilihan baru. Ada banyak pengganti bagi produk susu dan telur, dan produk itu akan semakin banyak tersedia seiring semakin banyak dari kita yang membuat hubungan dengan ini. 

Sophia yang Hidup Kembali

Untuk menguasai makhluk lain kita perlu memutus hubungan dengan mereka, dan dengan aspek diri kita juga. Dengan mengeksploitasi sapi perah dan ayam betina, kita menguasai mereka bukan hanya untuk daging, kulit, tulang, dan bagian-bagian tubuh lainnya yang bisa kita gunakan atau jual; tapi kita secara khusus mengeksploitasi rahim dan kelenjar susu mereka. Penodaan secara tidak manusiawi terhadap fungsi-fungsi paling intim dan fungsi memberi kehidupan dalam asas feminin, yang melahirkan kehidupan baru dan dengan lemah lembut memelihara kehidupan, itu juga melukai diri kita, mungkin sama dalamnya seperti luka sapi-sapi itu, meskipun luka-luka kita boleh jadi kurang jelas. Banyak guru rohani telah menunjukkan bahwa jika kita melukai makhluk lain, kita melukai diri kita bahkan lebih parah lagi. Kekejaman pembunuh dan pengeksploitasi adalah hukuman yang mengerikan bagi dirinya sendiri karena kehilangan sensitivitas terhadap keindahan dan kekudusan kehidupan. Kehilangan itu bisa jadi berjalan tanpa dikenali, tetapi kehidupan itu sendiri, berlapis baja, kekerasan, dan persaingan, dijalani sebagai pergulatan dari keterpisahan dan ketakutan yang mendasari, dan pertaliannya dengan orang lain jadi teracuni.

Dengan memperbudak dan mengeksploitasi induk-induk dan anak-anak sapi secara kejam dalam industri susu, kita menyerang dan melukai kekudusan sifat feminin dalam diri kita sendiri serta dalam alam. Ini adalah suatu penyerangan terhadap sifat dasar kita, terhadap indra kita untuk mengasuh kehidupan dan melindungi yang rentan. Ini betul-betul benih-benih mengerikan yang ditabur, karena asas feminin dalam diri kita semua adalah dasar dari cinta kasih, daya menerima, kepedulian, dan dorongan untuk memelihara dan melindungi.

Dengan menyerang asas feminin diri kita sendiri, sebagai suatu kebudayaan kita menjadi bertambah keras dan lebih terpisah, bersaing, agresif, dan egois. Ironisnya, kita sendiri menjadi komoditas, dikendalikan dan diperbudak oleh suatu sistem buatan kita sendiri, namun kita tidak menyadarinya karena kita telah diajarkan untuk memutus hubungan. Kita belajar menutupi telinga kita untuk menghindari tangisan sayu induk-induk sapi di peternakan susu. Kita menghindari tangisan-tangisan ibu manusia yang bayi-bayinya diambil dari mereka—beribu-ribu setiap hari—oleh kelaparan yang dapat dengan mudah dicegah. Kita menghindari tangisan-tangisan ibu yang bayinya dibunuh bom-bom dan peluru-peluru yang ditembakkan anak-anak lelaki yang menggunakan mesin pembunuh militer. Siapa yang akan mendengar atau memperhatikan tangisan kita jika kita tidak memperhatikan tangisan-tangisan dari ibu-ibu ini?

Membebaskan dan menghormati asas feminin mungkin merupakan tugas paling mendesak dalam evolusi kebudayaan kita menuju perdamaian, keberlanjutan, dan kematangan rohani. Asas feminin, secara lintas budaya, berkaitan secara fundamental dengan pemeliharaan, kemampuan menerima, menjalin hubungan, intuisi, dan melahirkan kehidupan baru. Dalam budaya menggembala, kualitas-kualitas ini tidak dihormati karena pekerjaan penggembalaan hewan memerlukan orang yang keras dan kejam, dan menekankan keterpisahan mereka dari dan keunggulan mereka terhadap hewan, alam, serta proses melahirkan kehidupan dalam sifat feminin. Ini telah mendorong ke arah mentalitas patriarkat yang berkaitan secara fundamental dengan dominasi, pengendalian, pemisahan, analisis rasional, komodifikasi, perang, dan pembunuhan. Penjelasan dasarnya di dalam urusan-urusan manusia mengikuti orientasi penggembalaan fundamentalnya terhadap hewan, itu yang kemungkinan benar. Namun asas feminin masih hidup, dirindukan, dan dicintai, karena kita mengetahui pada tingkat paling dalam, ini adalah aspek vital dari sifat-sifat dasar kita.

Penghormatan terhadap kekudusan sifat feminin balik kembali ke banyak milenium, lebih tua dari kebangkitan budaya menggembala, dan kita masih mengingatnya meskipun dewi kuno secara nyata telah digantikan oleh dewa laki-laki yang menentukan yang kini dikenal oleh agama dan ilmu pengetahuan Barat konvensional, Allah/ Jehovah dan Nalar. Istilah Yunani untuk orang ketiga dari Tritunggal, Roh Kudus, Hagia Sophia atau Kebijaksanaan Suci, adalah feminin, meskipun ini telah hilang ketika belakangan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai Spiritus Sanctus yang maskulin, yang membuat keseluruhan tiga aspek dari tritunggal Kristen menjadi laki-laki sehingga merusak perempuan, hewan, alam, dan kedalaman budaya rohani kita.

Hilangnya Sophia—Kebijaksanaan Suci—tidak terhindarkan karena dominasi dan kekerasan laki-laki diperlukan dengan mengkomodifikasi hewan yang terus menyebar dan meningkat. Tetapi Sophia, meskipun tertindas, tak akan pernah mati, dan terus hidup, disamarkan sebagai Maria, sebagai Beatrice, dan sebagai Paraclete, istilah lain untuk Roh Kudus, bahasa Yunani untuk “Penghibur”. Satu bentuk yang diambil adalah contoh yang sempurna dan tabah dari Ibunda Dewi, yang melambangkan proses bersifat feminin yang baik hati yang bertindak sebagai mediator antara alam yang tampak dan alam yang tak tampak. Philo-sophia, secara harfiah “cinta kebijaksanaan”, pada mulanya adalah suatu pencarian akan Sophia sebagai kebijaksanaan intuitif yang akan membebaskan dan signifikan secara spiritual. Sementara asas dan intuisi feminin semakin diremehkan, akan tetapi, filosofi Barat banyak kehilangan kedalaman potensialnya dan pada akhirnya menjadi antek yang dangkal bagi ilmu pengetahuan.

Simbol Sophia adalah cangkir, cawan, atau piala misa, yang berbeda dengan simbol supremasi laki-laki secara tradisional—pedang, tombak, mata pisau, atau halilintar— adalah tanpa kekerasan dan tanpa ancaman. Ia menopang, memelihara, mengisi, mencampurkan, menghubungkan, dan melahirkan. Panci besar dan mangkuk mewakili daya penerimaan sifat feminin yang penting bagi kebijaksanaan intuisi dan kematangan spiritual. Cangkir Sophia akhirnya menjadi gambar utama salah satu kisah paling fundamental, yaitu Holy Grail (Cawan Suci), di mana kesatria yang memegang pedang mencari cawan yang hilang tanpa hasil. Pada tingkat mendalam, kita mengenali bahwa apa yang telah hilang adalah pendekatan feminin kepada kebijaksanaan dan bahwa pendekatan maskulin yang tidak seimbang dari meremehkan unsur (reduksionisme) dengan tak terkendali mendatangkan perang, penyakit, dan kerusakan batin sampai derajat di mana ia menindas asas feminin dan menolak bersekutu dengan kebijaksanaan yang menghubungkan, memelihara, dan memberi bentuk bagi kehidupan.

Di dalam dongeng, kisah peri, puisi, drama, seni, dan ungkapan budaya yang mendalam lainnya, kita bisa melihat kehilangan itu diratapi di mana-mana, dari Odysseus, Orestes, Antigone, dan Ramayana melalui Faust, Galahad, Lear, dan Parsifal hingga epos modern seperti Star Wars dan Lord of the Rings. Jati diri atau sifat Kristus yang selalu ada di dalam jiwa yang bercahaya ditindas atau hilang dan digantikan dengan diri yang palsu, sesosok orang atau topeng yang merasa tidak aman, terbagi-bagi, angkuh, dan yakin akan keterpisahannya dan perlu menguasai dan mengendalikan.

Dalam kisah peri, cara hal ini diungkapkan melalui kisah-kisah dengan pola dasar yang melibatkan seorang penguasa tidak adil yang merebut takhta dan mendorong negara dan rakyatnya ke dalam perang, kemiskinan, dan kejatuhan. Kita kadang-kadang melihat pola dasar legenda ini secara mencolok menjadi kenyataan pada panggung politik dunia, dengan pemilu palsu dan curang dan akibat-akibat administrasi yang mendatangkan malapetaka yang mendorong mentalitas penggembalaan yang menindas dan kasar dengan cara mempropagandakan perang dan kepentingan kaum elite berhak istimewa atas pengorbanan orang-orang, hewan, ekosistem, dan generasi masa depan yang kurang beruntung.

Pada tingkat simbolik yang lebih mendalam, topeng dan perampas kuasa itu tidak hanya mewakili ego menipu dan berkomplot, tetapi juga kebudayaan menggembala yang asli, yang telah menyebar dan menaklukkan kebudayaan yang kurang agresif dan masih memaksakan mentalitas dominasinya dan perilaku intinya dalam mengkomodifikasi dan mengonsumsi hewan. Perampas kuasa berlanjut sampai hari ini, menyerang alam, perempuan, hewan, dan pihak yang rentan sementara ia berusaha mengonsolidasi pengendalian di beberapa tangan kaum elite. Ia mengambil kekuatan dari santapan publik sehari-hari yang mengandung kekerasan tersembunyi.

Mengonsumsi dan membunuh telah menjadi aktivitas-aktivitas yang memberi definisi, diasup oleh hubungan yang terputus dan rasa bersalah yang ditekan yang menyertai penindasan asas feminin kita. Makhluk yang merupakan subjek dari hidup mereka dipaksa untuk berperan sebagai objek semata-mata, dan kedua-duanya orang dan hewan berakhir menjadi benda-benda. Cara pemburu, nelayan, dan gembala memandang hewan-hewan, cara perusahaan pengembang memandang alam, dan cara laki-laki umumnya diajarkan untuk melihat perempuan, dan bagaimana perempuan umumnya diajarkan untuk dilihat oleh laki-laki, semuanya adalah bagian dari proses ini.

Penderitaan yang sangat berat tidak terelakkan di dalam semua hal ini, mencemarkan hubungan dan mengikis kepekaan spiritual yang dapat melihat melampaui materialistis, dualisme aku-ia, ke subjek yang kudus yang selalu ada di dalam makhluk hidup. Sebagai individu dan sebagai suatu kebudayaan, kemampuan kita untuk menyembuhkan, mengubah, dan berevolusi melampaui mentalitas lama yang kotor ini terikat lebih banyak pada pilihan makanan kita daripada apa pun yang lainnya. Meditasi untuk perdamaian dunia, berdoa untuk dunia yang lebih baik, dan bekerja untuk keadilan sosial dan perlindungan lingkungan sambil masih terus membeli daging, susu, dan telur dari hewan yang disiksa secara mengerikan menyingkapkan putusnya hubungan yang begitu fundamental sehingga hal itu menjadikan usaha kita menggelikan, munafik, dan ditakdirkan untuk mengalami kegagalan tertentu.

Kita sedang mendengarkan panggilan dari kebijaksanaan batin kita untuk membangunkan kembali rasa hormat bagi asas feminin. Bisakah kita berhasil menjawab panggilan ini sementara masih memenjara, memerkosa, memperlakukan dengan kejam, dan membunuh berjuta-juta induk hewan hanya untuk kesenangan kita, meneruskan sikap tunduk kita terhadap tekanan sosial dan indoktrinasi? Sifat feminin dalam batin adalah intuisi kita, kepekaan kita, dan kemampuan kita untuk merasakan saling keterkaitan yang mendalam antara peristiwa dan makhluk, dan itu sangat penting bagi perdamaian, kebijaksanaan, kegembiraan, kecerdasan, kreativitas, dan kebangkitan rohani.

Dengan setiap anak sapi yang dicuri dari induknya dan dibunuh, dengan setiap galon susu yang dicuri dari induk-induk yang terpisah dan diperbudak, dengan setiap tusukan dari perkosaan dengan senjata sperma, dengan setiap telur yang dicuri dari induk ayam yang tak berdaya, bingung, dan dengan setiap anak ayam yang dibunuh atau dikurung seumur hidupnya di dalam kandang mengerikan mirip neraka, kita membunuh sifat feminin yang kudus dalam diri kita. Dengan memesan dan mengonsumsi produk industri penggembalaan yang menguasai sifat feminin dengan tangan besi, kita memadamkan kesempatan kita untuk tumbuh dewasa menuju tingkat pemahaman, sensitivitas, dan rasa welas asih yang lebih tinggi. Kita tetap saja ironis dalam pencarian kita.

Kesejahteraan kita akhirnya bergantung pada kesejahteraan makhluk lain. Dengan membebaskan dan mendukung makhluk lain, kita dibebaskan dan didukung. Kita tak pernah bisa memutuskan hubungan kita dengan seluruh makhluk, tapi kita bisa mengabaikan dan melanggarnya, menanam benih tragedi dan penderitaan. Menghormati tempat alami kita di dalam jaringan kehidupan dengan memakan makanan yang dimaksudkan untuk kita akan menanam benih kelimpahan, cinta, dan kebebasan, apa pun agama kita adanya. Doa kita untuk perdamaian akan berbuah jika kita menjalankan doa itu demi perdamaian, dan yang paling penting, jika kita menawarkan perdamaian kepada mereka yang ada di dalam kekuasaan kita dan yang juga merindukan perdamaian dan kebebasan untuk menjalankan kehidupan mereka sendiri dan memenuhi tujuan mereka.

Mencapai perdamaian di antara umat manusia, dari rumah tangga sampai medan pertempuran internasional, bergantung pada perlakuan terhadap sesama dengan rasa hormat dan kebaikan hati. Ini mungkin terjadi jika kita pertama-tama memperbesar rasa hormat dan kebaikan itu kepada mereka yang ada di dalam kekuasaan kita dan yang tak bisa membalas melawan kita. Jika kita tulus dalam pencarian kita untuk perdamaian, kebebasan, dan martabat manusia, kita tak punya pilihan kecuali menawarkan ini kepada tetangga-tetangga kita, hewan-hewan di bumi ini. Melatih kesadaran, kita bisa melampaui pandangan yang dipaksakan bahwa hewan-hewan tidak lebih dari sekadar objek makanan. Dengan ini, kita akan melihat konsumerisme, pornografi, dan terputusnya hubungan yang dengan tak terelakkan mendorong ke arah perbudakan dan perusakan diri, menjadi memudar. Dengan mentalitas dominasi dan eksklusivisme ini memudar, kita akan mampu mengakhiri pembagian jenis kelamin, ras, dan kelas.

 

Referensi

1.     Karen Davis, Prisoned Chickens, Poisoned Eggs: An Inside Look at the Modern Poultry Industry (Summertown, TN: Book Publishing, 1996), p. 50.

2.     Mary Baker Eddy, Science and Health with Key to the Scriptures (Boston: The First Church of Christ, Scientist, 1903), p. 449.

3.     Thomas Lynn Rodgers, forty-year dairy farmer, in a recorded and transcribed interview in August 1997 in Salt Lake City.

4.     Jim Mason and Peter Singer, Animal Factories (New York: Harmony Books, 1990), p. 92.

5.     See www.organicconsumers.org/monlink.html.

6.     Rodgers interview.

7.     Mason and Singer, Animal Factories, p. 129.

8.     Rodgers interview.

9.     Ibid.

10.   Frank Oski, Don’t Drink Your Milk: Frightening Medical Facts About the World’s Most Overrated Nutrient (Brushtown, NY: Teach Services, 1983), pp. 15–45.

11.   Practical Techniques for Dairy Farmers, 3rd Edition, University of Minnesota, 2000. See http://www.ansci.umn.edu/practical-techniques/book.htm.

12.   Ibid.

13.   Shirley Roenfeldt, “Stop BLV,” Dairy Herd Management, December 1998.

14.   Journal of Infectious Diseases 161 (1990): 467–472. Cited in Michael Greger, “Latest Meat and Dairy Infection Risks: Have Millions of Americans Been Infected with a Cow Cancer Virus?” Dr. Michael Greger’s Monthly Newsletter, January 2004.

15.   Rodgers, op. cit.

16.   Mason and Singer, Animal Factories, p. 14.

17.   Jeramia Trotter, “Hogwashed,” Waterkeeper Magazine, Summer 2004, p. 23. Trotter adds in the article, “That’s twenty-five million pounds of antibiotics for uses other than fighting illness, compared to the roughly three million pounds humans consume.”

18    J. M. Tanner, “Trend Towards Earlier Menarche in London, Oslo, Copenhagen, the Netherlands, and Hungary,” Nature, 243 (1973), pp. 75–76. Cited in Kerrie Saunders, The Vegan Diet as Chronic Disease Prevention (New York: Lantern Books, 2003), p. 137. Saunders writes, “The World Health Organization has been gathering statistics on the age of puberty worldwide for many years. In 1840, the average age of puberty in female humans was 17 years of age. Today, it is 12.5 years. The age of puberty is also dropping in England, Norway, Denmark, and Finland—other countries that eat the ‘western’ diet.”

19.   Kagawa, Y., “Impact of Westernization on the Nutrition of Japanese: Changes in Physique, Cancer, Longevity, and Centenarians,” Preventive Medicine, 7 (1978), pp. 205–217. Cited in Saunders, The Vegan Diet as Chronic Disease Prevention, p. 137.

20.   Saunders, The Vegan Diet as Chronic Disease Prevention, p.137.

21.   Vicki Griffin, Diane Griffin, and Virgil Hulse, Moooove Over Milk, foreword by Attwood and Campbell (Hot Springs, NC: Let’s Eat!, 1997), p. vii.

22.   See www.lifesave.org for more information on the low numbers of pathogens in grains, vegetables, fruits, legumes, and nuts.

23.   Oski, Don’t Drink Your Milk, p. 54. The U.S. Public Health Service allows 20,000 bacteria per milliliter of pasteurized milk, which is 4,800,000 bacteria per cup.

24.   “Milk: Why is the Quality so Low?” Consumer Reports, January 1974, p. 70.

25.   Oski, Don’t Drink Your Milk, pp. 64–65.

26.   Ibid., pp. 17–59.

27.   T. Colin Campbell, “New York Times: Reality Check Needed,”

www.vegsource.com/articles/campbell_nyt_brody2.htm, November 28, 2000.

28.   Cited in Griffin, Griffin, and Hulse, Moooove Over Milk, p. 102.

29.   Davis, Prisoned Chickens, Poisoned Eggs, p. 54.

30.   Ibid., pp. 56–64.

31.   USDA NASS, Agricultural Statistics 2001.

32.   Page Smith and Charles Daniel, The Chicken Book: Being an Inquiry into the Rise and Fall, Use and Abuse, Triumph and Tragedy of Gallus Domesticus (Boston: Little, Brown, 1975), p. 180, cited in Davis, Prisoned Chickens, Poisoned Eggs, p. 39.

33.   C. David Coats, Old McDonald’s Factory Farm: The Myth of the Traditional Farm and the Shocking Truth about Animal Suffering in Today’s Agribusiness (New York: Continuum, 1989), pp. 93–94, cited in Davis, Prisoned Chickens, Poisoned Eggs, pp. 39–40.

34.   For more information on “free-range” practices, see www.upc-online.org/freerange.html.

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Pola Makan Perdamaian Dunia