Beranda > Akar Budaya Kita

 

BAB DUA

AKAR BUDAYA KITA 

“ ‘Pengorbanan kita dalam banyak hal—apakah artinya itu bagi-Ku?’ kata Tuhan. ‘Aku memiliki lebih dari cukup persembahan bakaran dari biri-biri jantan dan minyak dari hewan-hewan yang digemukkan; Aku tidak suka kepada darah kerbau dan domba dan kambing. . . . Tanganmu penuh dengan darah; cucilah dan bersihkanlah dirimu sendiri. Enyahkanlah tindakan jahatmu itu dari hadapkanku.’ ”

—Yesaya I:11, 15-16

 

“Kekejaman terhadap hewan sama seperti manusia yang tidak mengasihi Tuhan. . . ada sesuatu yang sangat mengerikan, sangat jahat, dalam menyiksa mereka yang tidak pernah melukai kita, dan yang tidak dapat membela diriya sendiri, yang berada di bawah kekuasaan kita.”

Kardinal John Henry Newman

 

Budaya Penggembala

Kebanyakan dari kita tidak menyangka kalau budaya kita adalah budaya penggembala. Melihat ke sekeliling, terutama kita melihat mobil, jalan, pinggiran kota, kota, dan pabrik, dan sementara ada ladang biji-bijian yang sangat luas, dan tempat merumput di pedesaan, kita mungkin tidak menyadari bahwa hampir semua biji-bijian itu ditanam sebagai pakan ternak, dan bahwa sebagian besar dari milyaran unggas, mamalia, dan ikan yang kita konsumsi itu dikurung di tempat yang tidak terlihat di dalam kamp konsentrasi yang disebut pabrik peternakan. Meskipun tidak sejelas bagi kita saat ini seperti nenek moyang kita beberapa ribu tahun lalu, budaya kita, seperti budaya mereka, intinya adalah budaya penggembala, yang diorganisasikan di sekitar memiliki dan mengomoditaskan hewan dan memakannya.

Kira-kira sepuluh ribu tahun lalu suku-suku pengembara di negara perbukitan Kurdi di timur laut Irak mulai menjinakkan domba dan memulai suatu revolusi dengan konsekuensi yang sangat besar.1 Para antropolog percaya bahwa itu adalah lanjutan dari praktik perburuan dari suku-suku ini, yang mulai mengikuti kawanan domba liar tertentu, memisah-misahkan mereka dan semakin mengendalikan mobilitas, makanan dan kehidupan reproduksi mereka. Mereka pada akhirnya belajar mengebiri dan membunuh domba jantan supaya kawanan itu sebagian besar terdiri dari domba betina dengan beberapa pejantan; dari hal ini mereka belajar penangkaran terpilih untuk menciptakan hewan-hewan dengan karakter yang lebih dikehendaki. Kambing rupanya dijinakkan segera setelah domba, diikuti dengan sapi dua ribu tahun berikutnya di sebelah barat dan utara, dan setelah itu diikuti oleh kuda dan unta dua hingga empat ribu tahun setelah itu.2 Konsep kepemilikan harta milik yang dihargai tinggi dan garis keturunan laki-laki dan kemurnian garis keturunan lambat laun muncul, yang ditemukan ada banyak buktinya ketika periode sejarah mulai sekitar empat ribu tahun lalu.

Budaya Barat kita bisa dianggap memiliki dua akar utama: Yunani kuno dan Levi (lembah timur Mediterania dan Timur Tengah) kuno. Membaca tulisan-tulisan paling awal yang masih ada dari budaya ini pada kira-kira tiga ribu tahun lalu, seperti Iliad and Odyssey karya Homer, dan catatan Perjanjian Lama mengenai raja-raja kuno dan perang mereka, kita menemukan bahwa budaya ini berorientasi di sekitar makan daging, menggembalakan, perbudakan, penaklukan penuh kekerasan, keunggulan pria, dan mempersembahkan pengorbanan hewan kepada dewa-dewa mereka yang sebagian besar adalah dewa laki-laki.

Bagi budaya penggembala tua itu, hewan yang dikurung tidak hanya makanan; mereka adalah juga kekayaan, keamanan, dan kekuasaan. Uang pertama dan bentuk modal adalah domba, kambing, dan sapi, karena hanya itulah harta milik yang bisa dikonsumsi dengan nilai yang bisa diukur.3 Kenyataannya, kata capital (modal) berasal dari capita, bahasa Latin untuk kepala, seperti kepala sapi dan domba. Para kapitalis pertama adalah penggembala yang saling bertengkar memperebutkan tanah dan modal dan mendirikan kerajaan-kerajaan yang pertama, lengkap dengan perbudakan, peperangan rutin, dan kekuasaan yang dipusatkan di tangan para elit kaya pemilik ternak. Kata pecuniary berasal dari kata Latin pecus, yang artinya ternak, dan kata kuno Romawi koin, denarius, disebut begitu karena berharga sepuluh keledai.4 Jadi hewan ternak dalam budaya penggembala kuno menentukan nilai emas dan perak—hewan makanan adalah standar kekayaan dan kekuasaan. Fakta ini memberi kita wawasan ke dalam kekuatan politik industri ternak dan susu yang berlanjut hingga hari ini.

Dengan mengomoditaskan dan memperbudak hewan-hewan besar yang kuat, leluhur budaya Barat membuat mitos mendasar dan pandangan dunia yang masih hidup hari ini di hati budaya kita. The Chalice dan the Blade karya Riane Eisler dan An Unnatural Order karya Jim Mason meringkas dan mengupas karya para ahli sejarah dan antropolog, menyediakan beberapa sudut pandang menarik mengenai pergeseran nilai dasar yang terjadi ketika manusia mulai menguasai hewan-hewan besar untuk makanan, dan bagaimana perubahan ini mempengaruhi kita di masa kini.

Penting untuk dicatat di sini bahwa kajian dan penafsiran tentang sejarah ini adalah sangat subyektif. Kita bisa memperhatikan di dalam kehidupan individual kita sendiri bahwa pengalaman dan pemahaman kita mengenai masa lalu kita berubah sejalan dengan perubahan kita. Ini juga sungguh benar untuk masa lalu kolektif yang luas dan kompleks yang dihasilkan oleh jutaan orang. Ketika kita bergerak untuk berusaha memahami masa prasejarah—budaya yang ada sebelum catatan tertulis—ini bahkan semakin subyektif. Seperti yang ditulis sejarawan Cynthia Eller, “Prasejarah masih merupakan kanvas besar dan sebagian besar kosong. Maka skenario yang sangat berbeda bisa dilukiskan ke atasnya, tergantung dengan selera masing-masing pemikir.”5

Riane Eisler menarik kesimpulan dari karya banyak antropolog dan penulis, khususnya Marija Gimbutas, Jacquetta Hawkes, dan Merlin Stone, yang berpendapat bahwa pada dasarnya telah ada dua jenis masyarakat, yang ia rujuk sebagai kemitraan dan pendominasi. Di dalam masyarakat kemitraan, pria dan wanita intinya adalah sederajat dan bekerja sama saling membantu, dan Eisler mencoba memperagakan bahwa ini adalah hal yang lazim selama bepuluh-buluh ribu tahun kehidupan manusia, sebelum ekspansi  budaya penguasa patriarkal yang didasarkan atas pengembalaan hewan. Peristiwa yang relatif baru ini, lima hingga tujuh ribu tahun lalu, disebabkan oleh apa yang disebut Gimbutas penyerbuan Kurga oleh penggembala penggemar perang dari Asia tengah menuju Eropa timur dan lembah Mediterania. Membawa budaya yang mana pria memandang wanita sebagai barang bergerak, mereka rupanya datang dalam tiga gelombang selama kira-kira dua ribu tahun, menyerang dengan penuh kekerasan, menghancurkan, dan secara mendasar mengubah masyarakat lama, yang lebih damai.6  Menurut Eisles, Gimbutas, dan yang lain, budaya yang lebih tua ini cenderung menyantap makanan yang dikumpulkan dan ditanam, memuja dewi kesuburan, membentuk komunitas di lembah-lembah subur, menggunakan logam untuk membuat mangkuk alih-alih senjata, dan tidak terlibat dalam perang. Budaya pendominasi yang menyerbu ini menggembalakan hewan dan terutama makan daging hewan dan susu, memuja dewa langit yang kejam seperti Enlil, Zeus, dan Yahweh, bermukim di puncak-puncak pegunungan dan membuat membentenginya, memakai logam untuk membuat senjata, dan terus-menerus bersaing dan berperang. Konflik penuh kekerasan, persaingan, penindasan wanita, dan perselisihan kelas, dan menurut Eisler, tidak mencirikan sifat manusia tetapi adalah produk yang relatif baru dari tekanan sosial dan pengondisian yang dibawa oleh budaya penggembala penyerbu yang nilai-nilai dominasinya telah kita warisi.

Dari mana budaya patriarkal penyerbu ini datang dan apa yang membuat mereka seperti itu? Dalam buku selanjutnya, Sacred Pleasure, Eisler mengutip penelitian oleh ahli geografi James DeMeo, yang menganggap migrasi pelaku ekspansi penyerbu Kurga dan penggembala lain berasal dari perubahan iklim buruk yang “memulai urutan peristiwa yang kompleks—kelaparan, kekacauan sosial, tanah-tanah ditinggalkan, dan migrasi masal—yang pada akhirnya menyebabkan pergeseran mendasar” di dalam evolusi budaya manusia.7 Menggembalakan hewan ternak, Eisler menunjukkan, “cenderung menghasilkan kegersangan”, dan “menghasilkan siklus ganas kehancuran lingkungan  dan bertambahnya persaingan ekonomi untuk lahan-lahan merumput yang semakin langka—sehingga cenderung bersaing dengan kekerasan atas batas-batas wilayah.”8 Ia menambahkan bahwa praktik menggembalakan hewan menghasilkan karakteristik keras secara psikologis dari budaya pendominasi: 

. . . pastoralisme pada dasarnya bersandar kepada perbudakan makhluk hidup, makhluk-makhluk yang akan dimanfaatkan karena produk yang mereka hasilkan . . . dan yang pada akhirnya akan dibunuh . . . Ini juga membantu menerangkan benteng psikologis (atau semakin matinya emosi “lembut”) yang DeMeo percaya menjadi karakter asal dari masyarakat patriarkal atau pendominasi . . . Lebih jauh, begitu seseorang terbiasa hidup dengan memperbudak hewan (untuk daging, keju, susu, kulit, dan sebagainya) sebagai satu-satunya sumber untuk bertahan hidup, seseorang bisa dengan lebih mudah menjadi terbiasa untuk memandang perbudakan manusia lain bisa diterima.9 

Apakah kenyataannya ada budaya lebih awal yang lebih damai, berorientasi-kemitraan, dan egaliter, seperti yang dinyatakan oleh Eisler dan banyak lainnya, atau apakah sengketa penuh kekerasan, pria, dan, kompetisi selalu mendominasi struktur budaya sosioekonomi manusia, masih menjadi hal yang hangat diperdebatkan di kalangan cendekiawan. Namun, apa yang tampaknya tak terbantahkan adalah dampaknya terhadap kesadaran manusia dari mengomoditaskan dan memperbudak hewan-hewan besar untuk makanan. Sehubungan dengan ini Jim Mason melanjutkan karya Eisler, mengembangkan lebih banyak kaitan secara sejarah dan psikologis antara dominasi hewan dan dominasi orang lain. Ia menunjukkan bahwa revolusi pertanian menyebabkan perubahan besar terhadap budaya pengumpul kuno, mengubah hubungan mereka dengan alam dari kesatuan menjadi keterpisahan dan berusaha mengendalikan alam. Dari keterpisahan ini, dua jenis pertanian muncul—tumbuhan dan hewan—dan perbedaan keduanya sangat berarti. Menanam tumbuhan dan berkebun adalah pekerjaan yang lebih feminin; tumbuhan ditanam dan dirawat, dan saat kita bekerja dengan siklus alam, kita menjadi bagian dari proses yang memperbaiki dan memperkuat kehidupan. Itu adalah karya yang mendukung kehidupan dan rendah hati (dari humus, bumi) yang menopang tempat kita di dalam jaringan kehidupan. Di lain pihak, peternakan hewan besar atau husbandry selalu adalah pekerjaan pria dan membutuhkan daya penuh kekerasan sejak awal, untuk mengurung hewan-hewan yang kuat, mengendalikan, menjaga, mengebiri mereka, dan pada akhirnya membunuh mereka.

Mason juga menekankan pentingnya pengaruh dari hewan yang tampaknya ada dalam perkembangan dan kesehatan psikologis manusia, serta karakteristik penuh kekerasan yang ditemukan para peneliti saat mengamati budaya di sekeliling dunia yang menggembalakan hewan-hewan besar. Mengutip antropolog Paul Shepard dan Anthony Leeds, ia mencatat bahwa Shepard: 

. . . menandai aliran utama dari budaya penggembala di seluruh dunia yaitu: ‘Permusuhan agresif kepada orang luar, keluarga bersenjata, perseteruan dan penjarahan di dalam hirarki organisasi yang berpusat pada pria, menggantikan perang dengan perburuan, seni pengorbanan yang rumit, kebanggaan diri yang gila dan kecurigaan.’10 

Mason menunjukkan kesamaan dalam hal ini di antara suku-suku gurun di Timur Tengah, pengembala rusa Chukchi dari Siberia timur yang “suka menyombongkan ‘kekuatan, tindakan yang berani, kekerasan dan tingkah laku heroik, menghabiskan energi dan daya tahan berlebihan’,” dan budaya koboi/rodeo Amerika kita.11

Dibangun dari karya Eisler, Mason, dan lainnya, kita bisa melihat bahwa budaya dalam hidup kita saat ini adalah kelanjutan modern dari budaya penggembala yang muncul di Timur Tengah dan lembah Mediterania timur, dan bahwa keyakinan pusat yang menentukan dari budaya ini masih sama: hewan adalah komoditi untuk dimiliki, dipakai, dan dimakan. Perluasannya, alam, tanah, sumber daya, dan orang juga dianggap sebagai komoditi untuk dimiliki, dipakai dan dieksploitasi. Sementara ini tampak masuk akal bagi kita sekarang sebagai penghuni modern budaya kapitalis pengembala dan pengonsumsi hewan, ini adalah pandangan dengan konsekuensi yang sangat besar: pengomoditasan hewan menandai revolusi sejati teakhir di dalam budaya kita, sama sekali menentukan kembali hubungan manusia dengan hewan, alam, Ilahi, dan satu sama lain.

Di dalam budaya penggembala lama, hewan lambat laun diubah dari sesama rekan penghuni dunia yang misterius dan mengagumkan menjadi hanya obyek harta milik untuk dipakai, dijual, diperdagangkan, dikurung, dan dibunuh. Tidak lagi liar dan bebas, mereka diperlakukan dengan semakin tanpa hormat dan penuh kekerasan, dan pada akhirnya menjadi hina dan rendah di mata budaya penggembala yang muncul ini.12 Hewan liar mulai dipandang hanya sebagai potensi ancaman terhadap hewan ternak modal; sama halnya, orang lain juga mulai dianggap sebagai ancaman kepada hewan ternak, atau sebgai potensi sasaran untuk dijarah jika mereka memiliki hewan. Bertempur dengan orang lain untuk memperoleh sapi dan domba mereka adalah strategi utama akuisisi modal; kara Sansekerta Arya kuno untuk perang, gavyaa, secara harafiah berarti “keinginan untuk lebih banyak ternak”13 Tampaknya perang, menggembalakan hewan, penindasan wanita, kapitalisme, dan keinginan untuk modal/hewan ternak yang lebih banyak telah berkaitan sejak lahirnya pengomoditasan hewan besar di masa lampau.

Semakin besar dan kuat hewan-hewan yang digembalakan itu, semakin ganas, kejam, dan penuh kekerasan budaya itu agar berhasil menguasai mereka dan melindungi mereka dari gangguan hewan liar dan manusia.14 Hewan –hewan yang terbesar adalah ternak dan kuda, dan budaya-budaya menggembalakan ternak yang dibangun mereka sendiri di Timur Tengah dan Mediterania bagian timur terlibat dalam peperangan yang kejam yang sulit terbayangkan antara satu sama lain dan melawan orang-orang yang lebih lemah selama ribuan tahun, secara berangsur-angsur dan setengah memaksa menyebarkan budaya mereka dan nilai-nilai penggembalaan ke seluruh Eropa dan sebagian besar Asia. Dari Eropa, budaya ternak yang sama ini pada akhirnya menyebar ke Amerika. Ia terus menyebar sampai sekarang melalui perusahaan-perusahaan yang melampaui batas negara seperti ConAgra, Cargill, Smithfield, dan McDonald seperti melalui proyek-proyek yang disponsori oleh Bank Dunia dan PBB, para penganjur keagamaan, dan amal-amal yang menyebarkan perbudakan hewan seperti Proyek Heifer.

Pada inti kehidupan budaya kuno ini yang menjadi apa yang kita sebut pada saat ini peradaban Barat adalah supremasi yang absolut dari manusia atas hewan, diperkuat melalui makanan sehari-hari. Kesehatan dan martabat bagi manusia mulai diukur dalam hubungan seberapa banyak hewan-hewan ternak yang dimiliki dan seberapa luas tanah yang dikuasai untuk merumput. Contoh teladan bagi para pemuda menjadi seperti kapitalis pertama, kumpulan yang maskulin, dan prajurit: yang kuat, keren, secara emosional renggang dan mampu menahan kekejaman. Para wanita, hewan ternak, dan orang-orang yang tertangkap atau ditaklukkan adalah obyek-obyek properti yang menyumbang pada jumlah keseluruhan modal; peperangan, meskipun menakutkan sampai yang berperang dan populasi yang umum, adalah metode-metode yang kuat yang digunakan oleh kaum ningrat untuk meningkatkan pengumpulan hewan ternaknya/modalnya, tanah, kekuasaan, dan martabat.

Sangat membantu untuk menyadari bahwa kapasitas mental penguasaan penggolongan kebudayaan ke dalam suatu dimana kita dilahirkan tumbuh berkembang melihat dan menekankan perbedaan-perbedaan dan mengabaikan kesamaan-kesamaan, karena memperbudak dan membunuh hewan-hewan inilah yang memaksa kita semua untuk berlatih. Sebagai para penggembala dan para penguasa hewan-hewan, kita harus secara terus menerus berlatih melihat diri kita sendiri seperti terpisah dan berbeda dari mereka, seperti yang unggul dan istimewa. Welas asih alamiah kita sebagai manusia dapat ditekan dengan belajar mengeluarkan yang lainnya dan melihat mereka sebagai yang sangat utama tidak serupa seperti kita. Eksklusifisme ini perlu untuk rasisme, elitisme, dan perang, karena untuk membahayakan dan mendominasi orang lain kita harus memecahkan ikatan dimana hati kita secara alamiah rasakan bersama mereka. Kapasitas mental menguasai adalah tidak bisa diabaikan kapasitas mental pengeluaran.

Hal itu nyata jika kita melihat lebih dekat bahwa banyak sumber anggapan-anggapan dan kegiatan-kegiatan budaya-budaya penggembalaan kuno masih menentukan budaya kita saat ini. Kegiatan tunggal yang paling menentukan budaya-budaya kuno ini adalah, sebagaimana ia saat ini, pesta makan besar secara teratur yang disediakan oleh tubuh yang dikuasai dan mengeluarkan hewan-hewan. Peperangan masih memperkaya kelas elit yang kaya sementara jutaan menanggung beban mereka sendiri, dan kekayaan dunia memberi makan pada hewan-hewan digemukkan dengan biji-bijian dan ikan sementara yang miskin kelaparan. Sistim ekonomi kapitalis kita dan dukungannya pada institusi politik, hukum, dan pendidikan masih mengesahkan memihak perubahan dan eksploitasi terhadap hewan-hewan, alam dan orang-orang, penguasaan kita terhadap yang kurang mampu dan luar negeri; dan suatu ketidak setaraan dan ketidak adilan penyaluran barang-barang berdasarkan memangsa (sering diumpamakan sebagai “kompetisi” dan “perdagangan bebas), penekanan, dan peperangan. Dimana kita telah berkembang secara sosial, kita telah membuat beberapa perolehan yang tidak dapat disangkal dalam mengurangi kelebihan-kelebihan tertentu, dan dalam menyediakan beberapa perlindungan bagi yang lemah dan mudah diserang. Pada keseluruhan, bagaimanapun, kita harus terus bertanya-tanya mengapa kemajuan kita terlalu lambat dan sulit. Jawaban atas ini adalah di piring kita dan meluas dari sana ke lahan pemberian makan, rumah-rumah penjagalan, laboratorium laboratorium penelitian, permainan rodeo, sirkus, jalur balapan, dan kebun binatang, sampai berburu, memancing dan kegiatan menjerat, dan sampai penjara, kampung Yahudi, peperangan, dan komplek industri militer, dan pemerkosaan yang terus menerus dan pengrusakan dunia kehidupan. 

Prinsip Pythagoras

“Selama manusia membunuh hewan secara besar-besaran, mereka akan saling membunuh satu sama lain. Memang, dia yang menabur biji pembunuhan dan kesakitan tidak akan memperoleh kesenangan dan cinta kasih.”

—Pythagoras 

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu di Yunani kuno, kebutuhan akan revolusi positif berdasarkan pada belas kasih terhadap hewan dipahami dengan jelas dan dilafalkan oleh Pythagoras. Dikenal saat ini sebagai seorang jenius yang penemuannya masih penting kritis, Pythagoras tetap suatu teka-teki, yang beberapa dari pengetahuannya diterima dengan sangat dinginkan dan digunakan dan yang lainnya diabaikan. Dalil-dalilnya meletakkan dasar-dasar yang penting dalam matematika dan geometri dan membuat kemajuan yang memungkinkan berikutnya dalam arsitektur, disain, konstruksi, perpetaan, navigasi, dan astronomi. Pythagoras dan para pelajarnya juga  menemukan dan menerapkanprinsip-prinsip keselarasan yang mendasari selingan nada getaran, sehingga Pythagoras dihargai dengan menetapkan tujuh skala nada dimana ditemukan oleh musik Barat, dengan hubungan getarannya yang tepat secara matematika.

Dalam semua daerah ini budaya kita telah dengan rajin menerima dan mendapat keuntungan dari kejeniusan Pythagoras, tetapi prinsip yang mendasari bahwa dia mengajari dan hidup oleh – belas kasih untuk semua kehidupan – lebih sulit bagi kita untuk menerima. Ajarannya yang tegas bahwa kebahagiaan kita bergantung pada memperlakukan hewan-hewan dengan kebaikan menginspirasi Plato, Plutarch, Plotinus, Gnostic, dan para pendeta gereja Kristiani di masa awal, dan sampai 1850, ketika kata ‘vegetarian’ diciptakan, siapapun yang menahan diri dari memakan hewan-hewan disebut ’Pythagorean.” Prinsip yang dia nyatakan, bahwa tidak pernah dapat memperoleh kegembiraan dan cinta kasih sementara menaburkan benih-benih kesakitan dan kematian dalam perlakuan kita terhadap hewan-hewan, menghantui kita saat ini.

Dua ribu tahun setelah Pythagoras hadir Leonardo da Vinci yang agung, jenius lainnya yang karya seni dan penemuan-penemuannya membantu para pemandu dalam zaman Renaisans. Kebudayaan kita kembali mengabaikan kata-katanya yang meramalkan sebelumnya tentang akibat makanan kita yang mengerikan.”Saya dari zaman permulaan menyangkal penggunaan daging, dan waktunya akan datang ketika manusia akan melihat terhadap pembunuhan hewan-hewan seperti mereka sekarang melihat pembunuhan terhadap manusia.”15 Dengan Albert Einstein, yang menulis,”Tiada sesuatupun yang akan menguntungkan kesehatan manusia dan meningkatkan kesempatan kelangsungan kehidupan di Bumi sebanyak evolusi pada pola makan vegetarian,” dan  Mahatma Gandhi, George Bernard Shaw, Emily, Dickinson, Albert Schweitzer, dan yang lainnya, itu telah sama—kita dengan senang menerima hadiah-hadiah mereka kecuali dimana mereka memecahkan tabu budaya penggembalaan dan menantang sapi suci makan makanan hewani. 

Revolusi Vegan

Nilai-nilai inti dari budaya penggembalaan kuno masih mendefinisikan budaya kita, seperti melakukan rituial utamanya, memakan hewan-hewan yang dimodifikasi. Bagian dalam kita mendesak untuk berkembang kepada tingkat pemahaman dan kehiduipan yang lebih dewasa secara spiritual, dan untuk menciptakan aturan-aturan sosial yang mempromosikan lebih adil, damai, bebas, sehat jasmani, sehat rohani, sejahtera, berkelanjutan, dan bahagia, benar-benar memerlukan kita untuk berhenti memandang hewan-hewan sebagai obyek makanan untuk dikonsumsi dan untuk beralih ke cara makan nabati. Ini akan sangat memberkati kita, membebaskan kita dari secara rutin mempraktikkan, mengingkari, dan memproyeksikan kekejaman,kepekaan, kita dapat menuai suatu pemahaman dan akan membantu kita memperkuat persamaan dan cinta kasih kebaikan dan hubungan-hubungan kita dan jga mengembangkan kapasitas kita untuk ketenangan batin. Dengan menabur dan memelihara bibit-bibit yang termasuk dan dan saling berhubungan kita dan kemampuan untuk hidup dalam damai. Ini berarti melakukan banyak pernikahan batin, karena budaya penggembalaan, ke dalam yang kita telah dilahirkandalam kita yaitu bibit-bibit daya saing, percaya diri, kegelisahaan, dan terputius hubungan. Dengan melihat hewan-hewan dan orang seperti Engkau daripada Apa Adanya, dan mengolah kesadaran dan belas kasih, kita dapat memelihara dalam diri kita bibit-bibit kerja sama dan kepedulian. Kita diberkahi dengan memberkahi yang lainnya, dengan menggunakan atau mengeluarkan yang lainnya atau mencari utk mengatur dan mendominasi mereka, kita menjadi terjaring dalam penderitaan dan selanjutnya diperbudak illusi perpisahan, dimana itu adalah orientasi mendasar budaya penggembalaan.

Ketika kita mengolah ingat akan kesadaran akibat-akibat pilihan makanan kita dan dengan teliti mengadopsi cara makan berbasis nabati, menolak untuk berpartisipasi dalam dominasi hewan-hewan dan menghilangkan kesadaran yang diperlukan ini, kita membuat pernyataan yang sangat besar yang keduanya mengalir dari dan memperkuat kemampuan kita untuk membuat hubungan-hubungan. Kita menjadi kekuatan kepekaan, penyembuhan, dan belas kasih. Kita menjadi revolusi kesatuan, menyumbang pada dasar-dasar dunia baru dengan setiap makanan yang kita makan. Seperti kita berbagi ide-ide kita dengan yang lainnya, kita mempromosikan apa yang bisa menjadi paling mengangkat dan revolusi yang menyembuhkan budaya kita yang pernah dialami.

Kenyataannya, ketika kita berbicara tentang berbagai revolusi-revolusi yang menurut dugaan telah mengubah budaya kita, seperti Reolusi Industri, Revolusi secara Ilmiah, dan Revolusi Informasi-Komunikasi, kita kehilangan gambaran yang besar. Tidak satupun dari ini sebenarnya merupakan revolusi-revolusi sama sekali, bagi mereka harus selesai keseluruhannya dalam konteks budaya berubah menjadi komoditi, eksploitasi, dan dominasi.”Revolusi-revolusi” ini belum mengubah nilai-nilai budaya yang digaris bawahi, jika apapun, mereka telah lebih lanjut memperkuatnya! Revolusi yang sebenarnya harus lebih jauh mendasar daripada ini.

Revolusi yang dituntut oleh kerinduan kita akan perdamaian, kebebasan, dan kebahagiaan harus memberikan dasar yang baru bagi budaya kita, beralih dari nilai-nilai penggembalaan dengan tekanan dan ketidak adanya keterikatan antara satu sama lain menuju paska penggembalaan dengan nilai-nilai menghormati, kebaikan persamaan hak, kepekaan, dan hubungan antara satu sama lain. Di atas itu semua, revolusi ini harus mengubah hubungan kita terhadap makanan kita-ritual-ritual yang amat kita praktikkan-dan pada makanan kita, simbol dalam batin dan luar kita yang paling kuat.

Tidak ada tindakan yang lebih sangat, secara radikal, dan secara positif memeluk perubahan-perubahan yang revolusioner ini daripada mengadopsi pola makan berbasis nabati untuk alasan etis. Tidak ada tindakan yang lebih subversip pada pembentukkan urutan penggembalaan daripada memperkuat kesadaran untuk melebihi pandangan bahwa hewan-hewan adalah komoditi-komoditi belaka.

Kita sedang bangun dari mimpi buruk atas komoditi dan memangsa hewan-hewan. Revolusi belas kasih yang tumbuh dalam kesadaran dan budaya kita memerlukan bahwa kita berhenti makan hewan bukan hanya untuk orientasi kesehatan sendiri atau alasan-alasan ekonomi, tetapi juga dari hati kita, di luar peduli bagi hewan-hewan, manusia, dan jaringan kehidupan yang saling berhubungan yang luas yang berbahaya dan merusak oleh makanan berbasis hewani. Kata yang menyimpulkan etika dan motivasi yang digaris-bawahi ini adalah “vegan,” tercipta di tahun 1944 di Inggris oleh Donald Watson. Watson tidk puas dengan kata “vegetarian” karena ia tidak dianggap untuk motivasi dan merujuk hanya pada pelarangan daging hewan dari pola makannnya. Dia mengambil surat dari tiga yang pertama dan dua surat yang terakhir dari kata-kata tersebut, tetapi menginginkannya dilafalkan berbeda sepenuhnya, “vee-gn,” untuk menekankan ia ecara revolusioner produk import. Definisinya dalam Artikel Asosiasi Perkumpulan Vegan di Inggris berbunyi, Veganisme merupakan suatu filosofi dan cara hidup yang mencari untuk meniadakan – sejauh mungkin dan praktikal – semua bentuk eksploitasi, dan kekejaman terhadap, hewan-hewan untuk makanan, pakaian, atau tujuan lainnya; dan dengan perluasan, mempromosikan perkembangan dan penggunaan alternatif-alternatif bebas hewani untuk keuntungan manusia, hewan, dan lingkungan.16 

Kata “vegan,” lebih baru dan lebih menantang daripada “vegetarian” karena ia termasuk setiap makhluk hidup di dalam lingkaran perhatiannya dan menyebut semua bentuk-bentuk kekejaman yang tidak ada gunanya dari perspektif etika yang sangat utama, dengan motivasi belas kasih daripada kesehatan atau kemurnian, menunjuk pada suatu ide kuno yang telah dilafalkan selama berabad-abad, terutama di tradisi-tradisi spiritual dunia. Ia menunjukkan suatu mental yang termasuk meluas dan mampu merangkul ilmiah dan hampir semua agama karena ia adalah manifestasi kerinduan untuk kedamaian, keadilan, kebijaksanaan, dan kebebasan yang universal.

Gerakan vegan zaman ini didirikan atas kebaikan yang penuh kasih dan kesadaran atas akibat-akibat kita pada yang lainnya. Ia revolusioner karena ia melebihi dan meninggalkan inti kekejaman dari budaya penggembalaan dimana kita tinggal. Ia didirikan pada hidup kebenaran atas saling berhubungan dan dengan demikian dengan sadar memperkecil penderitaan yang kita bebankan pada hewan-hewan, manusia, dan biosistim; ia membebaskan kita semua dari perbudakan menjadi komoditi belaka. Ia menandai kelahiran kesadaran yang baru, kebangkitan kepandaian dan belas kasih, dan dasar penolakan atas kekejaman dan dominasi. Ini hanya harapan kita yang nyata untuk masa depan dari spesies kita karena ia menyebutkan penyebabnya daripada menjadi khawatir melulu dengan akibat-akibatnya. Dari kesadaran yang baru ini kita dapat menyelesaikan hampir apapun; ia mewakili dasar pribadi positif dan transformasi budaya yang kita rindukan, dan ia membutuhkan bahwa kita mengubah sesuatu yang mendasar: kebiasaan-kebiasaan makan kita.

Adalah hal yang lucu jika kita menginginkan transformasi tanpa harus berubah! Namun transformasi dasar yang dijelaskan untuk saat ini membutuhkan perubahan yang paling mendasar – perubahan dalam hubungan kita kepada makanan dan kepada hewan-hewan, yang akan menyebabkan perubahan dalam perilaku kita. Bagi beberapa orang, dengan mudah menjadi vegan terlihat seperti langkah yang sebatas permukaan- dapatkah sesuatu yang begitu mudah sungguh-sungguh mengubah kita? Ya! Berikan kekuatan memprogram masa kecil dan kelembaban kekurangpekaan pada kekejaman terhadap hewan-hewan, benar-benar menjadi vegan yang melakukan hanya dapat menjadi hasil terobosan spiritual yang sejati. Terobosan ini adalah hasil dari menjadi matang dan usaha; bagaimanapun, ini bukan yang akhir tetapi awal dari pengembangan spiritual dan moral yang lebih lanjut. Veganisme masih sangat jarang bahkan diantara orang-orang yang menganggap mereka sendiri sebagai calon spiritual karena kekuatan pengkondisian sosial awal begitu sulit untuk diubah. Kita menyebut ini, namun demikian; sebaliknya budaya kita akan menyelesaikan tanpa apa-apa tetapi pengrusakan yang lebih lanjut dan pada akhirnya bunuh diri.

 

 

 

Referensi

1.     Jim Mason, An Unnatural Order: Why We Are Destroying the Planet and Each Other (New York: Continuum, 1993), p. 143.

2.     Ibid., p. 138.

3.     Ibid., pp. 142–143.

4.     Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, Tenth Edition (Springfield, MA: Merriam-Webster, 1996), p. 308.

5.     Cynthia Eller, The Myth of Matriarchal Prehistory: Why an Invented Past Won’t Give Women a Future (Boston: Beacon Press, 2000), p. 41.

6.     Riane Eisler, The Chalice and the Blade: Our History, Our Future (New York: HarperCollins, 1987), p. 44.

7.     Riane Eisler, Sacred Pleasure: Sex, Myth, and the Politics of the Body (New York: HarperCollins, 1995), p. 92.

8.     Ibid., pp. 95–96.

9.     Ibid., p. 96.

10.   Mason, p. 140.

11.   Ibid.

12.   Ibid., p. 146.

13.   Cappeller dictionary: f. gavyaa. desire for cows, ardour of battle; see also Monier Williams: goSu + gam=>, to set out for a battle [to conquer cows] RV. ii, 25, 4; v, 45, 9; viii, 71, 5; from author’s correspondence with Claude Setzer, Ph.D.

14.   Mason, p. 137.

15.   Leonardo da Vinci, Notes, cited in Andrea Wiebers and David Wiebers, Souls Like Ourselves (Rochester, MN: Sojourn Press, 2000), p. 62.

16. Joanne Stepaniak, Being Vegan (Los Angeles: Lowell House, 2000), p. 3.

 

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Pola Makan Perdamaian Dunia