Beranda > Memperoleh Keuntungan dari Kehancuran

 

bab sebelas 

MEMPEROLEH KEUNTUNGAN DARI KEHANCURAN

 

“Dosa terburuk terhadap sesama ciptaan kita bukanlah karena kita membenci mereka, tetapi karena tidak peduli kepada mereka. Itulah inti dari kebiadaban.”

–George Bernard Shaw

 

“Dampak dari kutu dan ular yang tak terhitung banyaknya selama bertahun-tahun telah mengubah lebih banyak jenis tanaman dan bentuk lahan di Barat dibanding dengan yang dilakukan oleh semua proyek air, pertambangan terbuka, pembangkit listrik, jalan layang, dan pengembangan subdivisi yang digabungkan.”

–Philip Fradkin di dalam Audubon, Kelompok Nasional Audubon

 

“Babi dan sapi serta ayam dan manusia semuanya sedang berkompetisi untuk biji-bijian.”

–Margaret Mead

 

Industrialisasi Peternakan

Rasanya sulit untuk membayangkan adanya suatu sistem produksi makanan yang lebih boros, beracun, tidak manusiawi, menambah penyakit, dan merusak selain pada apa yang ada di industri peternakan kita. Selain sangat tidak manusiawi terhadap hewan-hewan yang dikurung untuk dijadikan makanan–dan terhadap hewan liar yang habitatnya dirusak, diracuni, dijerat, dan ditembak oleh pengusaha peternakan, petani agrobisnis, agen pemerintah, serta industri perikanan sebagai hama dan pesaing–industri ternak juga sangat memboroskan air, minyak bumi, lahan, dan bahan kimia; merusak hutan dan perikanan; menciptakan polusi parah bagi tanah, air, dan udara; dan, dengan biaya besar, membanjiri pasar-pasar kita dengan produk yang benar-benar beracun bagi kesehatan kita.

Tidak akan mungkin bagi kita memakan makanan hewani dalam jumlah banyak dengan harga yang murah seperti yang kita lakukan saat ini dengan tanpa melakukan suntikan bahan bakar fosil dalam jumlah yang besar ke dalam sistem produksi makanan kita. Jika kita melihat pada peningkatan tajam kurva pertumbuhan populasi manusia dalam ratusan tahun terakhir ini, kita akan melihat bahwa kurva itu secara persis sepadan dengan kurva pertumbuhan energi yang memungkinkan kita menciptakan jumlah makanan yang sangat besar. Kelebihan makanan telah memberi dorongan terhadap ledakan populasi manusia–dan sapi, babi, ayam, ikan, dan hewan ternak lainnya yang dikurung untuk disembelih demi makanan.

Pada tahun 1950-an dan 60-an, pertanian negara A.S. diindustrialisasikan, yaitu sebuah proses yang disebut sebagai “Revolusi Hijau.” Arus sistem produksi makanan ini berdasarkan pada minyak serta gas alam yang murah dan melimpah. Industri pertanian bergantung pada gas alam untuk membuat dua belas juta ton pupuk nitrogen yang dipakai setiap tahun di A.S., dimana mewakili energi yang setara dengan 100 juta barel bahan bakar diesel.¹ Ini juga membutuhkan jutaan barel minyak bumi untuk menghasilkan 1,3 juta ton pestisida yang digunakan setiap tahun² (lebih dari delapan puluh persen pestisida itu digunakan untuk empat tanaman pangan–jagung, kedelai, gandum, dan kapas–terutama sebagai bahan pokok pakan ternak); ³ untuk memompa triliunan galon air irigasi yang dibutuhkan tanaman pangan ini; untuk menjalankan mesin pertanian yang hampir menggantikan semua tenaga kerja manusia; untuk mengangkut dan menyimpan miliaran hewan setiap tahun; dan untuk menjalankan tempat pengurungan ternak, rumah jagal, operasi penyimpanan, dan sistem transportasi produk beku. Minyak yang murah juga menjadi prasyarat dari yang disebut “Revolusi Biru”, atau ledakan dari pabrik peternakan ikan. Ikan-ikan dalam operasi perikanan juga mengonsumsi hasil panen ikan lain, dan armada penangkapan ikan yang belakangan ini secara besar-besaran sangat mengeksploitasi stok ikan di planet ini dimana membutuhkan sejumlah besar bahan bakar disel yang murah dan tidak berkelanjutan. Dasar dari hasil pertanian telah beralih dari hasil tanah ke minyak, dan dengan begitu akan memungkinkan semakin banyak orang yang dapat mengonsumsi lebih banyak makanan hewani daripada yang pernah terjadi dalam sejarah, harga yang kita semua bayar untuk hal ini sangatlah mengejutkan. Karena sekarang kita memasuki periode baru dari penurunan produksi bahan bakar fosil, konflik sengit dan keras demi minyak yang berharga dan diperlukan oleh kebiasaan makan omnivora kita telah semakin mengancam di setiap harinya. 

Menghabiskan Tanah, Air, dan Bahan Bakar Fosil

Masalah lingkungan utama akibat mengonsumsi makanan hewani adalah populasi hewan-hewan yang amat besar ini, dimana mereka harus makan, dan makan yang banyak. Delapan puluh persen biji-bijian di A.S. dan sekitar separuh dari ikan yang terseret di dalam jala diboroskan untuk memelihara miliaran hewan agar menjadi besar dan gemuk untuk disembelih secara menguntungkan, atau untuk menghasilkan produk susu dan telur pada tingkat permintaan konsumen yang tinggi. Dan lebih dari sembilan puluh persen protein dalam biji-bijian ini berubah menjadi gas metana, amonia, urea, dan tinja yang mencemari udara dan air kita. Suatu perkiraan konservatif menyatakan bahwa jumlah lahan, biji-bijian, air, minyak bumi, dan polusi yang dibutuhkan untuk memberi makan satu orang dengan Pola Makan Standar Amerika dapat memberi makan lima belas orang yang berpola makan nabati.4 Pemahaman implikasi terhadap hal ini sangatlah penting bagi kelangsungan hidup kita, karena industri peternakan kita benar-benar menguras tiga unsur penting yang ia andalkan: tanah, air, dan bahan bakar fosil.

Kebanyakan dari kita mempunyai sedikit pemahaman tentang sejumlah besar lahan yang dipakai dalam menanam biji-bijian untuk memberi makan babi, sapi, domba, unggas, dan ikan yang dikurung. Ada lebih dari 521.000 mil persegi hutan A.S. yang dibabat untuk menggembala ternak dan menanam biji-bijian untuk memberi makan mereka. Jumlah ini lebih luas dari jumlah luas gabungan negara bagian Texas, Kalifornia, dan Oregon, dimana semakin meluas di setiap harinya, dengan sekitar 6.000 mil persegi dibabat setiap tahun. Ini sama dengan sekitar 10.000 hektar per hari, tujuh hektar setiap menit.5 Penebangan hutan tiada henti ini, jumlahnya tujuh kali lebih luas dari jumlah pembabatan untuk membangun jalan, rumah, area parkir, dan pusat perbelanjaan,6 serta mengakibatkan musnahnya habitat satwa liar, hilangnya keragaman genetik, hilangnya lapisan humus, kemerosotan kali dan sungai, serta meningkatkan polusi. Hutan menciptakan lapisan humus, menghasilkan oksigen, membersihkan udara, membantu turunnya hujan yang dibutuhkan, dan menyediakan habitat bagi ribuan spesies hewan dan tumbuhan.

Selain penghilangan area hutan yang luas, peternakan bertanggung jawab atas pengrusakan dan degradasi area yang pada hakikatnya bahkan lebih besar dari semua padang rumput kita dan kebanyakan daerah gersang di Barat. Ekosistem indah dan  kompleks yang pernah mendukung jenis tanaman dan hewan yang bervariasi ini, sekarang telah hilang karena lahan itu telah dialihkan menjadi ladang untuk menanam satu jenis tanaman pakan atau digunakan untuk memelihara ternak. Menggunakan hutan, padang rumput, dan lahan gersang untuk peternakan ini telah merusak ekosistem yang secara kompleks saling terkait tersebut menjadi satu spesies yang hanya diinginkan hidup di lahan itu. Para peternak dan petani agrobisnis menganggap bahwa kebanyakan spesies lainnya selain hewan ternak dan tanaman yang mereka miliki adalah sebagai hama yang harus dibasmi. Pemusnahan dan pengacauan hutan, padang rumput, dan tanah gersang untuk menggembala dan menanam pakan ternak yang akan disembelih tidak hanya menjadi suatu penghancuran keragaman dan kecerdasan hayati, tetapi juga memiliki akibat serius lainnya.

Hanya sedikit dari kita yang sadar akan pengrusakan luar biasa yang ditimpakan peternakan kepada persediaan air kita. Pertanian menghabiskan delapan puluh lima persen dari semua sumber air bersih A.S.,7 terutama untuk memproduksi makanan ternak. Produksi makanan sehari untuk seorang manusia omnivora membutuhkan lebih dari empat ribu galon air, dibanding dengan seorang vegan yang hanya membutuhkan tiga ratus galon;8 fakta ini melambangkan kerusakan lingkungan yang sangat besar, terutama di lahan bagian barat Mississippi, di mana persediaan air tanah yang berharga telah habis, dan sungai serta kali kini telah dialihkan menjadi kanal irigasi, mengakibatkan kematian dan penderitaan bagi burung, ikan, dan satwa liar lainnya agar bisa menyediakan jumlah air irigasi yang banyak untuk menanam biji-bijian demi pakan ternak.

Empat puluh persen air irigasi ini berasal dari persediaan air bawah tanah yang membutuhkan waktu berabad-abad untuk terisi.9 Faktanya, persediaan air Ogallala yang terbentang di sebagian besar daerah tengah Amerika Utara, yang membutuhkan ribuan tahun untuk terbentuk dan merupakan persediaan air terbesar di dunia, sedang terkuras dengan cepat dan gegabah, dimana lebih dari tiga belas triliun galon air dipompa keluar setiap tahun untuk mengirigasi sejumlah luas lahan yang menanam pakan ternak.10 Sementara itu, orang-orang disuruh untuk menghemat air dengan menggunakan pancuran dan toilet yang beraliran air kecil. Ahli air dan tanah dari Universitas California telah memperkirakan bahwa pengunaan satu pon selada, tomat, kentang, atau gandum Kalifornia hanya membutuhkan sekitar 24 galon air, sedangkan pengunaan satu pon daging sapi Kalifornia membutuhkan lebih dari 5.200 galon air. John Robbins menunjukkan bahwa jumlah ini lebih banyak dari air yang akan digunakan untuk mandi setiap hari selama satu tahun!11 Kebanyakan dari air ini digunakan untuk mengairi ladang biji-bijian pakan ternak, dipompa oleh minyak bumi dari sungai dan persediaan air yang jauh dengan dam, kanal, dan stasiun pemompaan yang dibiayai oleh pembayar pajak dan bukannya agrobisnis peternakan yang meraup keuntungan dari hal itu. Marc Reisner, pengarang Cadillac Desert menyimpulkan, “Krisis air dan banyak dari masalah lingkungan di Barat–bisa disimpulkan, meskipun nampaknya tidak dapat dipercaya, tapi hanya satu kata penyebabnya: peternakan.”12

Makanan hewani juga membutuhkan jumlah minyak bumi yang besar untuk diproduksi. Misalnya, selain dibutuhkan dua kalori bahan bakar fosil untuk memproduksi 1 kalori protein dari kedelai, dan 3 kalori untuk gandum dan jagung, juga dibutuhkan 54 kalori minyak bumi untuk memproduksi satu kalori protein daging sapi!13 Peternakan berkontribusi secara tidak sebanding terhadap konsumsi minyak bumi kita sehingga menyebabkan polusi udara dan air, pemanasan global, dan perang yang disebabkan oleh konflik akibat persediaan minyak bumi yang semakin berkurang.

Bagaimana mungkin kita menghabiskan minyak bumi 27 kali lebih banyak hanya untuk menyuplai hamburger kepada orang-orang dibanding banyaknya minyak bumi yang diperlukan untuk hamburger kedelai, lalu apakah implikasi dari hal ini? Tanah yang digunakan untuk pertanian cenderung kekurangan nitrogen karena tanaman menariknya dari tanah untuk menyintesis protein. Solusi tradisional yang biasa digunakan adalah dengan menyebarkan kotoran ternak atau kotoran burung untuk memperkaya kembali tanah tersebut, menanam polong-polongan dan menggiliri tanaman, serta mengosongkan lahan agar memperbaharui diri. Di tahun 1909, dua ahli kimia Jerman menemukan suatu metode untuk memperbaiki nitrogen atmosferik dari amonia yang memungkinkan para ilmuwan nanti menemukan metode untuk menghasilkan pupuk nitrogen anorganik dari gas alam dengan murah dan dalam jumlah yang banyak. Ketersediaan nitrogen yang relatif mendadak ini memungkinkan peningkatan produksi pangan yang besar dan mengakibatkan ledakan populasi manusia maupun hewan ternak selama abad terakhir ini.14 Itu adalah pupuk buatan sama yang menyebabkan limpasan nitrogen “kaya nutrisi” ke kali dan sungai yang menjadi salah satu masalah polusi air yang besar, menyebabkan kelebihan pertumbuhan alga, menghabiskan oksigen, dan membunuh ikan.

Selain gas alam untuk pupuk, sistem pertanian kita membutuhkan minyak bumi untuk memproduksi insektisida dan herbisida berbasis hidrokarbon dalam jumlah besar yang telah meningkat tiga puluh tiga kali dalam dua puluh tahun terakhir.15 Sementara itu, setiap tahun semakin banyak tanaman pangan yang rusak akibat hama karena penanaman satu jenis tanaman dan pengabaian praktik pemulihan tanah tradisional. Ketika lahan yang luas hanya ditanami dengan satu tanaman pangan, lahan itu akan secara kuat menarik spesies “hama” yang memakan tanaman tersebut. Karena kekurangan keragaman tanaman dan populasi serangga di area itu, hanya sedikit burung dan predator lain yang datang untuk makan, dan hama itu menjadi kebal terhadap tingkat pestisida yang semakin tinggi. Tanaman serupa yang ditanam pada tanah yang sama di setiap musim, akan mengandakan banyak organisme yang tahan terhadap pestisida. Menurut Worldwatch Institute, saat ini ada sekitar seribu hama pertanian utama yang kebal terhadap pestisida.16 Menyiram ladang makanan kita dengan racun adalah bagian dari pertarungan penyebab kanker yang sering melawan ketahanan alam terhadap metode industrialisasi yang sering dilakukan oleh agrobisnis, dan mengubah jutaan hekar lahan yang hanya ditanami satu jenis tanaman saja, akan menjadi lahan pembunuh yang beracun bagi satwa liar.

Pertanian intensif modern juga dengan pasti merusak humus, yang membutuhkan waktu berabad-abad agar terbentuk–sekitar lima ratus tahun untuk satu inci.17 Karena kerasnya industri pertanian ini, tanah pertaniannya menjadi terkikis tiga puluh kali dari laju pembentukan, dan setiap tahun lebih dari dua juta hektar hilang akibat erosi dan kadar garam dari irigasi kronis.18 Pada taraf ini, tanah dari operasi penanaman satu jenis tanaman dalam skala besar akan kehabisan mineral dan nutrisi, dan menjadi media tak bernyawa dimana agrobisnis menuangkan pupuk nitrogen anorganik untuk memproduksi tanaman pangan dengan hasil yang tinggi–terutama untuk makanan ternak–yang nilai gizinya meragukan.

Pertanian intensif ini tidaklah berkelanjutan. Semakin ia merusak lahan dan persediaan air serta mengeringkan air tanah, semakin banyak masukan bahan bakar fosil yang diperlukan untuk irigasi, mengganti nutrisi, menyediakan perlindungan terhadap hama, hanya untuk mempertahankan agar produksi pangannya tidak berubah. Kecuali jika kita menghindari konsumsi makanan hewani yang melahap sumber daya, bila tidak kita akan menghadapi konsekuensi dari persediaan jumlah bahan bakar fosil yang terbatas dan semakin menurun.

Richard Heinberg membuat hal itu jelas dalam bukunya The Party’s Over: Oil, War and the Fate of Industrial Societies (Pesta telah Usai: Minyak, Perang dan Takdir di Masyarakat Industri) dimana para ahli minyak bumi percaya bahwa produksi minyak bumi di seluruh dunia sedang mencapai puncaknya, dan kita sekarang memasuki periode penurunan produksi, sedangkan persediaan yang ada akan habis dengan cepat.19 Empat galon bahan bakar disuling untuk setiap satu galon minyak bumi yang ditemukan, dan kemajuan dalam teknologi geokimia serta seismik telah membuat hal itu jelas bahwa persediaan minyak bumi yang belum ditemukan hanyalah sedikit dan lenyap dengan cepat.20 Kita terus mempertinggi konsumsi dan menghiraukan konsekuensi yang parah itu karena kita dapat melakukannya tiga kali sehari untuk menolak konsekuensi itu. Ahli minyak bumi, C. J. Campbell, telah berkata, “Sinyal peringatan telah dibunyikan sejak lama. Tanda-tanda itu sudah terlihat jelas. Tapi dunia menjadi buta dan gagal saat membaca pesan tersebut. Ketidaksiapan kita itu sendiri sangat menakjubkan, mengingat pentingnya minyak bagi kehidupan kita.”21 Tidak mengejutkan ketika kita menyadari bahwa kemampuan kita untuk menghalangi dampak adalah karena mental dominasi dan ketergantungan kita mengonsumsi makanan hewani. Namun sayangnya kita hanya ingin bekerja sama dengan industri daging yang tanpa disadari menindas kesehatan yang mengancam kebiasaan makan kita.

Bentrokan antara permintaan bahan bakar fosil yang melonjak dengan persediaan yang berkurang secara permanen akan mengakibatkan tekanan lonjakan harga yang tak henti-hentinya karena permintaan yang terus bertambah dan konflik atas keterbatasan minyak yang menghebat. Dengan menurunnya persediaan bahan bakar fosil yang tak dapat dihindari di masa depan, jumlah hari dengan harga makanan hewani yang murah dapat dihitung. Kita mungkin mulai mengakui bahwa mengonsumsi makanan hewani adalah pemborosan suplai minyak bumi kita yang terbatas. Sudah ada orang yang murka terhadap tipe mobil SUV besar yang memboroskan minyak bumi, dan tidak efisien dibandingkan mobil yang hemat. Apakah kita juga akan mendapatkan kemurkaan yang serupa terhadap orang yang makan daging sapi, ayam, ikan, telur, dan produk susu, yang tidak efisien dibandingkan makanan nabati dengan tingkat pemborosan yang jauh melebihi mobil SUV terbesar–tingkat pemborosan 10, 15, dan 25 banding satu? Lebih mudah untuk melihat bergalon-galon bahan bakar fosil yang dituangkan secara langsung ke mobil kita daripada melihat bergalon-galon bahan bakar fosil yang dituangkan ke dalam keju, telur, potongan ikan, hot dog, dan bistik kita. 

Racun dalam Peternakan

Lahan luas yang hanya ditanami satu jenis tanaman sebagai pakan ternak yang akan kita makan meliputi jutaan ekar lahan yang disirami dengan banyak pestisida dan pupuk beracun. Dua dari tanaman ini, jagung dan kedelai, sekarang telah direkayasa secara genetis dan telah menjadi komponen utama dari pakan ternak, di mana lebih dari separuh semua lahan pertanian hanya dipakai untuk dua jenis tanaman pangan ini semata.22 Tanaman itu direkayasa secara genetis agar tahan herbisida sehingga agrobisnis menyemprot dua hingga lima kali lebih banyak banyak kimia beracun di lahan ini daripada tanaman non-rekayasa-genetika (non-GMO), yang membunuh satwa liar dan mencemari air pada tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Lahan-lahan beracun ini adalah dasar dari produk susu dan telur yang kita makan, dan juga daging sapi, ayam, babi, dan ikan, seperti industri ternak ikan catfish, ikan forel, tilapia dan sebagainya. Residu karsinogenik dari pupuk kimia dan pestisida yang digunakan pada tanah ini mengontaminasi sungai dan lautan kita. Bahan-bahan itu terkonsentrasi dalam makanan hewani yang kita makan serta di dalam daging dan susu kita. Selain itu, kotoran yang digunakan untuk “memperkaya” makanan hewan mengandung racun yang bahkan lebih besar daripada makanan nabati yang dipaksakan kepada hewan untuk memakannya.

Fungisida, insektisida, herbisida, dan residu pupuk kimia terkonsentrasi dalam kotoran ternak. Setiap orang yang mendirikan bangunan telah mengetahui betapa ketatnya kebanyakan komunitas dalam hal pembuangan limbah kotoran manusia, namun limbah kotoran ternak pada hakikatnya tidak diolah. Puluhan miliar hewan darat yang dikurung dan dibunuh setiap hari mengeluarkan tinja dan air seni dalam jumlah yang sangat banyak, ini tidak setara dengan jumlah yang dikeluarkan oleh manusia, dan bahkan dua atau tiga kali lebih banyak, namun menurut penelitian oleh Senat A.S., jumlahnya bahkan 130 kali lebih banyak.23 Kotoran hewan darat ini dapat ratusan kali lebih terkonsentrasi daripada kotoran manusia yang tak terolah. Itu lebih beracun karena tingkat bakteri, kimia, dan residu obat-obatan yang tinggi.24 Misalnya, tingkat antibiotik dari kotoran ternak yang mengalir ke sungai telah terbukti berkontribusi terhadap munculnya bakteri yang kebal antibiotik di sungai.25 Perusahaan-perusahaan susu di Kalifornia Tengah menghasilkan lebih banyak kotoran dibandingkan sebuah kota yang berpenduduk dua puluh juta jiwa, dan satu peternakan babi yang besar menghasilkan kotoran lebih banyak daripada penduduk Kota New York!26 Pembuangan kotoran ternak kurang diatur dibanding kotoran manusia karena industri ternak mendapat dukungan kebal peraturan dari antek-antek mereka di kantor pemerintahan dan para politisi yang berhutang budi karena kampanye politik. Kotoran beracun yang tidak mendapat pengaturan ini mencemari air bawah tanah, sungai, danau, dan lautan.27 Ketika danau tinja raksasa berisikan kotoran babi ini meluap, dampaknya adalah penjangkitan pfisteria yang dapat membunuh jutaan ikan dan dengan serius membahayakan manusia yang berenang di hilir sungai dan teluk. Menurut Kantor Perlindungan Lingkungan, lebih dari tiga puluh lima ribu mil sungai tercemar oleh tempat pemeliharaan ternak berskala besar dalam dasawarsa terakhir ini.28 Ketika industri ternak mencemari air bawah tanah maka untuk membersihkannya atau mengatasi pencemaran itu, pada umumnya akan memakai uang publik, bukannya uang dari industri itu.29

Kotoran ternak juga menyebabkan polusi air yang menakutkan, seperti yang ditegaskan oleh mereka yang kurang beruntung yang tinggal di dekat tempat pengoperasian ini. Bau pesing menyebabkan tekanan mental dan penyakit pernapasan, dan ketika mengering, kotoran itu dapat tertiup berkilo-kilo meter jauhnya. Peternakan juga mengeluarkan gas metana dalam jumlah besar, yang menjadi faktor utama pemanasan global karena gas itu mengikat panas lebih kuat daripada karbon dioksida. Pemanggangan daging hewan juga menciptakan lebih banyak polusi udara: para peneliti menemukan bahwa banyak dari kabut asap di kota-kota tidak hanya berasal dari mobil tetapi juga dari partikel asap dan lemak dari ribuan restoran cepat saji dan dapur yang memanggang daging.30 

Menyembuhkan Bumi dan Ekonomi

Kita nampaknya tidak sadar bahwa ekonomi kita akan jauh lebih baik jika kita berpindah ke pola makan nabati. Jika kita semua melakukan pola makan nabati, kita dapat memberi makan diri kita sendiri dengan hasil panen dari tanah yang lebih kecil dari yang diperlukan oleh pemakan daging. Sebagai contoh, para peneliti memperkirakan bahwa 10 km persegi tanah dapat memenuhi kebutuhan energi makanan dari 20 orang pemakan kentang, 19 orang pemakan jagung, 23 orang pemakan kubis, 15 orang pemakan gandum, atau 2 orang pemakan ayam atau produk susu, dan 1 orang pemakan daging sapi atau telur.31 Semua orang di dunia dapat diberi makan dengan mudah karena saat ini kita menanam hasil panen lebih dari cukup untuk sepuluh miliar orang;32 saat ini pada kenyataannya, kita memberikan hasil panen tersebut untuk hewan yang tak terhitung banyaknya dan memakan mereka sehingga memaksa lebih dari satu miliar manusia harus menderita kekurangan gizi kronis dan kelaparan, sementara satu miliar orang yang lainnya menderita kegemukan, kencing manis, sakit jantung dan kanker yang dihubungkan dengan pola makan daging yang tinggi.

Obat-obatan yang kita gunakan untuk memberantas beberapa penyakit tersebut dikeluarkan melalui urin, mengalir ke dalam air dan menjadi satu dengan aliran utama yang menambahkan polusi ke bumi kita. Ini adalah masalah serius yang terutama berada di kota-kota yang lebih besar di dunia industrial. Toksin—seperti konsekuensi negatif yang lain dari makanan hewani—tidak akan menghilang begitu kita menelan mereka. Mereka dikeluarkan ke ekosistem kita, meskipun juga jejak besar itu dikumpulkan di jaringan lemak di tubuh kita. Karenanya, dengan memakan lebih banyak makanan nabati, kita dapat mengurangi polusi di bumi kita, dan tubuh kita dapat lebih sedikit tercemar dan tidak berpenyakit, menyelamatkan kita dari lingkaran kejahatan dengan mencelupkan bumi dan diri kita sendiri dari meningkatnya toksin kimia, yang menjadi bagian dari perang kita dalam melawan alam yang tak bisa dimenangkan.

Dengan berubah ke pola makan nabati, kita dapat mengurangi penggunaan minyak tanah dan jumlah impor secara besar, dan memotong jumlah dari hidrokarbon serta karbon dioksida yang memperparah polusi udara dan pemanasan global.33 Kita dapat menyimpan ribuan miliar dolar per tahun dari biaya medis, obat-obatan dan asuransi, yang akan menambahkan tabungan pribadi dan kemudian memperkuat kembali ekonomi, menyediakan dana segar bagi proyek kreatif dan pengembalian lingkungan. Lahan panen menyedihkan yang digunakan untuk memberi makan perternakan kini dapat ditanami pohon, menghidupkan kembali hutan, sungai dan kehidupan liar. Ekosistem laut dapat dibangun kembali, hutan hujan dapat pulih kembali dan dengan menurunnya permintaan kita secara drastis terhadap segala macam sumber daya, tekanan lingkungan dan militer dapat menjadi ringan. Hasil panen yang saat ini diberikan untuk memberi makan peternakan di dunia dapat diberikan untuk memberi makan orang-orang miskin yang kelaparan.

Jika kita menghentikan praktik yang menciptakan kekuatan spiritual, kejiwaan, sosial dan ekonomi dibalik perang dan kekerasan manusia ini, anggaran militer yang melemahkan vitalitas ekonomi juga dapat dikurangi dengan sangat besar. Pengeluaran militer PBB sangatlah besar, dengan lebih dari setengah jumlah keseluruhan dana kebijaksanaan pemerintah pusat digunakan dalam bidang militer. Sudah diketahui bahwa pengeluaran militer, ketika dibandingkan dengan pengeluaran dalam bidang pendidikan, pemulihan lingkungan, layanan kemanusiaan, pelayanan kesehatan, pembangunan dan lainnya, akan menciptakan lapangan kerja paling sedikit dan menghasilkan produk yang tidak dapat dikonsumsi, seperti bom, ranjau, senjata dan tes senjata, yang juga menciptakan polusi dan penghancuran yang sangat besar. 

Konsekuensi dari Menghindari Konsekuensi

Banyak hal telah ditulis tentang efek buruk terhadap lingkungan akibat memelihara hewan untuk dimakan, termasuk Diet for a Small Planet, Diet for a New America, Mad Cowboy, Vegan: The New Ethics of Eating, The Food Revolution, dan banyak buku serta artikel lainnya. Informasinya telah tersedia dan bagi siapa pun dari kita yang berminat, dapat melakukan penelitian dan menemukan bahwa pola makan daging adalah penggerak utama di balik berbagai masalah lingkungan terserius yang sedang kita hadapi: musnahnya berbagai spesies yang sedang berlangsung, penghancuran hutan hujan, polusi udara dan air, kehilangan sumber air, pemanasan global, ketergantungan terhadap minyak, penyebaran penyakit, kehilangan humus tanah, kekeringan, kebakaran hutan, penggurunan, kehancuran habitat dan bahkan lebih banyak perang serta terorisme. Namun informasi ini tidak dipublikasikan dan pengertian kita tentang hal tersebut ditekan, karena topik tentang mengonsumsi makanan hewani adalah topik besar di ruang keluarga kita yang kita semua berharap untuk tidak melihatnya, yaitu kebiasaan yang tidak kita disadari yang menghancurkan keluarga kita namun menjadi hal yang tabu untuk dihadapi atau didiskusikan.

Lembaga-lembaga kita mencerminkan kebutuhan mental dari omnivoraisme kita. Bagian dari masalah ini adalah toksin yang digunakan di industri peternakan dimana itu sangat menguntungkan bagi para elit kaya yang punya hak istimewa dalam mendominasi percakapan budaya kita melalui kekuatannya dengan media, pemerintahan, dan pendidikan. Media-medis-industri-daging-militer tidak memiliki dan menawarkan pendorong untuk mengurangi konsumsi makanan hewani. Meracuni bumi dengan zat kimia beracun berdosis tinggi dan pupuk dari minyak bumi sangatlah menguntungkan bagi industri minyak bumi dan kimia. Toksin-toksin ini menyebabkan kanker yang sangat menguntungkan bagi farmasi kimia – pengobatan kompleks. Sementara banyaknya omnivora di dunia menghabiskan suplai gandum, minyak bumi, air dan tanah yang berharga dan memberi makan dan memakan hewan hingga gemuk, orang-orang miskin di dunia memiliki sedikit gandum untuk dimakan atau air bersih untuk diminum, sehingga mereka kelaparan, kehausan serta penderitaan mereka yang kronis ini telah menciptakan kondisi seperti perang, terorisme dan kecanduan obat-obatan, yang juga sangat menguntungkan bagi industri bersangkutan. Penduduk lima negara terkaya di dunia mengalami kegemukan, penyakit jantung dan kencing manis, ini juga sangat menguntungkan bagi industri tersebut. Berbagai perusahaan transnasional mendapat keuntungan dari konsumsi makanan hewani, seperti yang dilakukan oleh bank-bank besar, dimana pinjaman yang mereka berikan telah membangun sebuah keutuhan kompleks dan menuntut pengembalian yang menguntungkan dari investasinya. Sistem ini menyebar tiada henti dan mengglobal, dan sementara perusahaan dan bank tersebut kembali sehat, orang-orang, hewan dan ekosistem di seluruh dunia jatuh sakit, dieksploitasi, dan dihancurkan.

Dengan sumber finansial yang besar dan berpengaruh kuat di seluruh tingkat pemerintahan, bisnis peternakan menerima miliaran dolar melalui subsidi, bantuan harga, bantuan pemasukan, bantuan darurat, pinjaman komoditas, pembayaran langsung, pembagian jatah, penghentian pajak sementara, subsidi perlindungan dan makanan, hak istimewa penggembalaan, program insentif ekspor produk susu dan pelayanan pemerintah lainnya di setiap tahun. Dengn tanpa bantuan ini, industri peternakan tidak akan dapat bertahan hingga sekarang; hamburger termurah setidaknya akan berharga tiga puluh lima dolar per pon bila tanpa pajak sistem dana irigasi, subsidi, tunjangan pemulihan dan campur tangan pemerintah yang tak terhitung jumlahnya.34 Undang-undang Peternakan tahun 2002, misalnya, telah menimbulkan kemarahan di antara negara-negara Amerika Tengah dan Selatan karena jumlah uang pemerintah pusat yang tak pernah muncul sebelumnya, diberikan ke bisnis peternakan Amerika Serikat - $183 miliar – memperbolehkan produsen daging, produk susu, telur dan gandum dari Amerika Serikat untuk membanjiri pasar Amerika Latin dengan produk berharga rendah yang mengeluarkan para petani lokal dari ajang bisnis di sana.

Penelitian yang diadakan di Food Politics Marion Nestle memperinci tentang bagaimana industri makanan hewani mempertahankan pegangan besinya di agen pemerintah dan politisi, dan bagaimana sistem produksi makanan kita didesain untuk memaksimalkan keuntungan bagi beberapa perusahaan besar yang mendominasi pemerintah. Dia menulis, sebagai contoh,

Pekerjaan saya adalah mengatur produksi editorial bagian pertama—dan hanya sampai sekarang—Laporan Operasi Umum tentang Nutrisi dan Kesehatan... Hari pertama saya di tempat bekerja, saya diberi aturan: Tidak peduli apa yang ditunjukkan penelitian, hasil laporan tidak dapat merekomendasikan “kurangi konsumsi daging” sebagai sebuah cara untuk mengurangi asupan lemak jenuh, ataupun menyarankan pelarangan terhadap asupan makanan di kategori lainnya. Pada administrasi industri ramah iklim Reagan, produsen makanan mungkin yang telah terpengaruh oleh nasehat seperti itu, akan mengajukan komplain kepada penerima keuntungan mereka di Kongres, dan laporan tersebut tidak akan pernah dipublikasikan.35 

Kita semestinya tidak berilusi bahwa agen pemerintah dan penguasa akan bekerja untuk melindungi konsumen, lingkungan ataupun hewan, karena seperti yang ditemukan dan digaris bawahi oleh para jurnalis dan peneliti (meskipun jarang dikeluarkan di media), mereka melayani industri dan perusahaan yang kaya dan memiliki kekuasaan untuk memberi mereka tekanan langsung secara konstan. Industri-industri ini juga menyediakan personil pemerintahan baru melalui “pintu berputar” antara pekerjaan di industri, dengan pekerjaan di agen pemerintah yang melayani industri tersebut. Seperti Departemen Pertahanan yang dijalankan oleh orang-orang dari industri senjata, Departemen Pertanian juga dijalankan oleh pendiri pengusaha peternakan, eksekutif dan pengacara bagi industri daging, produk susu dan telur. Adalah penting bagi industri makanan hewani bahwa agar sebisa mungkin para konsumen tetap tidak sadar akan kondisi sebenarnya dari hewan-hewan yang harus hidup, dan juga efek menghebohkan dari makanan ini terhadap kesehatan manusia dan ekosistem kita.

Produksi dan penjualan dari makanan hewani kita tidak sebanding dengan keuntungan dari kaum kecil dalam hal pengeluaran, pengurungan hewan, orang-orang yang sakit dan kelaparan, serta para generasi di masa depan. Kaum elit ini, hasil yang tak dapat dihindari dari dominasi dan pengeluaran mentalitas budaya kita, mengontrol peternakan, industri, dan lembaga pemerintah, media, militer, pendidikan, medis dan keuangan. Lembaga tersebut mempromosikan konsumsi hewani karena perbudakan hewan merupakan dasar dari struktur kekuatan kaum elit tersebut, seperti yang selama ini mereka lakukan dalam menguatkan kekuatan mereka dengan menggiring hewan-hewan secara kasar sejak delapan ratus tahun lalu. Ini masih saja dipertahankan secara tradisional, dengan mengontrol konsentrasi kekuatan keuangan dan politik yang dengan demikian dapat mengatur pemikiran melalui manipulasi lembaga pendidikan, agama, pemerintah, dan lembaga sosial lain.

Bukanlah sebuah kebetulan bila kita menemukan ada perusahaan transnasional yang secara meningkat turut campur dalam mengendalikan kehidupan publik dan pribadi kita. Perusahaan adalah manifestasi dari keinginan kita untuk menghindari tanggung jawab (dengan kata lain “membatasi tanggung jawab”) dan mereka berakar pada piring-piring kita, melalui makanan kita setiap hari, kita membunuh, membatasi dan menyalahgunakan hewan dengan cara yang tidak dapat kita pertanggungjawabkan. Luka psikologis dan tidak adanya koneksi ini telah mengumpulkan momentum budaya selama beradab-abad dengan dominasi mental dan komodifikasi makhluk hidup yang dibutuhkan oleh makanan kita, dimana pada akhirnya bereinkarnasi menjadi perusahaan raksasa transnasional yang mengangkang kita dan dunia kita saat ini. Lebih dari satu setengah abad, mereka tumbuh membesar dan telah sukses dalam melepaskan diri dari batasan hukum yang dikenakan kepada mereka di generasi sebelumnya.36 Mereka sekarang dikenal oleh pengadilan kita sebagai orang-orang legal, namun mereka kekurangan daging, darah, dan jiwa. Yang ada hanyalah alat-alat abstrak mereka untuk memaksimalkan kekuatan mereka dan kekayaan investor mereka sendiri. Bukannya bangkrut, mereka justru berkembang lebih kuat dan lebih jahat. Mereka adalah ciptaan kita dan adalah refleksi dari diri kita, dan mereka justru menekan kita untuk melayani kepentingan mereka dengan keluarga, hubungan, komunitas, bumi dan diri kita sendiri sebagai gantinya. Semakin banyak perusahaan yang dapat “mewujudkan” pengorbanan, membebaninya kepada para pekerja, hewan, generasi masa depan, pemerintah, komunitas, dan pihak-pihak lain, maka semakin banyak pula keuntungan yang mereka dapat.

Makanan hewani kita juga adalah sumber dari kepuasan dan rasa tidak berdaya penyebab bencana lingkungan dan sosial yang disembunyikan oleh media supaya kita tidak melihat dan mengerti. Mengonsumsi makanan hewani mengurangi sensitivitas kita, membingungkan kita dengan mengurangi kemampuan kita untuk merespon – kemampuan merespon kita. Memakan kekejaman di piring kita memerlukan pengelakan tanggung jawab sehingga kita bisa percaya bahwa tindakan kita tidak membuat banyak perbedaan. Kepercayaan yang salah ini sebenarnya didasarkan pada pemahaman kita yang setengah sadar dimana pada dasarnya dengan setiap makanan kita telah menyebabkan bermacam penderitaan dan polusi yang ingin kita cegah. Sistem sosial dan ekonomi yang telah saya jelaskan tadi menciptakan populasi besar dari orang-orang yang sakit, peka, dan bingung. Terus mendorong budaya memakan daging, cairan dan telur dari hewan adalah cara dasar untuk memastikan hal ini dan memastikan keuntungan bagi para dewa yang diabadikan di altar tertinggi perusahaan.

Salah satu cara agar hal ini dapat terus mereka lakukan adalah melalui peningkatan kontrol perusahaan terhadap obat-obatan dan ilmu pengetahuan. Saat ini, penekanan industri farmasi medis adalah secara genetik. Karena perusahaan-perusahaan ini membuka jalan mereka ke fasilitas penelitian universitas dengan dana yang sangat dibutuhkan, kita akan melihat bahwa asumsi akademis sedang mengikuti garis uang perusahaan. Para peneliti didorong oleh uang yang banyak, status dan tekanan tajam untuk melihat penyakit dan kesehatan dari pandangan segi genetik, karena ini adalah sebuah sudut pandang yang menguntungkan bagi industri farmasi – dan sejajar lurus dengan mekanis dan pengurangan mental yang mendasari ilmu pengetahuan konvensional.

Jika penyakit dilihat sebagai hasil dari pikiran, cara hidup, kebiasaan makan, perasaan, perilaku, dan kemampuan kita untuk merespon panggilan hidup kita, serta sebagai pesan, pelajaran dan kesempatan bagi kita di jalan spiritual kita, maka kita diberdayakan untuk meresponsnya secara kreatif dan langsung, yang akan menjadi lebih sehat dengan bertanggung jawab atas kesehatan diri kita di dalam dan di luar lingkungan. Ini semua akan menjadi sangat buruk untuk keuntungan dan kontrol perusahaan. Jika kita dapat diyakinkan bahwa penyakit kita disebabkan hanya oleh “kecenderungan genetik” yang tidak bisa kita kontrol, maka perusahaan memposisikan kita tepat di tempat yang mereka inginkan: di dalam penguasaan mereka. Dan mereka tidak mengenal ampun.

Teori gen memiliki daya tarik karena itu membebaskan kita dari tanggung jawab atas tingkah laku dan aksi kita di dalam dan di luar lingkungan, yang meletakkan kita dengan aman di tangan perusahaan yang mendapat keuntungan dari pengabaian rasa tanggung jawab utama kita terhadap kesehatan fisik kita. Tidak hanya keuntungan intensif bagi industri medis dan bank serta lembaga keuangan yang mendukung mereka, obat-obatan juga melemahkan kita, menutupi pikiran kita, membuat perasaan kita mati, dan melemahkan kekuatan penyembuh alami kita. Berdasarkan industri farmasi, pada tahun 2001, ada sekitar 3,2 miliar resep yang dibuat di Amerika Serikat, dengan 46 persen orang dewasa mengambil setidaknya satu resep di setiap harinya – dan penjualan obat-obatan ini meningkat sekitar dua puluh lima persen di setiap tahunnya!37 Efek samping dari obat-obatan tiba-tiba saja menjadi pembunuh paling top, dan sebenarnya obat-obatan ini sangatlah berpotensi untuk membuat orang kecanduan. Sejak tahun 1962 hingga 1988, sebagai contoh, pencandu obat-obatan jalanan meningkat tiga puluh persen, sementara pencandu obat-obatan resep meningkat tiga ratus persen.38 Mengapa kita mendengar begitu banyak kisah tentang pencandu jalanan sedangkan sangat sedikit tentang pencandu resep, dan kenapa perlawanan kita terhadap obat-obatan hanya berfokus pada obat-obatan yang tidak memberikan kontribusi secara langsung terhadap keuntungan perusahaan? Seakan mencoba menghindari konsekuensi yang ada saat ini untuk memiliki konsekuensi yang lebih jauh.

Pola makan nabati tidak dapat dipatenkan, jadi ini sangat tidak menarik perhatian bagi farmasi kompleks. Ini adalah ancaman yang besar, faktanya, kampanye besar-besaran diperjuangkan untuk membuat kita kacau dan percaya bahwa karbohidrat kompleks itu buruk bagi kita sementara protein hewani sangatlah diperlukan, dan ilmu pengetahuan dapat menyelamatkan kita dari kencing manis, kanker, dan penyakit lainnya yang dibawa oleh dominasi makanan kita yang tidak mengenal rasa kasihan terhadap hewan. Miliaran dana dihabiskan untuk mencari obat-obatan dan bahan berarti lainnya untuk menyembuhkan penyakit etika dan spiritual yang sebenarnya. Menaburkan penyakit dan kematian terhadap hewan, kita akan menuai hal yang sama juga di dalam diri kita. Banyak dari penelitian obat-obatan saat ini sebenarnya adalah pencarian yang sepertinya tidak dapat menemukan cara untuk terus melanjutkan makanan hewani, dan hanya melarikan diri dari konsekuensi atas kekejaman kita pada praktik yang tidak alami. Apakah kita benar-benar ingin sukses dalam hal ini?

Kita menjadi bebas ketika kita berhenti bekerja sama dengan sistem dominasi yang akan memberi kita makan dengan makanan darahnya. Jika darah hewan ada di tangan kita, kita – mungkin tanpa disadari – diperbudak. Para elit yang berkuasa mengontrol media-medis-industri-daging-militer yang kompleks itu berusaha untuk menarik benang pengontrol agar lebih erat, dan dengan kesadaran kita dapat melihat ini semua di sekitar kita. Kekejaman hanya akan menurunkan kekejaman yang lebih lanjut. Kita terpanggil untuk membalas ini semua dengan cinta, langsung ke hal yang paling rentan dan disalahgunakan – makanan hewani – dan menyebarkan beritanya.

Hidup kita mengalir dari kepercayaan kita, dan kepercayaan kita ini dikondisikan oleh tindakan kita pada setiap harinya. Karena kita bertindak, maka kita membangun karakter kita dan kita menjadi hal tersebut. Dengan secara sadar membuat perayaan makanan kita dengan damai, cinta kasih dan kebebasan, kita dapat menebarkan bibit itu dengan cara yang paling kuat untuk menyumbangkan kesembuhan bagi dunia kita.

 

Referensi

1.     The Fertilizer Institute, U.S. Fertilizer Statistics, http://www.tfi.org/Statistics/USfertuse2.asp.

2.     Albert Gore, Introduction to Rachel Carson, Silent Spring (Boston: Houghton Mifflin, 1962, 1994), p. xix, cited in Howard Lyman, Mad Cowboy (New York: Scribner, 1998), p. 72.

3.     Lee Hitchcox, Long Life Now (Berkeley: Celestial Hearts, 1996), p. 59.

4.     Ron Eisenberg and Virgil Williams, “Cost of a Meat-based Diet—for Your Body and for the Planet,” The Argus: 4-Bay Area Living, June 2, 2000.

5.     Robin Hur and David Fields, “Are High-Fat Diets Killing Our Forests?” Vegetarian Times, February 1984; cited in John Robbins, Diet for a New America, pp. 360–361. Hur and Fields estimate 260 million acres, which is 406,000 square miles of deforested land, and a rate of one acre every 5 seconds. Conservatively reducing their estimate to one acre every 8.5 seconds, we arrive at the estimates in the text.

6.     Ibid.

7.     Mario Giampietro and David Pimentel, Food, Land, Population and the U.S. Economy, Executive Summary, Carrying Capacity Network, November 1994.

8.     Eisenberg and Williams, “Cost of a Meat-based Diet.”

9.     Giampietro and Pimentel, Food, Land, Population and the U.S. Economy.

10. William Lagrone, “The Great Plains,” in Another Revolution in US Farming?, Scherz, et al., USDA, ESCS, Agricultural Economic Report No. 441, December 1979, cited in John Robbins, Diet for a New America (Walpole, NH: StillPoint, 1987), p. 370.

11.   John Robbins, The Food Revolution, p. 237.

12.   Cited in Ibid., p. 237.

13.   Ibid., p. 266.

14. For more on the relationship between increased food production and population growth, see Daniel Quinn, “Population: A Systems Approach.” Center for Biotechnology Policy and Ethics, Texas A&M University, reprinted in Quinn, The Story of B (New York: Bantam, 1996).

15.   Mario Giampietro and David Pimentel, “Land, Energy and Water: The Constraints Governing Ideal U.S. Population Size,” Focus, Spring 1991.

16.   Worldwatch Institute, Vital Signs 1999 (Washington, DC: 1999), p. 114.”Today nearly 1,000 major agricultural pests—including some 550 insect and mite species, 230 plant diseases, and 220 weeds—are immune to pesticides, a development almost unheard of at mid-century.”

17.   Giampietro and Pimentel, Food, Land, Population and the U.S. Economy.

18.   Ibid.

19.   Richard Heinberg, The Party’s Over: Oil, War and the Fate of Industrial Societies (Gabriola Island, BC: New Society Publishers, 2003).

20.   Colin J. Campbell, Peak Oil, Presentation at the Technical University of Clausthal, Germany, December 2000. See page 7 of http://energycrisis.org/de/lecture.html.

21.   Ibid, p. 2.

22.   Adbusters Journal, November–December 2002.

23.   “Animal Waste Pollution in America: An Emerging National Problem,” report of the Minority Staff of the U.S. Senate Committee on Agriculture, Nutrition, and Forestry, December 1997, p. 1.

24.   John Robbins, Diet for a New America, p. 373.

25.   “Scientists Fear Antibiotics Fed to Animals Pollute Streams,” Iowa Farmer Today Online, March 29, 2001.

26.   Elliot Diringer, “In Central Valley, Defiant Dairies Foul the Water,” San Francisco Chronicle, July 7, 1997, p. A1.

27.   According to The Sierra Club’s 2002 “Rap Sheet on Animal Factories,” a report compiled after nearly three years of reviewing state and federal regulatory agencies’ records, “Millions of gallons of liquefied feces and urine seeped into the environment from collapsed, leaking, or overflowing storage lagoons, and flowed into rivers, streams, lakes, wetlands, and groundwater.”

28.   “U.S. Sets New Farm-Animal Pollution Curbs,” New York Times, December 16, 2002.

29.   “Concentrating on Clean Water: The Challenge of Concentrated Animal Feeding Operations,” Iowa Policy Project, April 2005. See also “Report Says Factory Farms Cost Taxpayers,” WOI-TV / Associated Press, April 6, 2005.

30.   “Smogburgers Would Be Out Under Air-Quality Plan,” San Jose Mercury News, September 6, 1994, p. 3B.

31.   C. Spedding, “The Effect of Dietary Changes on Agriculture,” in B. Lewis and G. Assmann, eds., The Social and Economic Contexts of Coronary Prevention (London: Current Medical Literature, 1990), cited in John Robbins, The Food Revolution: How Your Diet Can Save Your Life and the World (Berkeley: Conari Press, 2001), p. 294.

32.   “Diverse Diets, with Meat and Milk, Endanger World Food Supply,” Hearst News Service, March 8, 1997.

33.   Robbins, Diet for a New America, p. 277.

34.   Vasu Murti, They Shall Not Hurt or Destroy: Animal Rights and Vegetarianism in the Western Religious Traditions (Cleveland: Vegetarian Advocates Press, 2003), p. 127.

35.   Marion Nestle, Food Politics (Berkeley: University of California Press, 2002), p. 3.

36.   For an historical analysis of how corporations gradually became the powerful “persons” they are legally and economically today, see David Korten, When Corporations Rule the World (West Hartford, CT: Kumarian Press, 1995).

37.   “Top Ten Drugs of 2001,” Pharmacy Times, April 2002; 68(4), pp. 10–15.

38.   Mickey Z., “Pills a Go-Go,” VegNews, March–April 2003, p. 12.

 

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Pola Makan Perdamaian Dunia