Beranda > Veganisme Organik untuk Menyembuhkan Bumi > Mendinginkan Bumi dan Memulihkan Lingkungan

 

Share

Veganisme Organik untuk Menyembuhkan Bumi

Veganisme akan menyelamatkan bumi kita. Menjalankan pola makan nabati dapat menghentikan pemanasan global hingga 80%, melenyapkan kelaparan dunia, menghentikan perang, dan hal itu akan membebaskan air Bumi serta banyak sumber daya lainnya, menawarkan tali penyelamat bagi planet ini dan bagi umat manusia. Pendek kata, hal itu akan dengan cepat menghentikan banyak masalah global yang kita hadapi sekarang.

Banyak hal dimana kita melihat dampak merusak dari perubahan iklim, seperti mencairnya Arktik, amblasnya tanah, kekurangan air dari gletser yang mencair dan bahkan semakin banyak badai semuanya berkaitan langsung dengan naiknya suhu Bumi, Jadi yang paling utama adalah kita harus mendinginkan planet ini dahulu. Dan cara terbaik untuk menghentikan pemanasan global adalah menghentikan gas rumah kaca yang menghasilkan panas.

Kita telah mengetahui tentang upaya-upaya untuk mengurangi emisi seperti dari industri dan transportasi. Tetapi perubahan di sektor ini membutuhkan waktu terlalu lama – lebih lama daripada yang dapat kita tunggu dengan laju kerusakan saat ini. Salah satu cara yang paling efektif dan tercepat untuk mengurangi panas di atmosfer adalah menghilangkan produksi metana.

Metana tidak hanya memerangkap panas 72 kali lebih besar daripada karbon, ia juga hilang dari atmosfer jauh lebih cepat daripada CO2. Jadi jika kita berhenti menghasilkan metana, atmosfer akan mendingin lebih cepat daripada jika kita berhenti menghasilkan karbon dioksida.

Vegan organik akan menghasilkan efek mendinginkan yang menguntungkan karena hal ini akan memangkas metana dan gas-gas rumah kaca lainnya yang mematikan bagi kelangsungan hidup kita.

Organik, karena kita tidak ingin bahan-bahan kimia berbahaya disemprotkan ke mana-mana, dan masuk ke dalam air kita, meracuni sungai, tanah dan semua kehidupan, serta membuat manusia sakit. Juga organik karena praktik ini akan menyerap sejumlah besar CO2 yang sudah ada di udara, jadi mendinginkan planet kita.

Mendinginkan Bumi dan
Memulihkan Lingkungan

Melenyapkan Metana, Karbon Hitam dan Gas Rumah Kaca Lain

Hewan Ternak — Penghasil Metana Terbesar

Ancaman terburuk bagi kita bukan karbon dioksida, tetapi metana. Dan metana datang dari pemeliharaan hewan ternak.

Kita dapat mulai dengan memangkas penghasil metana terbesar di dunia; yaitu, pemeliharaan ternak. Jadi, cara paling cepat untuk mendinginkan planet ini, kita harus berhenti mengonsumsi daging agar industri ternak berhenti, sehingga menghentikan gas-gas rumah kaca, metana dan gas-gas beracun lain dari industri hewan.

Gas-gas Rumah Kaca dan Potensi Pemanasan Globalnya

Gas-gas rumah kaca

CO2

(karbon dioksida)

CH4

(metana)

N2O

(dinitrogen oksida)

Potensi Pemanasan Global (GWP)*

1

25*

298*

Kadar di atmosfer sebelum era industri

280 ppm

0,715 ppm

0,270 ppm

Kadar di atmosfer pada tahun 2005

379 ppm

1,774 ppm

0,319 ppm

Persentase kontribusi

dari industri ternak**

9%

37%

65%

* Dirata-rata selama 100 tahun, metana dan dinitrogen oksida potensi pemanasan globalnya masing-masing 25 dan 298 kali lebih besar daripada karbon dioksida. Dirata-rata selama 20 tahun, metana 72 kali lebih berdaya. (Satu bagian per juta (ppm) menyatakan satu bagian setiap 1.000.000 bagian.) (IPCC, Penilaian Tahunan Keempat, 2007, Tabel 2.14)

** (Steinfeld et al., Bayangan Panjang Peternakan, 2006)

Jika setiap orang di dunia mau menjalankan praktik pola makan non-hewani yang sederhana tetapi yang paling berdaya ini, maka kita dapat membalik dampak pemanasan global dengan seketika. Sehingga kita akan memiliki waktu untuk benar-benar dapat melakukan langkah-langkah jangka panjang seperti teknologi yang lebih hijau guna menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer juga.

Faktanya, jika kita mengabaikan untuk berhenti memproduksi daging, maka semua upaya-upaya hijau ini tidak akan berpengaruh efeknya, atau kita akan kehilangan planet ini bahkan sebelum kita memiliki kesempatan untuk menerapkan teknologi hijau apa pun seperti pembangkit tenaga angin atau surya atau lebih banyak mobil hibrida, karena alasan itu.

Para peneliti dari NASA baru saja mengumumkan bahwa metana, gas rumah kaca berpotensi besar yang sumber ciptaan-manusia yang terbesar adalah industri ternak, menyerap panas ratusan kali lebih besar daripada karbon dioksida dalam jangka waktu lima tahun.

“Metana memanaskan Bumi 72 kali lebih besar daripada CO2 dalam jangka waktu 20 tahun.” [i]
—Panel Antarpemerintah Urusan Perubahan Iklim

“Metana memanaskan Bumi 100 kali lebih besar daripada CO2 dalam jangka waktu lima tahun.”

“Satu ton metana yang dilepaskan hari ini akan menghasilkan pemanasan lebih besar dalam satu tahun daripada dampak satu ton CO2 yang dilepaskan hari ini hingga tahun 2075.” [ii]
—Dr Kirk Smith, Profesor Kesehatan Lingkungan Global, Universitas California, Berkeley

Harap diingat juga bahwa meskipun peternakan telah dilaporkan menghasilkan 18% emisi gas rumah kaca global, yang nilainya lebih besar daripada gabungan sektor transportasi dunia, ini sebenarnya taksiran yang terlalu rendah karena perhitungan baru-baru ini telah direvisi dan menempatkannya sebagai penghasil lebih dari 50% total emisi global. Saya ulangi: Hewan ternak telah dihitung ulang sebagai penghasil lebih dari 50% total emisi global — lebih dari 50% berasal dari industri ternak. Jadi itu adalah solusi nomor satu. [iii]

Bahaya Hidrat Metana dan Hidrogen Sulfida

Dalam keadaan dingin, [hidrat metana] tetap tertekan [di bawah dasar lautan] dan ada di sana, tidak berbahaya. Tetapi sekarang ketika cuacanya semakin panas, gas-gas ini akan dilepaskan. Mereka sudah dilepaskan ke dalam atmosfer, seperti yang Anda ketahui dari laporan-laporan ilmiah. Lapisan es abadi mencair setiap hari. [iv]

Sudah ada tanda-tanda mendekatnya waktu ini, melalui pengamatan di danau-danau dan di tempat lain yang bergelembung dengan gas metana yang tadinya disimpan dengan aman di bawah permukaan beku Bumi. [v] Tidak seorang pun tahu kapan saatnya jumlah gas metana yang sangat besar yang tak terkendali akan dilepaskan, menyebabkan lonjakan suhu tiba-tiba yang kemudian dapat memicu pemanasan global tak terkendali. Itu adalah bencana bagi kita.

“Es abadi bersifat seperti bom waktu yang menunggu meledak—saat ia terus mencair, puluhan ribu teragram metana dapat dilepaskan ke atmosfer, semakin memanaskan iklim. Sumber metana yang baru diketahui ini tidak dimasukkan ke dalam model-model iklim.” [vi] (satu teragram = satu juta ton)
—Dr. Katey Walters, Ahli Ekologi Ekosistem Air di Universitas Alaska

Jadi, tidak hanya metana yang kita khawatirkan. Ada banyak gas dari lautan. [Contohnya,] hidrogen sulfida diketahui telah melenyapkan lebih dari 90% makhluk hidup di dalam sejarah masa lampau Bumi. [vii]

Tergantung pada kadarnya, hanya sedikit hidrogen sulfida saja dapat menyebabkan iritasi pada berbagai organ tubuh: mata, hidung, tenggorokkan, radang saluran nafas, keguguran tiba-tiba, mengganggu fungsi tubuh, sakit kepala, pusing, muntah, batuk, sulit bernafas, kerusakan mata, kejutan, koma, kematian, dan sebagainya.

Kita bahkan mungkin meninggal karena gas ini, belum lagi berbicara tentang pemanasan global. Saat ini, ada begitu banyak metana sudah dilepaskan ke atmosfer sehingga lebih banyak orang yang mengalami sakit mental atau penderitaan fisik lain, menurut riset para ilmuwan.

Gas metana dapat menyebabkan sakit kepala, kelainan sistem pernafasan dan jantung, dan dalam kadar yang lebih besar, mati sesak nafas. Ini serupa dengan keracunan karbon monoksida. Ini 23 kali lebih mematikan daripada CO2.

Gas-gas Mematikan Lain dari Peternakan

Gas-gas lain yang beracun dan mematikan juga dihasilkan oleh industri ternak. Itu adalah sumber terbesar, yaitu 65% dinitrogen oksida global, gas rumah kaca yang kurang lebih potensi pemanasan globalnya 300 kali lebih besar daripada CO2. Industri ternak menghasilkan 64% seluruh amonia, yang menyebabkan hujan asam dan hidrogen sulfida, gas yang mematikan. Jadi menghentikan produksi hewan ternak adalah melenyapkan semua gas mematikan ini, dan metana juga. [viii]

Dampak Merusak dari Karbon Hitam

Karbon hitam adalah partikel gas rumah kaca yang 680 kali lebih menyerap panas daripada CO2, dan ia menyebabkan lapisan es serta gletser di seluruh dunia bahkan mencair lebih cepat. Hingga 40% emisi karbon hitam datang dari pembakaran hutan untuk produksi hewan ternak.

Para ilmuwan menemukan bahwa 60% partikel karbon hitam di Kutub Selatan dibawa ke sana oleh angin dari hutan-hutan Amerika Selatan yang dibakar untuk membuka tanah bagi produksi hewan ternak. [ix]

Menghentikan Produksi Daging untuk Menghasilkan Efek Pendinginan yang Cepat

Jika kita ingin melihat pendinginan planet kita dalam satu atau dua dasawarsa, adalah lebih efektif untuk mengurangi metana terlebih dahulu. Dan karena sumber terbesar metana di planet ini adalah dari hewan ternak, menjadi vegan adalah cara tercepat untuk mengurangi metana, sehingga menghasilkan pendinginan bagi planet ini, dengan berhasil dan dengan cepat.

Peneliti dari AS dan anggota IPCC Dr. Kirk Smith telah menunjukkan bahwa hanya dalam beberapa tahun laju hilangnya metana melebihi CO2, dan ia hampir lenyap sama sekali dalam satu dasawarsa, tetapi CO2 akan tetap ada memanaskan planet ini selama ribuan tahun! Maka, jika kita ingin mendinginkan Bumi dengan cepat, kita harus melenyapkan gas yang hilang dari atmosfer dengan cepat. [x]

Dengan kata lain, metana merusak lebih banyak dalam jangka pendek, tetapi jika kita menghentikannya, kita akan dapat membalik tren pemanasan global dengan sangat cepat.

Hal terbaik adalah berhenti makan daging, berhenti membunuh hewan, berhenti memelihara hewan ternak. Maka gas metana dan dinitrogen oksida akan berhenti! Dan kemudian kita sudah memangkas sebagian besar pencemar dari udara kita, dan kita menghentikan proses pemanasan global. Sudah saya katakan, 80%-nya akan dihentikan hampir seketika, dan kita dapat melihat hasilnya dalam beberapa minggu.

Melestarikan Lautan

Menghentikan Munculnya Zona Mati

Ada manfaat yang sangat besar yang dapat diperoleh dengan menghentikan produksi hewan ternak. Zona mati lautan, contohnya, terutama disebabkan oleh hanyutnya pupuk dari pertanian yang sebagian besar dipakai sebagai pakan ternak.

Zona-zona mati adalah ancaman serius bagi ekosistem lautan, tetapi mereka dapat dipulihkan kembali jika kita berhenti mencemarinya dari aktivitas yang terkait dengan peternakan kita.

Zona mati yang sangat luas di Teluk Meksiko, seukuran New Jersey, yang mematikan semua kehidupan laut di sana, disebabkan oleh nitrogen yang hanyut dari daerah Midwest, dari kotoran hewan dan pupuk bagi tanaman pakan ternak. Limbah ini beracun. Limbah ini berisi antibiotik, hormon dan pestisida, dan berisi patogen mematikan seperti E. coli dan salmonela yang kadarnya 10 hingga 100 kali dibandingkan kotoran manusia.[xi]

Pada tahun 1995 pernah terjadi kolam kotoran babi yang luasnya delapan ekar jebol di Carolina Utara, memuntahkan 25 juta galon limbah beracun ini, dua kali volume tumpahan minyak Exxon-Valdez yang terkenal. Ratusan juta ikan di Sungai New negara bagian itu mati seketika karena senyawa nitrat dalam limbah itu, dengan dampak berbahaya lebih jauh sampai ke laut. [xii]

“Jumlah zona mati lautan yang terkuras oksigennya telah meningkat dari hanya 49 pada tahun 1960-an menjadi 405 pada tahun 2008.” [xii]
— Robert J. Diaz dan Rutger Rosenberg, Ahli Ekologi Laut Terkemuka

Berhenti Menangkap Ikan dan Memulihkan Kehidupan Laut

Kita sangat membutuhkan ikan di laut demi keseimbangan lautan; jika tidak, kehidupan kita akan terancam.

Menangkap ikan menyumbang kepada pemanasan global terutama dengan mengganggu ekosistem lautan dunia yang kompleks. Ekosistem laut yang seimbang sangat penting, karena lebih dari dua pertiga planet ini tertutup oleh lautan.

Lautan adalah ekosistem yang sangat kompleks dimana setiap makhluk hidup memiliki fungsi yang unik. Jadi, bahkan mengambil seekor ikan kecil untuk dimakan manusia menciptakan ketidakseimbangan di laut. Faktanya, kita telah melihat dampak ketidakseimbangan ini pada mamalia lautan.

Hentikan penangkapan ikan agar kehidupan laut dapat pulih kembali. Karena penangkapan ikan besar-besaran yang menyebabkan ikan sarden lenyap dari pantai Namibia, munculnya gas-gas berbahaya telah menciptakan zona mati yang menghancurkan ekosistem di kawasan itu akibat tidak adanya ikan, satu spesies sederhana tetapi bermanfaat bagi lingkungan, dan berdaya guna.[xiv]

Penangkapan ikan yang berlebihan telah menyebabkan ikan yang tersisa menjadi lebih kecil, sehingga ukuran lubang jala telah diperkecil untuk menangkap ikan yang lebih kecil, menyebabkan ikan lain tertangkap juga. Jadi, hal ini bahkan lebih merusak ekosistem laut dan menghancurkan lebih banyak kehidupan ikan. Ikan-ikan ini digiling sebagai pakan ternak, dipakai sebagai pupuk atau dikembalikan ke laut sebagai ikan mati. Contohnya, untuk setiap ton udang yang ditangkap, tiga ton ikan lain juga terbunuh dan dibuang.

Juga, sebuah kajian di AS mengungkap bahwa babi dan ayam dipaksa untuk memakan ikan dengan jumlah dua kali lipat lebih daripada yang dimakan oleh seluruh orang Jepang, dan enam kali lipat dari jumlah yang dikonsumsi manusia di Amerika Serikat. Sedikitnya sepertiga dari semua ikan di dunia yang ditangkap hari ini bahkan digunakan sebagai pakan ternak, bukan untuk kita manusia.

“Jika berbagai perkiraan yang kita terima ternyata benar, maka kita berada dalam situasi dimana 40 tahun lagi, kita akan kehabisan ikan.” [xv] —Pavan Sukhdev, Ketua Prakarsa Ekonomi Hijau Program Lingkungan PBB

Hilangnya Spesies Lautan secara Global:

Tren Runtuhnya Perikanan Saat Ini

Sumber: B. Worm et al, “Semakin Cepatnya Kehilangan Spesies Lautan Mengancam Kesejahteraan Umat Manusia”, Science, 3 November 2006, http://www.compassonline.org/pdf_files/WormEtAlSciencePR.pdf

Ada kondisi lain yang disebut pengasaman, dimana tidak adanya ikan tertentu telah menyebabkan laut bersifat lebih asam, yang kemudian mengurangi kapasitas lautan untuk menyerap CO2.

Peternakan ikan sama seperti peternakan di darat. Mereka memiliki masalah lingkungan yang serupa, dengan dampak antara lain mencemari badan-badan air. Ikan yang diternakkan dikurung di dalam kawasan berjaring yang luas di lepas pantai dengan sisa-sisa makanan, kotoran ikan, antibiotik atau obat-obatan dan bahan kimia lain yang menyebar ke air laut sekitarnya sehingga hal itu membahayakan ekosistem kita dan mencemari sumber air minum kita.

Jadi, bagi siapa saja yang berpikir bahwa makan ikan tidak terlalu menyebabkan kerusakan lingkungan, mohon memikirkannya lagi. Mengonsumsi produk hewani apa saja berdampak negatif terhadap lautan kita dan dunia kita.

Menghentikan Kekurangan Air

Hewan Ternak: Penggelegak Air Terbesar

“Kita harus mempertimbangkan kembali praktik-praktik pertanian kita dan cara kita mengelola sumber air kita, dengan pertanian dan peternakan bertanggung jawab atas 70% pemakaian air dan hingga 80% penggundulan hutan.”—Ban Ki-moon

Air berarti segalanya bagi keberadaan kita. Kita harus menghemat air, kita harus berbuat apa saja yang mampu kita lakukan. Dan langkah pertama untuk memulainya adalah menjadi vegan, sebab industri hewan memakai lebih dari 70% air bersih di planet kita.

Sementara 1,1 miliar orang tidak mendapatkan air yang aman diminum, kita memboroskan 3,8 triliun ton air bersih yang berharga setiap tahun untuk produksi ternak.

Kita memiliki [lebih dari] enam miliar orang di dunia ini dan sumber air tanah untuk sumur-sumur yang menopang separuh populasi dunia kita, sedang sekarat, sedang mengering. Dan 10 sistem sungai terbesar di dunia sedang sekarat atau menyusut. Dan tiga juta orang kekurangan air.[xvi]

Bahkan jika kita tidak mandi, kita tidak menggosok gigi, penghematannya tidak berarti apabila mereka tidak berhenti makan daging.

Orang Amerika sudah khawatir tentang kekurangan air. Gletser mereka sudah banyak yang mencair. Dan sungai-sungai telah menjadi lebih kering. Dalam beberapa tahun saja, air mungkin bahkan tidak cukup bagi 23 juta orang yang tergantung kepada air untuk bertahan hidup. [xvii]

Pola Makan Vegan Organik: Menghemat Lebih dari 90% Air Dunia

Produksi daging memakai air dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini menghabiskan hingga 1.200 galon air segar dan bersih hanya untuk memproduksi satu hidangan daging sapi. [xviii] Sebaliknya, satu hidangan vegan lengkap hanya membutuhkan 98 galon air. Itu sekitar 90 persen lebih sedikit.

Sumber Data: Marcia Kreith, Pemakaian Air dalam Produksi Makanan California, Yayasan Pendidikan Air, September, 1991 (bagan E3 p28)

Kita dapat menghentikan kekurangan air. Karena kekeringan mengganggu lebih banyak populasi, kita tidak boleh memboroskan air. Maka, jika kita ingin menghentikan kekurangan air dan menghemat air yang berharga, kita harus menghentikan produk-produk hewani.

Melestarikan Tanah

Menghentikan Penggembalaan Berlebihan dan Penggurunan

Sektor peternakan adalah pemakai tanah terbesar oleh manusia dan daya penggerak terbesar di balik pengrusakan hutan hujan.

Kita harus menghentikan perluasan ladang merumput ternak untuk melindungi tanah kita dan melindungi kehidupan kita. Makan rumput berlebihan oleh hewan ternak adalah penyebab utama penggurunan dan kerusakan lain, dan bertanggung jawab atas 50% lebih erosi tanah.

Kita hanya memiliki 30% tanah yang menutupi Bumi. Dari 30% yang berharga ini, sepertiganya digunakan, tidak untuk kelangsungan hidup kita, tetapi untuk padang rumput hewan ternak atau untuk menanam biji-bijian pakan ternak – semuanya untuk memproduksi hanya beberapa potong daging.

Contohnya, sekitar satu miliar ekar atau 80% dari semua tanah pertanian di AS, dan kira-kira setengah dari seluruh tanah di AS dipakai untuk produksi daging. Sebaliknya, kurang dari tiga miliar ekar dipakai untuk menanam semua sayuran di negara itu. [xix]

Di Meksiko, riset baru-baru ini menyatakan bahwa 47% dari tanahnya sudah mengalami proses penggurunan akibat kerusakan oleh industri ternak sapi. [xx] Dan 50 hingga 70% lainnya di negara itu menderita suatu tingkat kekeringan.

Membuka tanah untuk peternakan telah menciptakan ketidakstabilan dan kerusakan tanah serius di seluruh Meksiko. Di wilayah utara Meksiko hampir dua-pertiga tanahnya digolongkan mengalami percepatan erosi atau erosi total. [xxi] Ketika hewan ternak memakan seluruh tumbuhan dan menginjak-injak tanah, apa yang tertinggal adalah tanah keras seperti semen, tidak dapat ditanami apa pun. Ini memperburuk pemanasan global karena lebih banyak karbon dilepaskan dari tumbuhan yang mati dan tanah yang gundul.

Memberantas Kelaparan Dunia

Jika setiap orang menjalankan pola makan nabati, akan ada cukup makanan untuk mengenyangkan 10 miliar orang.

Pemborosan Tanah untuk Memelihara Hewan Ternak

Apakah kita kekurangan makanan?
Berapa banyak orang di dunia yang kelaparan? 1,02 miliar orang.
Setiap lima detik, satu orang meninggal karena kelaparan.
Biji-bijian yang sekarang diberikan sebagai pakan ternak cukup untuk memberi makan hampir dua miliar orang.[xxii] —Julie Gellatley dan Tony Hardle

Sembilan puluh persen dari semua kedelai, 80% dari semua jagung dan 70% dari semua biji-bijian yang ditanam di Amerika Serikat dipakai untuk menggemukkan hewan ternak, sedangkan ini dapat memberi makan sedikitnya 800 juta orang yang kelaparan.[xxiii] Kita memiliki orang-orang yang kelaparan; kita memiliki anak-anak yang sekarat setiap detik sebab kita memakai terlalu banyak tanah, terlalu banyak air, terlampau banyak makanan untuk hewan ternak, bukannya untuk manusia.

Jika kita tidak makan daging, kita akan memakai produk-produk pertanian, sereal, untuk memberi makan manusia daripada diberikan kepada hewan-hewan yang diternakkan di masa depan. Jadi kita tidak memiliki kelaparan lagi, dan tidak akan ada perang lagi karena kelaparan. Dampaknya sangat besar.

Efisiensi Pemakaian Tanah

Sumber Data; USDA; Kelompok Penasihat Protein FAO/WHO/UNICEF, 2004

Butuh antara 6 hingga 12 pon protein nabati untuk menghasilkan 1 pon daging.
Butuh sekitar 1.000 kali lebih banyak air untuk menghasilkan daging daripada untuk memproduksi kentang atau gadum.
Butuh dua hektar tanah untuk menopang satu omnivora.
Butuh 1,2 hektar tanah untuk menopang 20 orang vegan.
Jadi pada dasarnya, butuh 80 kali tanah lebih luas untuk menopang gaya hidup seorang omnivora daripada yang diperlukan oleh seorang vegan. [xxiv] —Gary L. Francione, Profesor Hukum, Sekolah Hukum Universitas Rutgers, AS, seorang Vegan

Selain itu, semakin banyak kita memakai metode pertanian alami, organik, semakin banyak makanan yang kita peroleh, kita menjadi semakin sehat dan juga tanah akan semakin sehat. Dan selanjutnya, tanah akan pulih sehingga kita akan mempunyai makanan berlimpah.

Menghentikan Pembabatan Hutan

Kita harus melarang pembabatan hutan, dan tentu saja kita harus menanam lebih banyak pohon. Di mana ada erosi atau tanah kosong kita harus menanam pohon.

Pembabatan hutan sebagian besar juga didorong oleh produksi daging. Dengan Perserikatan Bangsa Bangsa memperkirakan bahwa penggundulan hutan bertanggung jawab atas 20% dari semua emisi gas rumah kaca, hampir semua pembabatan hutan berkaitan dengan produksi daging. [xxv] Delapan puluh persen hutan Amazon yang dibuka diperuntukkan sebagai wilayah penggembalaan ternak sapi untuk dipersiapkan agar dapat disembelih, dan sisanya ditanami dengan kedelai yang sebagian besar juga dipakai sebagai pakan ternak.

Setiap tahun kita membabat hutan seluas Inggris hanya untuk memelihara hewan. Itu sebabnya planet kita memanas sehingga banyak tempat memiliki masalah dengan banjir dan kekeringan.

Hutan hujan seukuran lapangan sepak bola dirusak setiap detik untuk menghasilkan hanya 250 hamburger.[xxvi]

Kita kehilangan 55 meter persegi hutan hujan untuk setiap potong daging sapi hamburger.[xxvii]

Hutan memainkan peran penting dalam menyerap CO2. Contohnya, hutan di wilayah Barat Laut Pasifik AS mampu menyerap setengah dari semua emisi negara bagian Oregon, AS.

Menurut organisasi lingkungan Greenpeace, delapan persen dari karbon yang berhubungan dengan hutan di Bumi disimpan di hutan hujan yang sangat luas di Cadangan Air Sungai Kongo, Afrika Tengah. Para ilmuwan memperkirakan bahwa berlanjutnya penggundulan hutan Kongo akan melepaskan CO2 yang jumlahnya setara dengan yang dihasilkan Kerajaan Inggris selama 60 tahun terakhir! [xxiii] Jadi, penting untuk melestarikan hutan selagi kita masih dapat melakukannya.

Pohon menarik hujan, memelihara tanah, dan menghentikan erosi. Dan [mereka] memberikan oksigen dan peneduh, dan menjadi rumah bagi teman-teman lingkungan hutan, hewan-hewan, yang pada gilirannya, juga menjaga kelangsungan hidup planet kita dengan cara yang baik, selaras lingkungan.

[Pembabatan hutan] tidak hanya [tentang] perubahan suhu dunia secara permanen, curah hujan dan pola cuaca, yang diatur oleh hutan. Hal itu bukan hanya menyangkut jutaan orang yang mungkin kehilangan mata pencahariannya yang tergantung kepada hutan. Ada lebih banyak hal selain itu. Ada kepunahan spesies tumbuhan dan hewan yang 100 kali lebih cepat daripada yang alami, dan itu merusak ekosistem kita.

Untungnya, kita memiliki solusi yang siap di tangan, yaitu solusi vegan, organik. Kita harus menerima solusi vegan, organik ini sebagai satu-satunya cara untuk menyelamatkan planet kita saat ini.

Tanah untuk penggembalaan ternak dan menanam pakan ternak dapat menjadi hutan yang membantu mengurangi pemanasan global. Selain itu, jika semua tanah subur diubah menjadi tanah pertanian sayuran organik, tidak hanya orang-orang dapat makan kenyang, tetapi hingga 40% dari semua gas rumah kaca di atmosfer dapat diserap. Ini sebagai tambahan dari dihilangkannya 50% lebih emisi yang disebabkan oleh pemeliharaan hewan ternak.[xxix]

Oleh karenanya, kesimpulannya, kita menghilangkan sebagian besar gas rumah kaca yang diciptakan oleh manusia hanya dengan menjalankan gaya hidup vegan, organik, non-hewani.

Menghemat Energi

Biaya Energi dari Produksi Daging

Produksi daging butuh banyak energi dan secara kasar tidak efisien. Untuk menghasilkan satu kilogram daging sapi membutuhkan 169 mega joule (169 juta watt) energi, atau cukup untuk menjalankan sebuah mobil rata-rata di Eropa sejauh 250 kilometer!

Satu bistik seberat enam ons butuh 16 kali lebih banyak energi dari bahan bakar fosil daripada satu hidangan vegan berisi tiga macam sayuran dan nasi.

Sumber Data: Gidon Eshel dan Pamela A. Martin, “Pola Makan, Energi dan Pemanasan Global”, Interaksi Bumi, Vol 10 (2006), kajian No. 9.

Ketua IPCC PBB, Dr. Rajendra Pachauri, lebih lanjut menunjukkan bahwa daging membutuhkan pengangkutan dan penyimpanan berpendingin terus-menerus, penanaman dan transportasi pakan ternak, banyak kemasan, dimasak pada suhu tinggi dan waktu yang lama, dan seluruh limbah hewan yang juga perlu diproses dan dibuang. Produksi daging sangat mahal dan tidak efisien, sangat tidak berkelanjutan sehingga memproduksi daging adalah bisnis yang buruk. [xxx]

Biaya Daging yang Sesungguhnya

Untuk menghasilkan satu pon daging sapi, butuh 2.500 galon air, 12 pon biji-bijian, 35 pon lapisan tanah subur dan energi yang setara dengan satu galon bensin. Jika semua biaya ini dicerminkan dalam harga produk itu, tanpa subsidi, hamburger yang paling murah di AS akan seharga US$35. [xxxi]John Robbins

Memulihkan Keragaman Hayati

Semuanya di atas planet ini, termasuk kita, saling berhubungan, dan kita saling membantu untuk membuat hidup kita nyaman dan Bumi ini dapat ditinggali. Tetapi jika kita tidak mengetahuinya, kita membunuh diri kita sendiri. Setiap kali kita menebang pohon atau membunuh seekor hewan, kita membunuh sebagian kecil dari diri kita sendiri.

Di lautan dan aliran air tawar, begitu banyak spesies ikan sudah lenyap, dengan lingkungan air lengkap seperti terumbu karang terus dirusak oleh praktik seperti pemukatan dan penangkapan ikan dengan bahan peledak. Di atas tanah, konsumsi daging bertanggung jawab atas kawasan sangat luas yang dibuka untuk ladang gembala, misalnya menanam kedelai yang dipakai sebagai pakan ternak.

Dengan kegiatan-kegiatan ini pada dasarnya merampok keragaman hayati kita, sudah ada peningkatan yang mengkhawatirkan atas lenyapnya tumbuhan dan hewan. [xxxii]

Status Ancaman terhadap Spesies dalam Kelompok Taksonomi yang Dinilai Secara Menyeluruh

Sumber: Sekretariat Pelestarian Keragaman Biologi, Garis Besar Keragaman Hayati Global 3, 2010, http://www.cbd.int/doc/publications/gbo/gbo3-final-en.pdf, 28

Membebaskan Sungai-sungai dan Tanah dari Pencemaran

Jika kita benar-benar ingin melestarikan air kita yang bersih dan aman bagi diri kita sendiri dan anak-anak kita, kita harus menghentikan produksi hewan ternak dan menjalankan pola makan nabati.

Badan Perlindungan Lingkungan AS memperkirakan bahwa peternakan, yang sebagian besar digunakan untuk produksi daging, berperan dalam hampir tiga perempat dari masalah pencemaran air di negara ini.[xxxiii] Satu peternakan babi, katakanlah dengan 500.000 ekor babi menghasilkan lebih banyak kotoran setiap tahun daripada 1,5 juta penduduk Manhattan di Kota New York. Di negara bagian Virginia, bahkan peternakan unggas menghasilkan 1,5 kali nitrogen pencemar lebih banyak daripada semua orang yang tinggal di daerah yang sama. Tidak ada undang-undang yang mengatur hal ini.

1,8 juta ekor babi di Irlandia menghasilkan lebih banyak kotoran dibandingkan seluruh 4,2 juta penduduk negara itu!

Karena tanah tidak dapat menyerap semuanya, banyak dari kelebihannya hanyut ke dalam sungai-sungai dan tanah kita. Kita berbicara tentang materi beracun dengan jumlah menakutkan yang menimbulkan sekumpulan masalah mengerikan, termasuk gas beracun seperti hidrogen sulfida dan amonia, sisa-sisa pestisida, hormon, antibiotik dan bakteri seperti E. coli yang dapat, dan telah menyebabkan keracunan makanan dan juga kematian.

Ikut dengan limbah itu adalah pupuk kimia yang hanyut dari tanaman pakan ternak, yang telah didokumentasikan oleh para ilmuwan menyebabkan zona-zona mati serta merebaknya ganggang beracun, lumut hijau yang tumbuh di dalam air itu.

Salah satu peristiwa ini baru saja terjadi di Brittany, Prancis, dimana sebagian besar ternak di negara ini dan sepertiga dari peternakan susu berada. Di pantai Brittany, limbah ini dan bahan kimia yang hanyut masuk ke laut menyebabkan timbulnya ganggang beracun, yang menghasilkan gas hidrogen sulfida yang beracun. Sehingga, baru-baru ini di dalam berita kita mendengar seekor kuda yang mati dalam waktu setengah menit setelah masuk ke dalam ganggang itu dan sekarang kekhawatiran tentang kesehatan 300 orang lebih diselidiki karena hal yang sama di sekitar kawasan tersebut.

Membuat semuanya ini lebih buruk adalah fakta bahwa kotoran hewan sebagian besar tidak diatur, artinya tidak ada yang menghentikan kejadian pencemaran ini yang dapat menyebabkan sakit atau bahkan kematian banyak hewan dan orang.

(Harap lihat Lampiran 9 untuk lebih banyak contoh polusi dari kotoran hewan.)

Mengurangi Biaya Keuangan dan Kesehatan

Menghemat Triliunan Biaya Mitigasi Perubahan Iklim

Para pemimpin khawatir tentang biaya untuk mengurangi perubahan iklim. Namun, berita baiknya adalah, jika dunia beralih menuju pola makan non-hewani, maka kita dapat mengurangi biaya tersebut setengahnya atau lebih. Itu berarti, kita akan menghemat puluhan triliun dolar AS.

Biaya Perubahan Iklim

Kajian Komisi Eropa memperkirakan perubahan iklim dapat menghabiskan biaya hingga US$75 triliun. Kenaikan laut satu meter akan meningkatkan kerusakan harta benda akibat badai sebesar US$1,5 triliun.[xxxiv] — Ilmuwan Lingkungan F. Ackerman dan E. Stanton
Biaya karena tidak melakukan apa-apa dapat mencapai US$176 miliar setiap tahun hingga tahun 2100 bagi Jepang.[xxxv] —Prof. Nobuo Mimura dan rekan-rekan

Penghematan Pola Makan Vegan

Menjalankan pola makan vegan secara global dapat menghapus 80% (US$32 triliun) dari perkiraan biaya US$40 triliun untuk mitigasi perubahan iklim hingga tahun 2050.[xxxvi]—Elke Stehfest dari Badan Penilai Lingkungan Belanda

Meminimalkan Biaya Kesehatan

Risiko kesehatan dari makan daging semakin terbukti sekarang ini. Hewan ternak secara rutin diberi hormon dan antibiotik berlebihan sehingga ketika dagingnya dikonsumsi dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia.

Ada juga racun hasil sampingan di tempat-tempat penyembelihan seperti amonia dan hidrogen sulfida. Zat-zat beracun ini telah menyebabkan kematian di antara para pekerja karena racunnya yang sangat kuat.

Disebut sebagai makanan, daging hanya merupakan makanan yang paling tidak sehat, beracun, tidak higienis yang pernah dicerna oleh manusia. Kita seharusnya tidak makan daging sama sekali jika kita mencintai dan menghargai kesehatan serta hidup kita. Kita akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih bijaksana tanpa daging.

Secara ilmiah daging telah dibuktikan menjadi penyebab segala jenis kanker, juga penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, dan kegemukan. Daftarnya terus bertambah banyak. Semua penyakit ini membunuh jutaan orang setiap tahun, jutaan orang meninggal akibat penyakit yang terkait dengan daging dan membuat jutaan orang lainnya sakit parah dan juga cacat. Sangat banyak tragedi yang disebabkan oleh pola makan daging. Kita seharusnya sudah tahu tentang hal ini sekarang melalui semua bukti ilmiah dan medis.

Kita bahkan belum berbicara tentang kondisi kotor pada kandang tempat hewan-hewan itu dipelihara hingga mereka disembelih; yang mendorong penularan penyakit seperti virus flu babi. Faktanya, sebagian penyakit yang ditularkan melalui daging, seperti penyakit sapi gila pada manusia, menimbulkan kematian tragis dalam setiap kasus. Siapa pun yang tertular penyakit sapi gila pasti akan menemui ajalnya secara memilukan dan menyedihkan. Pencemar lainnya seperti E. coli, salmonela, dan lain-lain juga dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, kerusakan jangka panjang, terkadang bahkan menyebabkan kematian.

Di dalam dunia vegan, tidak akan ada lagi berita menyedihkan tentang anak seseorang yang meninggal karena kerusakan otak atau lumpuh akibat E. coli, bakteri mematikan yang asalnya hampir selalu dari hewan ternak. Tidak akan ada lagi kesedihan karena wabah flu babi yang mematikan, atau penyakit sapi gila, kanker, diabetes, stroke dan serangan jantung, salmonela, Ebola, dll, dll. Bahkan AIDS yang sangat kita takuti juga berasal dari perburuan hewan untuk dimakan. Penyakit-penyakit hewan dari lingkungan peternakan hewan yang kotor, mengerikan bertanggung jawab atas 75% dari semua munculnya penyakit menular manusia.

Bahkan susu, yang telah diberitahukan kepada kita secara resmi sebagai baik untuk kita, sebaliknya adalah racun dan menyebabkan penyakit (dan tentu saja kerugian uang). Ini sebagian contohnya: mikroba bakteri, pestisida, dan enzim yang ditemukan di dalam keju, diolah dari lapisan perut dalam hewan lain; kanker payudara, prostat dan testis dari hormon yang ada di dalam susu; listeria dan penyakit Crohn; hormon dan lemak jenuh menyebabkan osteoporosis, kegemukan, diabetes dan penyakit jantung.

Biaya Kesehatan dari Daging dan Susu

Penyakit pembuluh darah jantung telah menelan biaya $503.000 di AS pada tahun 2010.[xxxvii]
Pengobatan kanker menghabiskan US$6,5 miliar di AS setiap tahun.
Pengobatan diabetes menghabiskan $174 miliar di AS setiap tahun.
Pengobatan individu karena kelebihan berat badan menelan US$93 miliar setiap tahun.[xxxviii]

Mengulur Waktu untuk Teknologi Hijau

Kita tidak dapat memangkas CO2 secepat itu karena kita tidak punya penemuan teknologi lain saat ini untuk menggantikan yang kita miliki sekarang. Berapa banyak mobil listrik yang sudah Anda lihat di jalan-jalan Amerika Serikat? Berapa banyak CO2 yang dipangkas olehnya? Tidak banyak. Tetapi polusi metana datang dari pemeliharaan ternak, jadi jika kita menghentikannya, tidak akan ada pemanasan lagi!

Sudah ada beberapa sains maju untuk menangkap CO2 dan mencampurnya dengan air laut untuk membuat semen. Itu akan mengurangi CO2 yang dipakai oleh metode pembuatan semen lain dan juga mengurangi CO2 baru agar tidak mencemari udara. Tetapi, teknologi baru apa pun masih butuh waktu lama untuk berkembang dan tersedia di pasar.

Bentangan alami dari padang rumput dan hutan lebih efektif dalam menyerap CO2 daripada teknologi penangkap karbon, menurut Program Lingkungan PBB. Selain itu, ini ada risikonya, saya kira. Hal itu belum diuji. Bagaimana jika karbonnya bocor kembali ke dalam atmosfer dengan jumlah berkadar tinggi seperti itu? Ketika kita menangkapnya tahun demi tahun, dasawarsa demi dasawarsa, dan lalu sesuatu terjadi, dan penyimpanan itu bocor, lalu apa yang akan kita lakukan? Jadi, dengan pola makan vegan, kita memakan apa yang paling baik untuk kesehatan kita, untuk para satwa, untuk lingkungan, dan alam akan melakukan sisanya untuk memulihkan keseimbangan dan menyelamatkan dunia kita. [xxxix]


[iii] IPCC, Laporan Pengkajian Keempat (Fourth Assessment Report), 212.

[iii] Kirk Smith, “Metana Mengontrol Sebelum Rekayasa Geologi Beresiko, Tolong (Methane Controls Before Risky Geo-engineering, Please)” New Scientist 2714 (25 Juni, 2009).

[iii] Goodland dan Anhang, “Peternakan dan Perubahan Iklim (Livestock and Climate Change).”

[iv] William Collins, Guru Besar Ilmu Bumi dan Planet, Universitas California, Berkeley, AS telah menunjukkan bahwa perubahan mendadak dalam iklim yang metana timbulkan: "Molekul gas metana yang terkunci dalam kurungan es air merupakan bentuk terkonsentrasi dimana ketika es mencair mereka mengembang hingga 164 kali volume bekunya dan 72 kali lebih kuat daripada karbon dioksida sebagai GRK." Lihat Peter Preuss, "Dampak: Di Ambang Pintu Perubahan Iklim Mendadak." Berkeley Lab News Letter, 17 September, 2008, http://newscenter.lbl.gov/feature-stories/2008/09/17/impacts-on-the-threshold-of-abrupt-climate-change/#hide2008.

[v] Untuk lebih jelasnya mengenai pelepasan metana dari lautan, lihat Cornelia Dean, “Penelitian mengatakan Pelepasan Metana Bawah Laut Sedang Terjadi,” The New York Times, 4 Maret, 2010. http://www.nytimes.com/2010/03/05/science/earth/05methane.html, juga Michael Fitzpatric, “Pelepasan metana 'tampak lebih kuat'”, BBC NEWS, 6 Januari 2010, http://news.bbc.co.uk/2/hi/8437703.stm. Untuk pelepasan metana dari danau, K. M. Walter et al., "Produksi metana dan emisi gelembung dari danau arktik, implikasi isotopik untuk jalur sumber dan umur," Journal of Geophysical Research 113, http://www.fs.fed.us/pnw/pubs/journals/pnw_2008_Walter001.pdf, juga K. M. Walter et al., “Metana yang menggelembung dari Danau Siberia yang mencair sebagai tanggapan positif pemanasan iklim”, Nature (2006) 443. http://www.nature.com/nature/journal/v443/n7107/abs/nature05040.html.

[vi] Katey Walters, “Danau Siberia Bersendawa Gas Rumah Kaca 'Bom Waktu'” Science Daily, 8 September, 2006. http://www.sciencedaily.com/releases/2006/09/060908094051.htm.

[vii] Peter Ward, “Dampak Dari Lautan,” Scientific American, 18 September 2006, http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=impact-from-the-deep&sc=I100322, juga ceramahnya tentang kepunahan massal pada Februari 2008 online di TED, http://www.ted.com/index.php/talks/peter_ward_on_mass_extinctions.html. L.R. Kump, A. Pavlov dan M. A. Arthur, "Pelepasan besar-besaran hidrogen sulfida ke permukaan laut dan atmosfer selama selang waktu anoksia kelautan". Geologi v. 33 (2005), 397–400.

[viii] Para ilmuwan telah menemukan bahwa "industri peternakan [termasuk daging, telur dan susu] bertanggung jawab untuk 65% emisi nitrogen oksida yang disebabkan oleh manusia di seluruh dunia. Lihat Steinfeld et.al., Bayangan Panjang Peternakan (Livestock’s Long Shadow), 114.

[ix] Sejumlah penelitian telah menyebut isu ini, khususnya yang dilakukan oleh Profesor Heitor Evangelista dan rekan-rekan di Universitas Negeri Janeiro di Brasil, Profesor Mark Jackson dari Universitas California di Berkeley, Greenpeace dan Sahabat Bumi. Lihat laporan berita oleh Lauren Morello, "Memangkas Emisi Jelaga Bisa Memperlambat Perubahan Iklim di Arktik," Scientific American, 2 Agustus, 2010. http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=cutting-soot-emissions-may-slow-climate-change-in-the-arctic dan juga oleh Randy Boswell, “Jelaga Merupakan Penyebab Utama Kedua Perubahan Iklim: Studi,” Ottawa Citizen, 1 Agustus 2010. http://www.ottawacitizen.com/technology/Soot+second+leading+cause+climate+change+study/3349011/story.html?cid=megadrop_story#ixzz0vekfEf8s.

[x] Lihat "Wawancara bersama Dr. Kirk Smith, Guru Besar Kesehatan Lingkungan Global di UC Berkeley," Supreme Master TV, 1 Juli, 2008. SupremeMasterTV.com/bbs/tb.php/sos_video/21.

[xi] Monica Bruckner, “Zona Mati Teluk Meksiko,” http://serc.carleton.edu/microbelife/topics/deadzone.

[xii] Diaz dan Rosenberg, "Zona Mati yang Melebar dan Konsekuensi untuk Ekosistem Laut."

[xiii] Dr. Bakun dan rekannya, Dr. Scarla Weeks dari Universitas Cape Town di Afrika Selatan, telah menemukan bahwa penangkapan ikan sarden berlebihan di lepas pantai tenggara Afrika bisa menjadi faktor dalam letusan dua gas beracun - hidrogen sulfida dan metana - dari dasar Laut Atlantik. Hidrogen sulfida menyebabkan bau telur busuk yang menjijikkan yang telah lama menyusahkan (dan membingungkan) warga masyarakat setempat di Namibia, sementara juga meracuni ikan dan menyebabkan zona mati kekurangan oksigen di dalam air. Lihat “Ilmuwan Pew Institute yang Diangkat di Majalah National Geographic “Hari-Hari Aneh di Planet Bumi: Program Utama pada Hari Rabu, 23 April, 9 malam di PBS,” 22 April 2008, http://www.oceanconservationscience.org/press/press-article_archive.php?ID=89.

[xiv] Dari Thomas Lane, “Peringatan Resmi PBB atas Kerugian Perikanan.” BBC News, 21 Mei 2010, http://www.bbc.co.uk/news/10128900.

[xv] David Pimentel, ahli ekologi dan Profesor Emeritus di Universitas Cornell, Amerika Serikat memperingatkan, “Dengan 87% dari total volume air yang digunakan untuk produksi ternak, Amerika Serikat akan segera menjadi negara yang kekurangan air.” Pimentel, “AS bisa memberi makan 800 juta orang dengan biji-bijian yang diberi makan untuk ternak, Ahli Ekologi Cornell menyarankan para ilmuwan hewan,” Cornell Science News, 7 Agustus 1997, http://www.news.cornell.edu/releases/aug97/livestock. hrs.html.

[xvi] Lihat, misalnya, Anne Minard, “Tidak ada gletser lagi di Taman Nasional Gletser pada tahun 2020?” National Geographic News, 2 Maret 2009, http://news.nationalgeographic.com/news/2009/03/090302-glaciers-melting.html.Untuk laporan ilmiah, lihat Moore RD et al, “ Perubahan gletser di Amerika Utara Barat: pengaruh pada hidrologi, bahaya geomorfik dan kualitas air,” Proses Hidrologi 23 (2009), 42-61. DOI: 10.1002/hyp.7162.

[xvii] Sebuah studi klasik tentang topik ini adalah Marcia Kreith, Air Masukan pada Produksi Pangan California, disiapkan untuk Water Education Foundation, Sacramento, CA. 1991. http://www.sakia.org/cms/fileadmin/content/irrig/general/kreith_1991_water_inputs_in_ca_food_production-excerpt.pdf.

[xviii] Marlow Vesterby dan Kenneth S. Krupa, Penggunaan Mayoritas Tanah di Amerika Serikat, 1997 Buletin Statistik No (SB973) September 2001 http://www.ers.usda.gov/publications/sb973/sb973.pdf.

[xix] Lihat Konvensi untuk Melawan Penggurunan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNCCD), “Sepuluh Tahun: PBB Menandai Hari Dunia untuk Memerangi Penggurunan,” 17 Juni 2004, http://www.unccd.int/publicinfo/pressrel/showpressrel.php?pr = press01_06_04.

[xx] Yacov Tsur, Pricing Irrigation Water, 220.

[xxi] Juliet Gellatley dan TonyHardle, Bahtera Sunyi: Menyikap Daging yang Mengerikan (The Silent Ark: A Chilling Exposé of Meat). HarperCollins Publishers Ltd, 1996.

[xxii] Harvey Blatt, Makanan Amerika: Apa yang Tidak Anda Ketahui tentang Apa yang Anda Makan (America’s Food: What You don’t Know about What You Eat). Boston: MIT Press, 2008, 136.

[xxiii] Dari “Ilmu Pengetahuan dan Solusi Pemanasan Global,” Supreme Master Television, Agustus 2008. SupremeMasterTV.com/bbs/tb.php/sos_video/16.

[xxiv] Menurut para ilmuwan IPCC, deforestasi atau pembukaan hutan menyumbang dari 17,4% hingga sepertiga dari emisi gas rumah kaca atmosfer dunia. Lihat IPCC, Laporan Pengkajian Keempat, Laporan Sintetis (Fourth Assessment Report, Synthetic Report), Bagian 2, hal 36 dan Working Group Report, bagian 7, hal 527.

[xxv] John Robbins, Pola Makan untuk Amerika Baru (Diet for a New America), dikutip dari http://whitt.ca/soapbox/vegetarian.html.

[xxvi] Julie Denslow dan Padoch Christine, Penduduk di Hutan Hujan Tropis (People of the Tropical Rainforest: University of California Press), 1988, 169.

[xxvii] Julie Denslow dan Padoch Christine, Penduduk di Hutan Hujan Tropis (People of the Tropical Rainforest: University of California Press), 1988, 169.

[xxviii] Lihat Greenpeace Inggris, “Hutan Kongo di Afrika Tengah,” http://www.greenpeace.org.uk/forests/congo.

[xxix] Sebuah studi oleh Institut Rodale, negara bagian Amerika Serikat, “Meskipun iklim dan jenis tanah mempengaruhi kapasitas penyitaan [CO2], upaya penelitian ini memverifikasi bahwa praktik pertanian organik jika dilakukan pada 3,5 miliar hektar tanah di planet ini bisa menyita hampir 40% dari emisi CO2 saat ini.” Lihat juga Timothy LaSalle dan Paul Hepperly, “Pertanian Organik Regeneratif: Sebuah Solusi untuk Pemanasan Global” (2008), 2. Tersedia online di http://www.rodaleinstitute.org/files/Rodale_Research_Paper-07_30_08.pdf.

[xxx] Dalam sebuah wawancara dengan Supreme Master Television, Profesor Sains Geofisika di Universitas Chicago Dr David Archer menyatakan, “Ini sangat jelas bahwa ketika Anda menanam biji-bijian dan kemudian memberikan kepada hewan dan lalu memakan hewan tersebut, Anda kehilangan 90% dari energi gandum asli, sehingga ini bukan saja Anda memberi makan lebih sedikit orang-orang dari pertanian yang Anda miliki tetapi seperti yang mereka temukan, ini juga membutuhkan lebih banyak energi bahan bakar fosil untuk membuat hal itu terjadi.” Lihat Supreme Master TV, “Ilmu Pengetahuan dan Solusi untuk Perubahan Iklim” Juga, Earth Save International telah meringkas tingginya biaya produksi daging sebagai berikut: “12 pon gandum: membuat delapan roti atau dua piring spaghetti. 55 kaki persegi hutan hujan: Untuk setiap pon daging sapi dari hutan hujan, sekitar 600 pon materi hidup berharga hancur, termasuk 20 sampai 30 spesies tanaman, lebih dari 100 spesies serangga dan puluhan mamaliadan reptil. 2.500 galon air: ini dapat digunakan untuk menanam lebih dari 50 pon buah-buahan dan sayuran “Lihat Earth Save International,” The Hamburger Poster,” http://www.earthsave.org/support/hamburgerSMALL.pdf.

[xxxi] John Robbins, Pola Makan untuk Amerika Baru: Bagaimana Pilihan Makanan Anda Mempengaruhi Kesehatan, Kebahagiaan Anda dan Masa Depan Kehidupan di Bumi. Tiburon: H. J. Kramer, 1987, 367.

[xxxii] Berikut adalah beberapa angka dan statistik. Menurut sebuah studi oleh International Union for the Conservation of Nature, 30% dari mamalia di dunia, burung dan spesies amfibi saat ini terancam punah karena tindakan manusia. Lihat Laporan Pengkajian Ekosistem Milenium (The Millennium Ecosystem Assessment Report), 2005. Lebih dari satu juta spesies akan hilang dalam 50 tahun mendatang. Selain itu, di antara 45.000 spesies yang dipantau oleh IUCN, 40% terancam punah pada tahun 2008. Lihat “Daftar Merah IUCN mengungkap krisis dalam dunia mamalia,” IUCN News release, 6 Oktober 2008.

[xxxiii] Kantor Akuntan Umum AS dulu sekali pernah menetapkan bahwa secara keseluruhan ternak menghasilkan limbah 130 kali lebih banyak dari manusia. Babi menghasilkan tiga kali kotoran dibandingkan yang manusia lakukan, dan sapi menghasilkan 21 kali jumlah limbah yang dihasilkan oleh manusia. Lihat Praktik Managemen Kotoran Hewan Ternak, 1999, http://www.gao.gov/archive/1999/rc99205.pdf.

[xxxiv] F. Ackerman dan EA Stanton, Perubahan Iklim-Biaya Kelambanan: Laporan untuk Sahabat dari Bumi Inggris, Wales dan Irlandia Utara, 2006, http://www.foe.co.uk/resource/reports/econ_costs_cc.pdf. Juga lihat F. Ackerman, Perubahan Iklim: Kesaksian untuk Kongres Majelis Amerika Serikat tentang Energi dan Perdagangan, 2009. http://www.e3network.org/opeds/Ackerman_testimony_April22.pdf.

[xxxv] Dari B. Barrett dan A., Lim, “Jepang menderita biaya besar karena iklim.” OurWorld 2.0 (United Nations University), 30 Juni 2009. http://ourworld.unu.edu/en/japan-examines-costs-of-climate-change.

[xxxvi] Elke Stehfest et.al, “Manfaat Iklim dari perubahan pola makan.” Badan Pengkajian Lingkungan Belanda. 2009. Tersedia online di http://www.pbl.nl/en/publications/2009/Climate-benefits-of-changing-diet.html.

[xxxvii] American Heart Association, Statistik Penyakit Jantung dan Stroke (Heart disease and Stroke Statistics),33. http://circ.ahajournals.org/cgi/content/abstract/CIRCULATIONAHA.109.192667v1.

[xxxviii] Lihat Studi Pusat Pengendalian Penyakit dan Pencegahan, “Diabetes, Sukses dan Peluang Pencegahan dan Pengendalian Berbasis Penduduk: Kilasan 2010” http://www.cdc.gov/chronicdisease/resources/publications/aag/ddt.htm .Juga, F.G. Jansman et al, “Cost considerations in the treatment of colorectal cancer,” Pharmacoeconomics.. Nomor 25 (2007), 537-562.

[xxxix] Bagian-bagian ini diambil dari wawancara Maha Guru Ching Hai dengan wartawan Ben Murnane pada tanggal 7 Juli 2009. Wawancara ini diterbitkan pada 12 Juli 2009 terbitan Irish Sunday Independent, Irlandia, dengan judul, “Sebuah Panggilan Mendesak untuk Selamatkan Planet Kita.”

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Crisis2Peace.org