Beranda > Tanda Peringatan untuk Membangunkan Umat Manusia > Lebih Buruk daripada Skenario Kasus Terburuk

 

Share

Tanda Peringatan
untuk Membangunkan Umat Manusia

Karena keadaan kritis dari planet ini, bila kita tidak bertindak dengan cepat maka kelak tidak ada lagi yang tertinggal untuk kita, bahkan jika kita ingin melindunginya. Pada saat itu mungkin akan terlalu terlambat lagi. Kita tidak dapat terus melanjutkan tren seperti ini selamanya dan berhentilah kapan saja [jika] kita ingin menyelamatkan planet ini. Saya menyesal mengatakan bahwa kita memiliki waktu yang terbatas.

Lebih Buruk daripada
Skenario Kasus Terburuk

Perubahan iklim kita saat ini lebih buruk daripada skenario kasus terburuk yang diperhitungkan oleh Panel Antarpemerintah Urusan Perubahan Iklim PBB (IPCC), dengan kerusakan dan sering kali efek fatal telah terlihat melalui kejadian-kejadian ekstrem seperti topan, banjir, kekeringan, dan gelombang panas.

Sekalipun dunia mengurangi emisi gas rumah kaca, planet ini akan membutuhkan waktu untuk pulih dari gas-gas yang telah berada di atmosfer.

Itulah sebabnya kita perlu berfokus pada gas-gas yang berjangka pendek, yaitu metana. Metana memerangkap paling sedikit 72 kali lebih panas dari CO2, rata-rata di atas jangka 20 tahun. Sumber metana terbesar adalah industri peternakan, yang sungguh merupakan salah satu penyebab tertinggi dari pemanasan global yang harus dihentikan.

Tapi terlebih dahulu, mohon izinkan saya untuk berbagi hanya beberapa bukti terkini tentang akibat dari perubahan iklim terhadap kehidupan manusia dan hewan-hewan.

Pencairan Es di Kutub Utara dan Selatan

Mencairnya Kutub Utara

Arktik, atau Kutub Utara, mungkin akan tanpa es pada tahun 2012, 70 tahun lebih cepat dari perkiraan IPCC. Tanpa perlindungan es untuk memantulkan cahaya matahari, 90 persen dari panas matahari dapat masuk ke air terbuka, yang mempercepat pemanasan global. [i]

Perubahan dalam lapisan es Arktik sangatlah dramatis, dimana ahli iklim mengatakan bahwa hanya 10 persen dari es yang ada sekarang adalah es yang lebih tua dan tebal, sementara lebih dari 90 persennya adalah es yang baru terbentuk dan tipis.[ii]

“Umpan Balik” dan Cepatnya Pemanasan Global

Jika air laut semakin panas, maka es akan mencair lebih cepat. Dan sekali esnya mencair, tidak ada lagi yang memantulkan panas kembali ke angkasa. Maka dari itu, panas itu akan mencairkan esnya dan juga memanaskan airnya lebih lanjut. Dan keduanya akan saling membantu satu sama lain untuk mencairkan lebih banyak es dan semakin memanaskan planet. Anda dapat melihat siklus setan ini.

Karena itu para ilmuwan sebelumnya tidak bisa memprediksinya dengan sangat baik, tetapi mereka sangat waspada sekarang. Mereka mengawasi situasi ini. Hanya saja mereka tidak melakukannya cukup cepat.[iii]

Gambar: Pusat Data Es dan Salju Nasional, http://nsidc.org/arcticseaicenews/index.html

Mencairnya Greenland dan Kutub Selatan

Karena lapisan es raksasa dari Greenland dan Kutub Selatan juga terus mencair, maka bencana naiknya permukaan air laut dan badai yang lebih kuat diperkirakan akan terjadi juga. Jika seluruh lapisan es Kutub Selatan bagian Barat mencair, tingkat permukaan air laut rata-rata global akan naik paling sedikit 3,3; 3,5 meter (10,8 – 11,8 kaki), [iv] mempengaruhi lebih dari 3,2 miliar orang - yang merupakan setengah dari populasi dunia - yang tinggal 320 km dari tepi pantai.

Para ilmuwan Amerika dari Pusat Data Es dan Salju Nasional sekarang mengatakan bahwa jika semua Kutub Selatan mencair, tingkat permukaan air laut bisa naik ke tingkat yang jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan, sebagian bahkan mengatakan akan mencapai 70 meter, yang artinya lebih mematikan bagi semua kehidupan di Bumi. [v]

Proyeksi Kenaikan Level Laut

Gambar: IPCC, Laporan Penakasiran Keempat, 111, gambar 1.

Tanah yang Tenggelam dan Pengungsi Iklim

Karena permukaan air laut terus meningkat, pulau-pulau akan tenggelam seperti yang kita bicarakan, dengan Tuvalu, Tonga dan sekitar 40 pulau lainnya harus merencanakan migrasi bagi seluruh negara mereka.

Sebuah laporan dari Organisasi Internasional untuk Migrasi menyatakan bahwa mungkin ada 200 juta, atau bahkan hingga 1 miliar orang yang akan menjadi pengungsi iklim pada tahun 2050, atau dalam masa hidup kita. [vi] Ini adalah orang-orang yang harus meninggalkan pulau atau rumah mereka yang dekat pantai karena naiknya permukaan air laut atau mencairnya lapisan es yang menyebabkan seluruh komunitas atau negara tenggelam dan runtuh. [vii] (Silakan lihat Lampiran 1 untuk data mengenai naiknya permukaan laut dan dampaknya di seluruh dunia.)

Metana Hidrat: Bom Waktu yang Sedang Berdetik

Perubahan Arktik lainnya adalah mencairnya lapisan es, yang umumnya merupakan lapisan beku di atas Bumi yang berisi simpanan metana [metana hidrat]. Mencairnya lapisan ini di tahun-tahun belakangan ini telah menyebabkan gas metana dilepaskan, dengan tingkat atmosfer yang telah naik dengan tajam sejak tahun 2004. [viii]

Pemanasan global lebih jauh akan melampaui kenaikan dua derajat Celcius yang dapat menyebabkan miliaran ton metana [hidrat dari dasar laut] dilepaskan ke dalam atmosfer, yang dapat mengantar kepunahan massal bagi kehidupan di planet ini.

“Kenaikan temperatur beberapa derajat saja akan menyebabkan gas ini terlepas dan “menggelembung” ke dalam atmosfer, yang akan meningkatkan temperatur lebih lanjut, yang akan melepaskan lebih banyak metana, memanaskan Bumi dan lautan, dan selanjutnya. Ada 400 gigaton metana yang tersimpan di tundra kutub utara yang membeku – cukup untuk memulai reaksi rangkaian ini... Sekali terpicu, siklus ini akan mengakibatkan pemanasan global lepas kendali.” [ix]
Ahli Geologi John Atcheson

Bukan saja kenaikan air yang kita khawatirkan; adalah gas, hidrogen sulfida, dan metana, dan segala jenis gas di dalam laut. [xi] Dan juga semakin banyak es akan mencair bila metana keluar dari lapisan es, dan sebagainya, dan dari lautan juga, serta dari semua peternakan. Dan itu terus bertambah, itu akan bertahan di atmosfer untuk waktu yang lama.

Pada titik tanpa harapan yang akan menggelinding turun nanti; tidak ada lagi perubahan yang dapat dilakukan. Tidak ada yang dapat membantu lagi pada saat itu. Dan mungkin saja tidak ada lagi orang yang selamat, atau mungkin sangat sedikit.

Sekali planet ini hancur, planet ini akan kelihatan seperti Mars, tidak dapat dihuni. Dan itu membutuhkan jutaan tahun, kadang ratusan juta tahun hingga planet ini pulih, bila ia dapat pulih.

Semakin cepat kita berubah, semakin baik, dan kemudian kita dapat menghentikan perubahan iklim. Dan kita dapat memperbaiki planet ini sangat cepat, dalam waktu singkat, tetapi bila kita tidak bisa, maka planet ini akan hancur dengan cepat dan dalam waktu singkat.

Penurunan Gletser dan Kekurangan Air

Dampak dari Penurunan Gletser

Hampir semua gletser di planet ini akan hilang dalam beberapa dasawarsa ini, membahayakan kelangsungan hidup lebih dari dua miliar manusia. Satu miliar manusia ini akan menderita dampak dari kemunduran gletser Himalaya, yang sudah berlangsung dengan gerakan yang lebih cepat daripada tempat lain di dunia, dengan dua pertiga wilayah ada lebih dari 18.000 gletser yang mengalami kemunduran. [xii]

Dampak awal dari pencairan gletser adalah banjir yang merusak dan tanah longsor. Ketika kemunduran es gletser berlanjut, hujan berkurang, maka kekeringan menghancurkan dan kekurangan air adalah akibatnya. [xiii]

Kondisi Menakutkan dari Gletser-gletser di Dunia

Di negara bagian Montana, [AS], gletser di Taman Nasional Gletser yang terkenal juga diperkirakan akan lenyap dalam waktu satu dasawarsa. [xiv] Sungai Colorado [yang tergantung pada salju,] yang memasok air bagi tujuh negara bagian di Barat, akan mengering.[xv]

Peru adalah rumah bagi 70% dari seluruh jangkauan gletser Andean, dengan puncak-puncak yang memasok air dan tenaga air bagi rakyat negara itu. Ini semuanya diduga akan menghilang pada tahun 2015, tinggal beberapa tahun lagi.[xvi]

(Silakan lihat Lampiran 2 untuk lebih banyak info tentang penyusutan gletser global.)

Penangkapan Ikan Berlebihan, Zona Mati, dan Pengasaman Laut

Komisi Pew Perserikatan Bangsa Bangsa yang berbasis di Amerika Serikat menemukan bahwa kegiatan perikanan yang berlebihan adalah ancaman terbesar bagi ekosistem laut, diikuti oleh limbah pertanian, termasuk pupuk dari kotoran ternak dan pupuk yang dipakai pada pakan ternak.[xvii]

Perubahan iklim menciptakan area di laut yang disebut zona mati, yang sekarang jumlahnya lebih dari 400. Zona mati ini muncul karena limbah pupuk yang sebagian besar dari ternak, yang membuat berkurangnya oksigen yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan.[xviii]

Air terpolusi menyebabkan zona mati di pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brasil.

Sumber data: B. Worm et al, "Kehilangan Spesies Laut yang Cepat Mengancam Kesejahteraan Umat Manusia", Science, 3 November 2006, www.compassonline.org/pdf_files/WormEtAlSciencePR.pdf

Para ilmuwan memperkirakan lebih dari 90% ikan besar telah menghilang selama 50 tahun terakhir karena perikanan komersial.[xix]

Mereka mengingatkan bahwa perikanan dalam skala sekarang ini, akan menimbulkan kehancuran global di tahun 2050 untuk semua spesies ikan karena telah dipancing dan mengatakan bahwa usaha pemulihan perlu segera dimulai.[xx]

Kekurangan jenis ikan tertentu akan menyebabkan tingkat keasaman laut yang lebih tinggi, yang pada akhirnya mengurangi kapasitas laut dalam menyerap CO2.

Paus dan lumba-lumba menjauh dan terdampar dari laut karena situasinya bertambah buruk; hal ini mencekik mereka. Terkadang jumlahnya ada ratusan dalam sekali, mereka sekarat di pantai karena mereka tidak dapat menoleransi lagi keadaan air laut yang beracun.[xxi]

Kondisi Cuaca yang Ekstrem

Dasawarsa yang lalu paling sedikit terjadi dua kali rekor rata-rata suhu terpanas tahunan yang pernah dicatat dalam sejarah planet kita. Tahun 2003, suatu gelombang panas rekor menghantam Eropa yang merenggut korban puluhan ribu nyawa. Gelombang panas juga membuat kebakaran hutan terburuk dalam sejarah Australia.[xxii]

Negara Bagian Puebla [di Mexico] telah mengalami jumlah kebakaran hutan yang meningkat pada beberapa tahun belakangan ini; curah hujan menurun sejumlah 200 liter per meter persegi; [telah terjadi] peningkatan suhu rata-rata tahunan pada 17,5 derajat celsius. Temperatur musim dingin sekarang juga di atas normal.

Dalam 6 tahun terakhir, Peru mendapat sedikitnya 3 kejadian temperatur ekstrem dan banjir yang mempengaruhi lebih dari 500.000 orang. Hanya dalam 30 tahun, banjir meningkat 60% dan aliran lumpur meningkat sejumlah 400%.[xxiii] [Warga Peru] Presiden Garcia mengumumkan keadaan darurat di tahun 2009 karena hal yang berhubungan dengan perubahan iklim, kondisi dingin dan membeku yang sangat buruk di Andes Selatan yang menyebabkan kematian hampir 250 anak-anak, juga menyebabkan lebih banyak penyakit lainnya.[xxiv]

(Silakan lihat Lampiran 3 untuk data terbaru mengenai kondisi cuaca global yang ekstrem.)

Iklim tidak hanya didefinisikan sebagai temperatur rata-rata dan kelembaban tetapi juga sebagai tipe, frekuensi, dan intensitas kejadian cuaca. Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia memiliki potensi untuk mengubah frekuensi dan beratnya kondisi ekstrem seperti gelombang panas, gelombang dingin, badai, banjir, dan kemarau. [xxv]
Agen Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat

Meningkatnya Frekuensi Bencana Alam

Kemarau, Penggurunan dan Kebakaran Alam

Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa, penggurunan, yang sering terjadi karena penebangan pohon yang terlalu banyak dan kerusakan yang timbul karena kegiatan seperti penggembalaan ternak, berdampak bagi kesejahteraan lebih dari 1,2 miliar orang di lebih dari 100 negara yang terancam. [xxvi]

Persediaan air segar yang berharga juga mengering, seperti perairan di kota-kota utama Beijing, Delhi, Bangkok, dan puluhan wilayah lainnya seperti Barat Tengah Amerika Serikat. Sementara Sungai Jordan, Nil, dan Yangtze sudah berkurang selama bertahun-tahun.

Kekeringan terburuk di China selama lima dasawarsa ini, panen-panen penting gagal di sedikitnya 12 provinsi bagian utara, merugikan negara itu hingga miliaran dollar AS untuk membantu para petani yang merugi akibat kekeringan.[xxvii]

Di tahun 2009, di Nepal dan Australia, kebakaran alam semakin diperburuk oleh keadaan kemarau. [xxviii] Di Afrika, penduduk di Somalia, Etiopia, dan Sudan, menyebutkan hanya beberapa - telah dilumpuhkan karena kekeringan.

Para peneliti mengatakan Amerika Serikat Barat menghadapi krisis kemarau yang hebat karena salju dari pegunungan melepaskan banyak persediaan air.

(Silakan lihat Lampiran 4 untuk informasi tentang bencana kemarau besar global dan kebakaran alam.)

Meningkatnya Frekuensi Badai dan Banjir

Intensitas dan lamanya angin topan dan badai tropis tercatat meningkat sebesar 100% selama lebih dari 30 tahun yang lalu, dimana para ilmuwan di Institut Teknologi Massachusetts (MIT) di AS mengatakan hal itu mungkin saja karena peningkatan suhu di lautan berhubungan dengan iklim.

Menurut peneliti Institut Teknologi Georgia, Amerika Serikat, di seluruh dunia jumlah badai yang paling merusak dalam kategori 4 dan 5 telah berlipat ganda dalam 35 tahun yang lalu. Badai berkategori 5 menyebabkan kerusakan yang paling parah di kota-kota utama. Intensitas dan lamanya juga bertambah hingga 75% sejak tahun 1970-an.

Salah satu dari badai ini, yang dampaknya masih dapat dilihat dan dirasakan, adalah Badai Katrina di tahun 2005, yang menghancurkan terutama, wilayah New Orleans, dan orang-orang hari ini masih dalam tahap mengembalikan rumah dan kehidupannya.

Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS mengatakan bahwa untuk pertama kalinya sejak dicatat, di tahun 2008 secara berurutan diterpa enam angin siklon tropis yang membuat tanah runtuh di wilayah utama Amerika Serikat.

Lautan Atlantik Utara dan Samudra India adalah dua wilayah dengan tren badai terkuat.

(Silakan lihat Lampiran 5 untuk data bencana banjir global besar.)

Bantuan bencana Asosiasi Internasional Maha Guru Ching Hai di Pakistan, 2010

Bantuan bencana Asosiasi Internasional Maha Guru Ching Hai di Haiti, 2010

Gempa Bumi

Para ilmuwan telah menemukan bahwa gempa bumi terkait dengan pemanasan global karena ketika es mencair di kutub dan di bawah Greenland, tekanan pada lempengan bumi bergeser yang dapat memicu pergerakan penyebab gempa bumi.

Salah satu bencana paling tragis di zaman kita adalah tsunami [yang diakibatkan oleh gempa bumi] yang memukul [Indonesia] di tahun 2004 yang menyebabkan begitu banyak kesedihan bagi penduduk Indonesia dan dunia.

(Silakan lihat Lampiran 6 untuk data terbaru tentang bencana gempa bumi.)

Serangan Serangga

Di Amerika Serikat, hampir satu juta ekar hutan pinus telah hilang di Pegunungan Rocky karena serangan serangga dari pemanasan global. [Situasi] sama juga di Kanada.

Penebangan Hutan

Hutan hujan adalah paru-paru planet kita. Karena pohon-pohon berjatuhan dan tumbuhan terekspos serta kering, tanaman ini bahkan mengeluarkan karbon bukan menyerapnya. Ini adalah bahaya lain yang menyerang kita.

Di Brasil, 90% daratan ditebangi sejak tahun 1970 untuk lahan peternakan atau menanam pakan ternak. [xxix] Hutan lebat telah diubah menjadi lapangan tandus dengan tingkat kecepatan 36 lapangan sepak bola per menit, sedang dihancurkan saat kita sedang berbicara saat ini. [xxx]

Dan di Meksiko bagian Selatan, hutan tropis yang dulunya menutupi hampir separuh Negara Bagian Tabasco telah dikurangi menjadi lebih kecil dari 10% ukuran semula. Pada saat yang sama, lahan untuk penggembalaan ternak telah meningkat menjadi 60% dari jumlah total luas negara bagian itu. [xxxi]

Juga di negara seperti Argentina dan Paraguay, semakin banyak hutan yang ditebang untuk peternakan atau ladang kedelai. Argentina telah kehilangan 70% dari luas hutan aslinya. [xxxii]

Indonesia memiliki hutan hujan terbesar ketiga, hanya di belakang Amazon dan Kongo. Namun hutan hujan Indonesia hilang pada tingkat yang mengkhawatirkan, satu lapangan sepak bola setiap menit. Perserikatan Bangsa Bangsa mengatakan bahwa 98% dari keseluruhan hutan dapat hilang hanya dalam waktu 15 tahun. [xxxiii]

Hutan hujan Amazon sendiri mengandung lebih banyak karbon dioksida melebihi gas rumah kaca yang diproduksi oleh manusia selama 10 tahun. Ditambah lagi jika kita membakar hutan, kita melepas karbon hitam, yang merupakan partikel serbuk yang memerangkap panas 680 kali dibandingkan dengan CO2 dalam jumlah yang sama. [xxxiv]

Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Para ahli ekologi terkemuka mengatakan bahwa penyusutan margasatwa karena punahnya spesies begitu cepat sehingga tidak ada perbandingannya di zaman modern ini. Para ilmuwan juga meramalkan bahwa 16.000 spesies di Bumi yang terancam dapat punah 100 kali lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Ahli biologi terkemuka Harvard Edward O Wilson, dan ilmuwan lainnya, memperkirakan tingkat kepunahan yang benar sepertinya 1.000 sampai 10.000 kali jumlah awal. Antara 2,7 dan 270 spesies terhapus keberadaannya setiap hari. [xxxv]
Julia Whitty

20% - 40% dari spesies organisme di Bumi kemungkinan akan hilang selama abad ini karena pemanasan global saja, tanpa memperhitungkan faktor lain yang mempengaruhinya. [xxxvi]
Panel Antarpemerintah Urusan Perubahan Iklim PBB

Kekurangan Air

Menurunnya persediaan air telah menyebabkan meningkatnya tekanan dan konflik yang meledak karena banyak orang, termasuk para petani yang dirugikan, tidak memiliki cukup air atau berjuang untuk mendapatkan bagiannya.

Ada puluhan ribu sungai atau danau yang mati di seluruh dunia. Manusia mati karena kekeringan. Orang-orang meninggalkan desanya, kota kelahirannya karena mereka tak memiliki air untuk diminum. [xxxvii]

Satu miliar orang tidak memiliki air yang bersih dan aman. Dan 1,8 juta anak meninggal setiap tahun karena sakit yang disebabkan oleh air yang terkontaminasi. [xxxviii]

Kekurangan Pangan

Perserikatan Bangsa Bangsa mengumumkan bahwa seperti di tahun 2009, dunia sekarang melihat jumlah orang kelaparan yang terbanyak dalam 4 dekade. Ada 1,02 miliar orang di dunia yang tidak memiliki cukup makanan. [xxxix]

Di Peru, karena panas dan kekeringan yang berlebihan selama 12 tahun terakhir, 140.000 hektar ladang kentang dan jagung rusak – sama dengan jumlah makanan yang dapat memberi makan 11 juta orang.

[Di Afrika,] Zimbabwe, Somalia, Mauritius, Mozambik, dan Sudan – hanya menyebut beberapa – mengalami kemarau yang semakin buruk yang membuat semakin sulit untuk menanam tanaman pangan, ini menambah kekurangan pangan dan harga yang meningkat.

Sebagai tambahan, penggurunan dan penggundulan yang lebih jauh terus merusak tanah. Peningkatan temperatur berarti curah hujan yang tak dapat diandalkan – dapat menjadi terlalu sedikit atau terlalu banyak pada satu waktu tertentu – sehingga kita mendapatkan banjir yang menghancurkan dan kebakaran yang membakar hutan.

Dampak dari perubahan iklim meningkatkan ketidakamanan pangan dan krisis pangan.

(Silakan lihat Lampiran 7 untuk data perubahan iklim dan kekurangan pangan di seluruh dunia.)

Kesehatan Manusia

Orang-orang Menderita Karena Perubahan Iklim

Menurut penelitian dari Swedia, perubahan iklim sudah bertanggung jawab atas 315.000 kematian per tahun, dengan 325 juta orang lainnya yang terkena dampak parah. [xv] Hal ini menambah kerugian ekonomi sebesar US$125 miliar setiap tahun. [xvi] Yang paling terkena dampak buruknya adalah negara-negara berkembang di Afrika, serta wilayah lain yang sangat terancam di Asia Selatan dan negara-negara kepulauan kecil.

Selain itu, 99% dari orang-orang yang kehilangan nyawanya akibat bencana alam berada di Asia.

Penyakit-penyakit yang Disebarkan oleh Serangga

Nyamuk sebagai penyebab demam berdarah sekarang dialami untuk pertama kalinya di Piura [Peru], dimana mereka menyebar ke daerah baru akibat perubahan iklim.[xvii]

Ada juga peningkatan risiko penyakit-penyakit seperti malaria karena nyamuk menyebar ke ketinggian yang lebih tinggi. PBB mengkhawatirkan ratusan juta orang di Afrika berada dalam bahaya.

(Silakan lihat Lampiran 8 untuk kutipan dari Enam Derajat: Masa Depan Kita di Planet yang Semakin Panas oleh Mark Lynus.)


[i] Ilmuwan iklim NASA Jay Zwally menggambarkan urgensi dari situasi ini sebagai berikut: Lautan Arktik bisa hampir bebas-es pada akhir musim panas 2012, jauh lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya." Lihat "Es Arktik 'bisa lenyap dalam lima tahun.'" The Telegraph, 12 Desember, 2007. http://www.telegraph.co.uk/earth/earthnews/3318239/Arctic-ice-could-be-gone-in-five-years.html.

[ii] Para ilmuwan dari Pusat Data Es dan Salju Nasional telah menemukan bahwa pada tahun 2009, es yang lebih tua dari dua tahun tercatat kurang dari 10% dari lapisan es pada akhir bulan Februari. Lihat “Es lautan Arktik Semakin Muda, Semakin Tipis Sementara Musim Pencairan Dimulai,” di Berita dan Analisa Es Arktik, 6 April, 2009, http://nsidc.org/arcticseaicenews/2009/040609.html.

[iii] Direktur Pusat Data Es dan Salju Nasional, Dr. Mark Serreze menyatakan, "Kita bisa meluncur ke bawah dengan cepat dalam hal melewati titik kritis. Prosesnya sedang terjadi saat ini. Kita melihat sekarang sedang terjadi,” dikutip dalam R. Black, “Es Arktik berada di titik kritis.” BBC News 28 Agustus 2008, http://news.bbc.co.uk/2/hi/7585645.stm Pusat Data Es dan Salju Nasional di AS juga mencatat, "Es lautan Arktik secara umum mencapai luas minimum tahunannya pada pertengahan September. Bulan Agustus [2010] ini, luasnya es adalah yang terendah kedua dalam rekaman satelit, setelah tahun 2007. Pada tanggal 3 September 2010, luasnya es turun di bawah minimum musiman untuk tahun 2009 untuk menjadi yang terendah ketiga dalam rekaman satelit. Celah Timur Laut dan Rute Laut Utara secara luas bebas es, memungkinkan potensi untuk pelayaran mengelilingi Lautan Arktik. Silakan lihat “Pembaharuan luas es laut Arktik minimum,” 27 September 2010, http://nsidc.org/arcticseaicenews/index.html.

[iv] Jonathan L. Bamber, “Penilaian kembali Potensi Naiknya Permukaan Laut karena Runtuhnya Lapisan Es Antartika Barat (Reassessment of the Potential Sea-Level Rise from a Collapse of the West Antarctic Ice Sheet).” Sains 15 Mei 2009 324: 901-903 [DOI: 10.1126/science.1169335] (dalam Artikel Riset).

[v] Dari AS Survei Geologi, “Siklus Air: Penyimpanan Air dalam Es dan Salju.” Tersedia online di http://ga.water.usgs.gov/edu/watercycleice.html.

[vi] Organisasi Internasional untuk Migrasi, “Migrasi, Perubahan Iklim, dan Degradasi Lingkungan: Hubungan Kompleks.” Tersedia online di http://www.iom.int/jahia/Jahia/complex-nexus.

[vii] Pada Konferensi Ketiga Pihak UNFCCC yang diadakan di Kyoto, Jepang, Yang Mulia Maumoon Abdul Gayoom Maladewa menyerukan para pemimpin dunia untuk menyampaikan pesan perubahan iklim sebagai berikut: Maladewa merupakan salah satu negara kecil. Kami bukan dalam posisi untuk mengubah haluan kejadian di dunia. Tetapi apa yang Anda lakukan atau tidak lakukan di sini akan secara besar memengaruhi nasib rakyat saya. Itu juga bisa mengubah haluan sejarah dunia."

[viii] Universitas Alaska, Fairbanks, “Metana Menggelembung dari Danau Arktik, Saat Ini dan Pada Akhir Jaman Es yang Terakhir,” Harian Sains, 26 October, 2007, http://www.sciencedaily.com/releases/2007/10/071025174618.htm. Juga lihat “Para Ilmuwan Menemukan Tingkat Metana yang Bertambah di Lautan Arktik,” Science Daily, 18 Desember, 2008, http://www.sciencedaily.com/releases/2008/12/081217203407.htm . Dalam beberapa laporan baru para ilmuwan telah mendokumentasikan pelepasan metana yang intens dari wilayah dasar laut dekat Siberia Timur, Rusia, dan Spitsbergen. Lihat, sebagai contoh, Judith Burns, “Gas metana merembes dari dasar laut Arktik,” BBC News, 19 Agustus 2009, http://news.bbc.co.uk/2/hi/8205864.stm, dan Steve Connor, "Eksklusif: Bom Waktu Metana,” The Independent, 23 September 2009, http://www.independent.co.uk/environment/climate-change/exclusive-the-methane-timebomb-938932.html.

[ix] Lihat John Atcheson, “Bom Waktu yang Berdetak,” Baltimore Sun, 15 December, 2004, dari http://www.commondreams.org/views04/1215-24.htm.

[x] Dalam sebuah wawancara bersama Supreme Master Television, Dr. Gregory Ryskin dari Universitas Northwestern membicarakan risetnya yang mengindikasikan bahwa 250 juta tahun yang lalu ledakan metana dari lautan menyebabkan kepunahan 90% spesies laut dan 75% spesies darat, menambahkan, "Jika itu pernah terjadi, itu bisa terjadi kembali." Lihat Supreme Master TV, "NASA mengenai Perubahan Iklim," 9 Maret, 2008. SupremeMasterTV.com/bbs/tb.php/featured/108.

[xi] Sebagai contoh, dalam sebuah wawancara dengan Supreme Master Television, Ahli Es India Dr. Jagdish Bahadur membicarakan hubungan antara penyusutan gletser dan bencana seperti halnya banjir dan kekeringan sebagai berikut: "Gletser Himalaya pada umumnya menyusut dan seperti di tempat lain di planet ini karena pemanasan global. Pencairan yang berlanjut pada kecepatan saat ini akan berakibat dalam banjir besar. Dengan segera ketika gletset menyusut mereka melepaskan lebih banyak air, diikuti oleh kekeringan parah." Supreme Master TV, "Gletser Himalaya Menghilang," 25 Maret, 2009. SupremeMasterTV.com/bbs/tb.php/sos_video/83.

[xii] Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, “Kejadian Ekstrem,” http://www.epa.gov/climatechange/effects/extreme.html .

[xiii] Anne Minard, “Tidak Ada Lagi Gletser di Taman Nasional Gletser pada Tahun 2020?” Berita National Geographic, March 2, 2009, http://news.nationalgeographic.com/news/2009/03/090302-glaciers-melting.html.

[xiv] Universitas Colorado di Boulder, “Pasokan Air Bagian Barat Terancam oleh Perubahan Iklim: Iklim yang memanas bisa menghabiskan waduk di Lembah Sungai Colorado pada pertengahan abad ini.” Juli 2009, http://geology.com/press-release/colorado-river-water-supply.

[xv] “Hilangnya Gletser Andes Mengancam Pasokan Air,” Tehran Times, 28 November, 2007, http://www.tehrantimes.com/index_View.asp?code=158041.

[xvi] Komisi Laut PEW, Lautan Hidup Amerika: Memetakan Arah untuk Perubahan Laut: Laporan untuk Negara, 2003. Tersedia online di http://www.pewtrusts.org/our_work_detail.aspx?id=130.

[xvii] Diaz, R J. dan R. Rosenberg, "Zona Mati yang Meluas dan Konsekuensi untuk Ekosistem Laut (Spreading Dead Zones and Consequences for Marine Ecosystems)," Science, Vol. 321. no. 5891 (2008): 926 – 929.

[xviii] "Stok Ikan Besar Turun 90 Persen Sejak 1950, Penelitian Mengatakan," National Geographic News 15 Mei 2003, http://news.nationalgeographic.com/news/2003/05/0515_030515_fishdecline.html.

[xix] "Ikan Laut Bisa Lenyap pada tahun 2050," Discovery News 17 Mei, 2010, http://news.discovery.com/earth/oceans-fish-fishing-industry.html.

[xx] Robert McClure, "Orca Mati adalah ‘Genting,’" Seattle Post Intelligencer, 7 Mei, 2002, http://www.seattlepi.com/local/69418_whale07.shtml.

[xxi] Sebagai contoh kebakaran semak-semak Sabtu Kelam yang membakar di sepanjang negara bagian Victoria Australia pada hari Sabtu, 7 Februari 2009 menghasilkan kematian tertinggi negara ini karena kebakaran semak-semak. 173 orang meninggal sebagai akibat dari kebakaran tersebut dan 414 luka-luka. http://www.news.com.au/national/bushfire-death-toll-revised-down/story-e6frfkvr-1225697246725.

[xxii] Bank Dunia, Keberlanjutan Lingkungan Republik Peru: Kunci bagi Pengurangan Kemiskinan di Peru. Analisis Lingkungan Negara. Departemen Pembangunan Berkelanjutan Lingkungan dan Sosial. Amerika Latin dan Daerah Karibia. Washington DC, 2007. Juga lihat Bank Dunia, "Aspek Perubahan Iklim dalam Pertanian: Catatan Negara Peru (Climate Change Aspects in Agriculture: Peru Country Note)" Januari 2009, hal. 3, http://siteresources.worldbank.org/INTLAC/Resources/257803-1235077152356/Country_Note_Peru.pdf.

[xxiii] "Anak-Anak Meninggal Dunia di Musim Dingin Peru yang Ganas," BBC News, 12 Juli 2009, http://globalfreeze.wordpress.com/category/south-america.

[xxiv] Badan Perlindungan Lingkungan AS, "Perubahan Iklim - Pengaruh Kesehatan dan Lingkungan: Kejadian Ekstrem," http://www.epa.gov/climatechange/effects/extreme.html.

[xxv] "Tiga Puluh Delapan Persen Permukaan Bumi dalam Bahaya Penggurunan" Science Daily, 10 Februari 2010, http://www.sciencedaily.com/releases/2010/02/100209183133.htm.

[xxvi] "Kekeringan menyebabkan kelangkaan air bagi lima juta orang di China," Earth Times, 23 Agustus 2009, http://www.earthtimes.org/articles/news/282501,drought-causes-water-shortage-for-5-million-people-in-china.html.

[xxvii] "Angka Kematian Kebakaran Australia Mencapai 200," CBC News, 17 Februari, 2009, http://www.cbc.ca/world/story/2009/02/17/australia-wildfires.html.

[xxviii] "Apakah Deforestasi?" Rencana Mata Kuliah oleh Lisa M. Algee, mahasiswa PhD Pendidikan Lingkungan, Universitas Kalifornia di Santa Cruz, http://kids.mongabay.com/lesson_plans/lisa_algee/deforestation.html.

[xxix] Dana Margasatwa Dunia, "Pembabatan Hutan," http://wwf.panda.org/about_our_earth/about_forests/deforestation.

[xxx] Yacov Tsur et. al., Harga Air Irigasi: Prinsip dan Kasus dari Negara Maju (Pricing Irrigation Water: Principles and Cases from Developing Countries), Washington: Resource for the Future, 2004, 220.

[xxxi] Berita Kawat, "Argentina telah kehilangan hampir 70% dari hutannya dalam seabad," France 24, 1 Oktober 2009, http://www.france24.com/en/20090926-argentina-lost-major-part-forests-century-soy-crops-environment.

[xxxii] Rhett A. Butler, "98% Habitat orangutan lenyap dalam waktu 15 tahun ke depan," Mongabay.com 11 Juni 2007, http://news.mongabay.com/2007/0611-indonesia.html. Lihat juga UNEP, Akhir dari Orangutan, tersedia online di http://www.unep.org/grasp/docs/2007Jan-LastStand-of-Orangutan-report.pdf.

[xxxiii] Bicara lebih banyak mengenai karbon hitam. Cukup untuk dicacat di sini bahwa para ilmuwan dari Institut Penelitian Ruang Angkasa Goddard NASA dan Drew Shindell dan Greg Faluvegi dari Universitas Columbia telah menemukan karbon hitam merupakan perantara individu terbesar kedua atau ketiga setelah metana dan CO2, dan bertanggung jawab bagi 50% pencairan Arktik. Lihat Drew Shindell dan Greg Faluvegi, "Respon iklim untuk daerah yang radiatif mendorong pada abad dua puluh.." Nature Geoscience 2 (April 2009), 294–300. Sama halnya, Noel Keenlyside, peneliti iklim di Institut Ilmu Kelautan Leibniz di Jerman menunjukkan, "Di wilayah Arktik dan Antartika, endapan karbon hitam pada salju dan es menyebabkan permukaannya menyerap lebih banyak panas matahari." Noel Keenlyside, " Atmospheric science: Clean air policy and Arctic warming" Nature Geoscience 2, (2009): 243 - 244. Ringkasan online di www.nature.com/ngeo/journal/v2/n4/full/ngeo486.html.

[xxxiv] Julia Whitty, "Kepunahan Hewan: Ancaman Besar untuk Umat Manusia." The Independent 30 April, 2007. http://news.mongabay.com/2007/0611-indonesia.html.

[xxxv] IPCC (Panel Antar-Pemerintah untuk Perubahan Iklim). Laporan Penilaian Keempat: Perubahan dalam Konstituen Atmosfer dan dalam daya radiasi, 2007, 212. Tersedia online di http://www.ipcc.ch/pdf/assessment-report/ar4/wg1/ar4-wg1-chapter2.pdf.

[xxxvi] Untuk lebih jelasnya, silakan lihat penelitian Forum Kemanusiaan Global, "Perubahan Iklim Laporan Pengaruh pada Manusia: Anatomi Sunyi." Tersedia di http://www.eird.org/publicaciones/humanimpactreport.pdf.

[xxxvii] Kevin Watkins. Laporan Perkembangan Manusia 2006: Melampaui Kelangkaan: Kekuasaan, Kemiskinan dan krisis air global, Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, 2006, 20, 23. http://hdr.undp.org/en/reports/global/hdr2006.

[xxxviii] FAO,"1,02 Miliar Orang Kelaparan – Seperenam Umat Manusia Kekurangan Gizi – Lebih dari Sebelumnya," FAO Media Center, 19 Juni 2009 http://www.fao.org/news/story/0/item/20568/icode/en.

[xxxix] Megan Rowling, "Perubahan Iklim Menyebabkan 315.000 kematian dalam setahun laporan." Reuters, 29 Mei, 2009, http://www.reuters.com/article/idUSLS1002309.

[xv] Ibid.

[xvi] "Kementrian Kesehatan Peru Memperingatkan kemungkinan demam berdarah di Lima, mendesak pada pencegahan," Andean Air Mail dan Peruvian Times, 2 Maret 2009, http://www.peruviantimes.com/peru-health-ministry-warns-of-possible-dengue-fever-in-lima-insists-on-prevention/021936.

[xvii] Diterima secara luas bahwa paksaan pemanasan global yang meningkatkan banjir dan kekeringan meningkatkan penyebaran epidemi di wilayah yang tidak siap untuk penyakit tersebut. Sebagai contoh, sebuah laporan Washington Post baru-baru ini manyatakan, "Malaria mendaki gunung mencapai populasi di dataran lebih tinggi di Afrika dan Amerika Latin. Kolera tumbuh di laut yang lebih hangat. Demam berdarah dan penyakit Lyme bergerak ke utara. Virus Nil Barat, tidak pernah terlihat di benua ini hingga tujuh tahun lalu, telah menginfeksi lebih dari 21.000 orang di Amerika Serikat dan Kanada dan membunuh lebih dari 800 orang. Organisasi Kesehatan Dunia telah mengidentifikasi lebih dari 30 penyakit baru atau yang muncul kembali dalam tiga dekade terakhir, jenis ledakannya beberapa ahli mengatakan belum pernah terjadi sejak Revolusi Industri yang membawa massa di kota-kota besar." Lihat Struck, Doug, "Perubahan Iklim Memicu Penyakit ke Wilayah Baru," The Washington Post, 5 Mei, 2006, diakses 8 Oktober, 2010. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2006/05/04/AR2006050401931.html.

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Crisis2Peace.org