|
Vegan Organik, Kurangi Emisi Cegah Perubahan Iklim Pola makan vegan organik dapat mengurangi
emisi karbon penyebab perubahan iklim. Untuk itu vegan organik bisa
menjadi satu bagian upaya pencegahan perubahan iklim. Vegan organik adalah pola makan nabati tanpa
produk yang berasal dari hewan, yang diproduksi dengan sistem yang
mendukung kesehatan tanah, ekosistem dan manusia. Apabila di seluruh dunia menerapkan pola yang
sangat ramah lingkungan ini, maka 40% CO2 di atmosfer akan terserap,
yang berarti proses pembalikan pemanasan global dapat dilakukan dengan
sangat cepat. Data statistik Institute for Ecological
Economic Riset di Jerman menyebutkan bahwa seorang pemakan daging dalam
setahun menghasilkan karbon sama dengan mengendarai mobil sejauh 5000 km
setahun. Sementara orang dengan pola makan vegetarian menghasilkan
karbon jauh lebih kecil (setengahnya), yaitu 2427 km setahun, pola makan
vegan menghasilkan karbon sama dengan mengendarai mobil sejauh 627 km
setahun dan pola makan vegan organik menghasilkan karbon 281 km setahun. Yang terpenting saat ini adalah apa yang bisa
kita lakukan untuk turut mencegah perubahan iklim yang dampaknya sudah
semakin nyata. Pola makan yang kita terapkan juga sebuah pilihan untuk
berpartisipasi dalam pencegahan perubahan iklim. Menurutnya, pola makan vegan organik juga
bisa menghemat air. Dengan menerapkan pola makan vegan organik hanya
membutuhkan air 98 galon air untuk menghasilkan sepiring produk ini.
Mulai dari penanaman hingga penyajian vegan organik. Sedangkan untuk
menghasilkan 250 gram steak membutuhkan air jauh lebih besar, yaitu 1200
galon air. Mulai dari proses pemeliharaan sapi hingga penyajian
dagingnya menjadi steak. Laporan PBB (Food and Agricultural Organization, FAO) pada 2006 yang berjudul €œLivestock Longshadow€ menyebutkan bahwa sektor utama yang menyumbang pemanasan global sebesar 18% adalah sektor peternakan, jauh melebihi sektor transportasi seluruh dunia digabungkan (13%). Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr.
Gidon Eshel dan Dr Pamela Martin menunjukkan, seorang yang mengubah pola
makan daging menjadi pola makan nabati dengan standar Amerika akan
menghemat 1,5 ton CO2 tiap tahunnya. Selain itu pada saat ini terjadi
ketidakseimbangan pendistribusian pangan. Sebagai contoh, 74% kedelai
digunakan untuk penggemukan ternak, sedangkan yang langsung dikonsumsi
manusia hanya 26%. Pada tahun 2009 ini FAO menyebutkan bahwa sekitar
1,02 milyar orang menderita kelaparan. Berdasarkan fakta tersebut,
segala upaya untuk menghentikan pemanasan global dan krisis ketersediaan
pangan perlu dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dunia. Sebagai negara pertanian, Indonesia dapat sangat berperan membantu kesejahteraan masyarakat, mengurangi jumlah kelaparan dunia dan menyelamatkan bumi melalui sebuah sistem pertanian yang berkelanjutan dan sangat ramah lingkungan, yaitu vegan organik. Tema vegan organik sangat perlu diketengahkan
dan dipublikasikan agar kebijakan para pemimpin bangsa lebih terarah
demi kelestarian bumi dan kesejahteraan masyarakat dunia. Sehat dan Ramah Lingkungan Selain itu, pola makan vegan organik juga
bisa bermanfaat dalam pengurangan risiko penyakit dalam berbahaya
seperti kanker. Menjelang pertemuan ilmuwan iklim di seluruh dunia atau yang kita kenal dengan IPCC ke-31 di Nusa Dua, Bali pada 26 Oktober 2009, diharapkan semua peserta dari berbagai kalangan bisa menawarkan dan berbagi sebuah solusi bagi masalah lingkungan hidup yang kita hadapi di bumi saat ini. http://www.beritabumi.or.id/?g=beritadtl&newsID=B0198&ikey=1
|
||||
|
|
||||